Monday, February 5, 2018

Call Me Mother Episode 4

Raja Sinopsis – Greget Soo Jin melarikan Hye Na dari Ja Young makin terlihat di episode ketiga. Setelah kehabisan uang gara-gara nyonya penipu, dia memutuskan pergi ke Young Shin tanpa diminta. Apa yang diinginkan Soo Jin?



Call Me Mother Episode 4



Jae Beom sudah di Islandia, dan belum juga menemukan tanda-tanda kemunculan Soo Jin. Young Shin menyuruhnya menunggu di sana sampai Soo Jin datang. Mendadak, dia terkejut karena Soo Jin datang sendiri ke hadapannya tanpa diundang. “Jae Beom... pulanglah ke Korea saat penerbangan berikutnya. Soo Jin sudah ada di hadapanku.”

Young Shin speechless melihat Soo Jin tiba-tiba muncul di hadapannya. Tak tahu harus memulai dari mana. Soo Jin sendiri memilih langsung mengutarakan alasannya menemui Young Shin. “Aku ingin meminta bantuan. Aku butuh uang,” katanya, “10 juta Won.”

“Kau sakit?” tanya Young Shin, “Atau kau menyebabkan masalah? Padahal kau tak pernah minta uang padaku walau 10.000 Won saja dan kau bersikeras membiayai dirimu sendiri. Apa yang terjadi sekarang sampai kau datang padaku meminta uang?”

Soo Jin meminta Young Shin tidak bertanya macam-macam. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Young Shin mengambil segepok uang dari brankas. Dia meletakkannya di meja, lalu mengatakan, “Ada syaratnya. Kita bertemu sebanyak 10 kali. Setiap kali kau bertemu denganku, maka kuberikan satu juta Won. Bagaimana?”


Hye Na cekikikan menonton film kartun yang disetel pemilik salon. Sejurus kemudian, dia mengatakan bahwa ibunya (Soo Jin) pasti akan kembali menemuinya. Dia yakin itu. Terdengar suara bel pintu salon dibunyikan. Dia mengira Soo Jin kembali. Sayangnya, orang yang membunyikannya itu pelanggan salon yang ingin memotong rambut. Dia terlihat murung.

Young Shin menghubungi dokternya, meminta jadwal kemoterapi. Yap, dia siap menjalankan pengobatannya.

Soo Jin akhirnya kembali ke salon. Hye Na terlihat ceria kembali, seraya mengaku bahwa dirinya menunggu Soo Jin pulang. Soo Jin mengerti, lalu mengajak Hye Na ke tempat penginapan baru. Kali ini, berkat suntikan dana dari Young Shin, mereka akan menginap di hotel.


Bak five monkey jump on the bed, Hye Na lompat-lompat ceria di atas kasur. Soo Jin cuma bisa tersenyum melihatnya, lalu pergi mandi. Selesai mandi, dia tidak menemukan Hye Na ada di dalam kamar. Dia mencari-cari Hye Na. Tiba-tiba saja Hye Na muncul dari dalam lemari. Itu membuat jantung Soo Jin terkejut, sementara Hye Na tertawa cekikikan.

Young Shin memberitahu Yi Jin tentang kedatangan Soo Jin. Sontak Yi Jin, dengan mimik agak kesal, berseru: “Selama ini dia di mana?”

Young Shin mengatakan bahwa dirinya, Soo Jin, Yi Jin akan makan malam bersama besok. Tapi, dia mengingatkan agar Yi Jin tidak bertanya macam-macam, terutama tentang rencana Soo Jin. “Oiya, jangan beritahu dia kalau Ibu terkena kanker,” pintanya, “... Bahas soal kau sudah menikah saja, soal kau hampir mati melahirkan anak kembar, soal ibu mertuamu aneh, kucing yang kau besarkan, atau … soal kau hampir bercerai tahun lalu.”


Ye Eun membuka paket dari Soo Jin. Dia melihat foto bukti-bukti kekerasan fisik Hye Na dan membaca surat dari Soo Jin. Dia mencari sesuatu di laci meja Soo Jin, dan menemukan berkas-berkas konsultasi Hye Na terhadap wali kelas sementaranya (Soo Jin).

Soo Jin berniat ngontrak rumah selama dua bulan. Lokasi rumah itu cukup strategis karena berada di seberang kantor polisi. Sayangnya makelar persewaan rumah menolak, lantaran minimal ngontrak rumah itu tiga bulan. Dia menyarankan Soo Jin mencari asrama saja.


Ye Eun mengundang Pak Detektif untuk menunjukkan surat Hye Na yang mensinyalir keinginannya bunuh diri. Padahal, surat itu ditulis oleh Ye Eun sendiri memakai tangan kiri (supaya terlihat seperti tulisan anak-anak).

Pak Detektif tidak percaya Hye Na bunuh diri. Tapi Pak Asisten merasa hal itu mungkin saja, mengingat “surat Hye Na” menunjukkan kecenderungan ke arah itu. Untuk menambahkan efek, Ye Eun memperlihatkan kartu konsultasi yang diambilnya dari arsip guru wali kelas sementara Hye Na untuk menambahkan bukti Hye Na mengaku pernah disiksa mamanya sendiri.


Ja Young membereskan semua barang Hye Na. Memasukkannya ke kantong plastik. Seol Ak muncul, dan tampak heran melihat Ja Young belum juga tidur.

“Kalau aku cuma diam saja, aku bisa gila,” sahut Ja Young. Dia terdiam sebentar. Air matanya meleleh. Tampak jelas bila dirinya gelisah akan permasalahan ini. “Harusnya aku tak melahirkannya. Aku harusnya tak melahirkannya! Tapi aku ... kenapa aku melahirkannya?” Dia meminta Seol Ak memeluknya. Seol Ak memeluk Ja Young. Pada saat itu, secara tidak sengaja, dia melihat buku catatan benda-benda favorit milik Hye Na.

Soo Jin mengingatkan Hye Na tentang ini-itu, paling utama diantara semua itu adalah jangan membuka pintu untuk siapapun. Dia akan pulang tepat selepas makan malam. Hye Na tersenyum, tanda dirinya mengerti, dan meminta Soo Jin meninggalkannya tenang.

Ditemani Seol Ak, Ja Young mengungkapkan, “Sebenarnya, menurutku, alangkah baiknya jika dia mati saja. Tapi, Oppa, entah kenapa hatiku terasa hancur? Ini sangat menyakitkan.”

Soo Jin pun tiba di rumah Young Shin. Dua anak kembar Yi Jin berlari-larian. Young Shin mengenalkan mereka berdua pada Soo Jin. “Nama mereka Tae Hoon dan Tae Mi,” katanya. Keduanya menyapa Soo Jin. Soo Jin balas menyapa.

Tak lama, Hyun Jin muncul. Melihat kedatangan Soo Jin, dia langsung menyapanya. Tidak seperti Yi Jin, adiknya terlihat sangat senang melihat kedatangan Unni Soo Jin. Kemudian, Soo Jin menyapa Young Shin. Dari arah dapur terdengar suara Yi Jin. Dia muncul, meski wajahnya terlihat jutek, dan meminta maaf tidak bisa menyambut kedatangan Soo Jin karena sedang masak kepiting rebus.

Makanan sudah tersaji di meja makan. Hyun Jin tak makan banyak, karena harus berangkat. Dia berpamitan kepada semua orang. Young Shin tersenyum melihat tingkah anak bungsunya yang sekarang telah bekerja sebagai reporter.


Soo Jin mencicipi makanan buatan Yi Jin. Enak. Dia memujinya. Yi Jin berterima kasih, lalu bertanya pada kedua anaknya apakah sudah menyapa bibi besarnya atau belum? “Kalau dia dipanggil Bibi Besar, kukira dia badannya besar. Tapi dia ternyata tidak sebesar itu! Dia malah mirip Bibi Hyun Jin,” tukas Tae Hoon. Mulai dari situlah obrolan tentang anak kembar Yi Jin mengalir tak henti-henti.


Seol Ak mengambil buku catatan benda-benda favorit milik Hye Na. Dia membacanya.

Di sisi lain, Hye Na bosan, lalu memutuskan masuk ke dalam lemari. Disana, dia menuliskan benda-benda favorit barunya.

Tae Hoon dan Tae Mi memperlihatkan kebisaan mereka pada Soo Jin. Tampak Soo Jin gelisah.

Di kamar, Hye Na mendengar ada suara langkah kaki masuk. Dia mematikan senter, membuka lemari, mengambil sepatu, lalu berlari kabur keluar.

Soo Jin pamit undur diri.


Soo Jin dan Hye Na selisipan jalan. Soo Jin ke arah balik. Hye Na ke arah jalan lain.

Ketika tiba di dalam kamar, Soo Jin langsung memanggil-manggil nama Hye Na. Dia tak menemukannya. Itu membuatnya khawatir. Dia membuka lemari dan menemukan buku catatan Hye Na yang isinya memberitahu kalau dirinya pergi ke salon lagi. Dia bergegas.

Soo Jin tiba di salon. Dan benar, dia menemukan Hye Na disana. Dia mengajak Hye Na pulang sembari meminta maaf kepada Bibi salon. Hye Na minta diizinkan ke kamar mandi. Saat itu, Bibi salon mengajak Soo Jin bicara di luar, memintanya tidak meninggalkan Hye Na sendirian.


“Dia tidak kemari untuk menonton film kartun. Dia bahkan tidak mengenakan pakaian yang layak dan bibirnya berwarna biru dan dia menggigil saat berlari ke sini,” kata Bibi salon, “... Dia masih terlalu kecil untuk ditinggal sendirian malam-malam.”

Soo Jin mengucapkan terima kasih atas informasi tersebut. Hye Na muncul. Mereka pun pulang. Soo Jin memberikan mantelnya untuk dipakai Hye Na. Saat itu, Hye Na memberitahu jika tadi di kamarnya ada orang yang ingin menangkapnya. Soo Jin tersenyum, sembari memberitahu jika orang yang muncul itu adalah roomkeeper.


Pak Detektif dan Pak Asisten Detektif menonton rekaman CCTV yang memperlihatkan Ja Young dan Hye Na di sebuah supermarket. Hye Na tak sengaja menabrak display susu sampai berantakan kemana-mana. Tapi, Ja Young tampak mengacuhkannya.

Pak Detektif meminta rekaman CCTV dari lorong rumah sakit dan tangga di jalan. Tidak ada CCTV di lorong itu. Kita juga sudah memeriksa CCTV dkekat tangga,” sahut Pak Asisten Detektif.


Soo Jin menanyakan perasaan Hye Na ditinggal sendirian tadi. Apakah takut? Hye Na mengaku tak takut sama sekali. Dia meminta Soo Jin tak usah meminta maaf. Soo Jin kemudian mengingatkan Hye Na untuk tidak terlalu sering ke tempat Bibi salon. Lagi-lagi, dia menekankan bahwa mereka sedang dalam pelarian. Hye Na mengiyakan.

“Tapi, kau tahu perkalian?” tanya Soo Jin. Sepertinya dia terintimidasi dengan kemampuan anak-anak Yi Jin tadi. Ha. Hye Na mengiyakan, lalu mulai menghitung kali-kalian dari angka 1 - 10.

Bibi salon masih terlihat misteri. Siapa dia? Dia masuk ke salah satu bagian ruang salonnya. Disana ada perabotan yang tertutupi kain putih. Dia menyibaknya.


Keesokan harinya, Soo Jin kembali akan menemui Young Shin. Dia berjanji takkan pulang telat lagi, dan akan menggantungkan tulisan “Dilarang Masuk” agar tak ada roomkeeper yang berani masuk kamarnya. Hye Na mengangguk, lalu terbatuk-batuk. Kemudian, dia meminta Soo Jin segera berangkat.

Soo Jin pun datang ke sebuah butik besar, dimana Young Shin sudah menunggu bersama Jae Beom dan Sekretaris Yo. Melihat kedatangan Soo Jin, spontan Jae Beom menanyakan keberadaan Soo Jin selama ini. Young Shin memegang tangan Jae Beom, lalu membelokkan pembicaraan dengan meminta Sekretaris Yo menunjukkan koleksi yang dimiliki butik.


Soo Jin keluar kamar ganti dengan gaun cantik. Semua orang memujinya, membuat Soo Jin menggerutu bahwa dirinya tak membutuhkan pakaian mahal itu. Young Shin meminta Sekretaris Yoo mengeluarkan koleksi terbaiknya. Dia akan membelikan semuanya untuk Soo Jin, karena khawatir tak bisa membelikannya dalam waktu 10 tahun ke depan.

Ketika Young Shin meminta Sekretaris Yoo menunjukkan koleksi musim seminya, Soo Jin menahan langkah Jae Beom. Dia minta bantuan Jae Beom untuk pertama kali. Jae Beom mau dimintakan bantuan. Hanya saja, dia mengingatkan Soo Jin agar tidak meminta bantuan menyakiti orang lain dan kabur tanpa pernah pulang lagi. “Kalau bantuan yang menjurus hal il*gal bagaimana, bisa kan?” tanya Soo Jin.


Ja Young frustasi berat. Dia menenggak berbutir-butir pil, entah pil apa. Kemudian, dia bak orang id*ot. Bengong. Tiga orang polisi, dipimpin oleh Pak Detektif, mendatangi rumahnya. Mereka akan menahan Ja Young atas tuduhan penganiayaan anak. Ketika Ja Young digelandang ke dalam mobil, Seol Ak datang. Ja Young dan Seol Ak sempat berpandang-pandangan.

Soo Jin tergopoh-gopoh membawa belanjaan yang banyak. Bersama Young Shin dan Jae Beom, dia pergi ke sebuah hotel (atau mungkin restoran) untuk menemui seseorang. Dan orang itu bernama Dokter Jung Jin Hong.


Young Shin memperkenalkan Jin Hong sebagai dokter langganan yang jarang dikunjunginya. Dia memperkenalkan Soo Jin sebagai putrinya. Jin Hong tampak senang melihat Soo Jin. Dia bahkan langsung memuji kecantikan alamiah Soo Jin, “Anda tidak menceritakan betapa cantiknya dia.”

Kata-kata itu dinilai Young Shin sebagai kode untuk menyingkir. Sebagai wanita yang sudah memakan banyak asam garam, dia tahu harus bertindak bagaimana. Dia berpura-pura ada syuting tambahan, lalu pamit kepada mereka berdua. Sebelum pergi, dia mengingatkan Soo Jin untuk tersenyum.


Setelah Young Shin pergi, Soo Jin tidak menunjukkan keramah-tamahannya. Tanpa basa-basi, dia memberitahu Jin Hong bahwa dirinya tidak ingin mereka berdua tambah akrab. Juga, dia harus pergi karena ada seseorang yang sedang menunggu kedatangannya. Jin Hong minta izin mengantar keluar, tapi Soo Jin menolaknya dengan keras.

Young Shin tidak ada syuting tambahan. Dia menuju ke rumah sakit untuk persiapan kemoterapi besok. Dia menyandarkan kepalanya di jok mobil, menyatakan kelelahannya.

Soo Jin tergopoh-gopoh membawa belanjaan yang seabrek-abrek itu. Di saat seperti itu, Jin Hong muncul dengan mobil dan menawarkan tumpangan.


Dalam perjalanan, Jin Hong sedikit membuka diri dengan mengatakan bahwa dirinya menyukai burung sejak kecil. Hobi yang cocok dengan Soo Jin. Ha. Dia pun menyetel suara kicau burung. Soo Jin langsung menebak. “Itu suara burung mockingbird,” katanya, “Mungkin itu burung jantan yang sedang menggoda si betina. Dia duduk di cabang tinggi dan sedang mendeklarasikan kepemilikan rumputnya.”

Jin Hong merasa senang ada kawan bicara tentang burung. “Sama seperti kau, aku ingin kuliah tentang burung. Dan keliling dunia. Tapi, aku tak berani... mengecewakan orang tuaku.” Pintar betul ya para sineas Korea memasukkan unsur romantisme disini, :D.


Di dalam kamar, Hye Na menonton berita TV tentang penangkapan Ja Young atas dugaan penganiayaan.

Jin Hong masih mengoceh soal dirinya, tatkala Soo Jin memintanya menghentikan mobil. Dia akan turun.


Soo Jin berterima kasih. Jin Hong memberikan secarik kertas berisi nomor telpon dirinya. Berharap Soo Jin sudi menelpon dirinya.

Dalam berita TV, Ja Young mencak-mencak kepada awak media. Dia tampak marah, merasa diperlakukan tak adil. Hye Na diam menatap semua itu. Ketika datang, dan melihat Hye Na sedang nonton berita TV, Soo Jin langsung mematikan TV. Dia meminta maaf datang terlambat.

Hye Na memeluk Soo Jin, lalu muntah. Soo Jin terlihat panik. “Kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

Soo Jin membasuh wajah Hye Na sampai bersih di kamar mandi. “Apa mamanya Hye Na sangat marah?” Hye Na bertanya.


“Orang itu bukan ibumu. Dan kau juga bukan Hye Na. Kau Yoon Bok. Dan ibunya Yoon Bok itu aku,” tegas Soo Jin.

“Tapi, bagaimana jika orang-orang menangkap ibunya Yoon Bok juga?” Hye Na bertanya dengan polos. Soo Jin terdiam tak menjawab.


Eun Cheol menonton berita penangkapan Ja Young di TV. Di lain tempat, Seol Ak juga sedang mendengar berita radio tentang penangkapan Ja Young. Dia tampak kesal.

Tengah malam, Soo Jin terbangun kala mendengar suara racauan Hye Na yang demam. Dia memanggil-manggil Hye Na, tapi Hye Na terdiam. Dia pun menghubungi pihak hotel. Dan malah disuruh pergi ke rumah sakit. Tentu saja Soo Jin tak bisa membawa Hye Na ke rumah sakit.

Soo Jin panik, tapi dia menekankan diri sendiri untuk tetap fokus. Dan tebak siapa yang dia telpon? Dokter Jin Hong. Sudah kuduga.

Jin Hong datang. Melihat Hye Na, dia langsung menyuruh Soo Jin untuk melepas jaketnya. “Namanya?” tanyanya.

“Kim Yoon Bok,” ucap Soo Jin.


Jin Hong segera memeriksa Hye Na, dan menyimpulkan jika Hye Na menderita radang tenggorokan. Dia menyarankan Soo Jin membawa Hye Na ke UGD bila peradangan makin parah. Dia kemudian memerintahkan Soo Jin mengisi bak mandi dengan air panas untuk mengompres Hye Na.

Kondisi gawat Hye Na sudah lewat. Jika tidak ada apa-apa, Jin Hong mengatakan, “Demamnya akan turun dan batuknya akan mereda setelah 30 menit. Tapi, udara di ruangan ini terlalu kering. Pergilah ke resepsionis, dan mintalah pelembab udara.” Soo Jin menuruti apa yang Jin Hong perintahkan.


Seperginya Soo Jin, Hye Na mulai sadar. Jin Hong memanggil-manggilnya, dan memerintahkannya menyebut namanya sendiri dan nama ibunya. Tentu saja, Hye Na secara tidak sadar menyebutkan bahwa namanya adalah Kim Hye Na dan mamanya adalah Shin Ja Young. Jin Hong terkejut.

Meski begitu, Jin Hong tak mengatakan apa-apa, bahkan ketika Soo Jin kembali. Dia mengharuskan Hye Na untuk dirawat di rumah sakit, khawatir jika radangnya Hye Na bertambah parah menjadi pneumonia atau bronkitis akut. Soo Jin terdiam. Tanda dia tak mau membawa Hye Na ke rumah sakit.

“Apa ada alasan kenapa kau tidak bisa membawanya ke rumah sakit?” tanya Jin Hong. Soo Jin tetap diam. Sehingga Jin Hong memutuskan menyuruh Soo Jin ke rumah sakitnya untuk mengambil obatnya. “Pastikan diminum,” tegasnya, “Aku akan menghubungimu tiga hari lagi.”


Sebelum pergi, Jin Hong memberitahu jika dirinya tinggal sendirian dan ada tiga ruangan di rumahnya. Secara tidak langsung, dia meminta Soo Jin untuk tinggal di tempatnya – kalau berkenan. “Aku berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam,” katanya. Tapi Soo Jin tetap diam. Jadi, Jin Hong hanya meminta Soo Jin untuk menghubunginya jika butuh apa-apa.

Begitu balik badan, Soo Jin memanggil, “Dokter...”

“Kau mau berterima kasih kan?” Jin Hong bertanya dengan PD. Dia mengangguk, dan pergi meninggalkan Soo Jin.


Pak Detektif dan Pak Asisten heran bagaimana mungkin Ja Young belum bangun juga, padahal sudah tidur selama 20 jam. Seolah-olah Ja Young habis menenggak sebotol penuh obat tidur. Itu membuat penyelidikan tidak bisa dilakukan.

“Pria yang tinggal sama dia dimana? Apa kau sudah menemukannya?” tanya Pak Detektif. Yang dijawab oleh Pak Asisten jika Seol Ak belum menjawab telpon darinya sejak penangkapan.

Soo Jin datang ke salon, menitipkan Hye Na pada Bibi salon. Bibi salon setuju.


Sepeninggalnya Soo Jin, Hye Na menyeringai pada Bibi salon. “Akhirnya aku tahu apa suara itu. Gemerincing... Gemerincing... gemerincing... itu,” katanya. Bibi salon membuka jasnya dan disana banyak terdapat kunci-kunci.

“Pasti Bibi selalu ketahuan main petak umpet karena suara itu,” tukas Hye Na, membuat Bibi salon itu tersenyum.

Soo Jin datang ke rumah Young Shin. Yi Jin menghalanginya bertemu ibunya, dengan mengatakan Young Shin sedang beristirahat. Peduli setan. Soo Jin tetap melangkah menuju kamar Young Shin. Membuat Young Shin terkejut dengan kemunculan putri angkatnya itu.


Melihat Young Shin, Soo Jin tanpa tedeng aling-aling meminta uang pinjamannya segera diberikan. Dia berjanji akan melunasinya. Dia tak ingin dipermainkan lagi, menyesuaikan hidupnya dengan hidup Young Shin lagi.

Yi Jin merangsek masuk ke kamar. Mengatakan Soo Jin adalah anak egois. Pergi tanpa kata. Pulang kalau hanya butuh. “Apa kau tahu betapa menyedihkannya Ibu dan betapa dia merindukanmu. Dia menderita kanker, padahal sangat takut dengan rumah sakit, kemoterapi, dan operasi? Sekarang, kankernya kambuh, dan ini pun sangat berat bagi kita semua! Tapi, kau pergi dan melakukan sesukamu?!” Yi Jin nyerocos tanpa jeda.

Young Shin meminta Yi Jin keluar kamarnya. Dia menyuruh Soo Jin duduk di dekatnya. Soo Jin masih shock mendengar kata-kata Yi Jin. “Ibu menderita kanker?” tanyanya dengan air mata mengalir deras, “Kenapa Ibu tidak memberitahuku?”


“Ibu tidak terkena kanker karena kau,” ucap Young Shin, “Ingat bagaimana ibuku meninggal dunia karena kanker payudara sewaktu Ibu kelas 2 SMA? Aku sangat marah saat itu. Aku merasa seolah-olah dia sengaja meninggalkanku. Dan setelah itu, aku bertekad untuk tidak pernah terkena kanker. Takut kalian semua anakku akan marah.”

Young Shin memberitahu jika kanker yang dideritanya sekarang merupakan kanker yang muncul lagi dari kanker yang berhasil ditanganinya tujuh tahun silam. Waktu itu, dia berani menjalani kemoterapi dan operasi. Dia yakin, Soo Jin-nya akan kembali suatu saat nanti. Sekarang? Dia mengaku takut. Takut tidak bisa mengalahkan penyakitnya dan takut tak akan bisa bertemu Soo Jin lagi karena tidak tahu keberadaannya.

“Ibu takut mati di sini sendirian,” katanya, “Maukah kau tinggal bersama Ibu?”

Soo Jin mau. Hanya saja, sepertinya dia memilih untuk pergi – melarikan Hye Na dari cengkeraman Ja Young dan Seol Ak.

Young Shin paham. Itulah kenapa dirinya ingin bertemu Soo Jin sebanyak 10 kali sebelum Soo Jin pergi lagi. Dia juga meminta Soo Jin untuk menyenangkan dirinya, dengan memakai baju yang dipilihkannya. Dia juga mengatakan tentang Jin Hong bukanlah tipe pria yang disukainya untuk dijadikan menantu karena workaholic. Dia meminta Soo Jin pergi, dan mengingatkannya untuk tidak menghitung hari itu sebagai hari pertemuan dari 10 kali pertemuannya.


Ketika menganalisis rekaman CCTV yang memperlihatkan Hye Na berjalan menuju pantai, Pak Detektif masih merasa janggal, jika Hye Na bunuh diri di pantai itu. Meskipun Pak Asisten dan Ye Eun merasa itu mungkin.

“Menurutku, Hye Na ini mengucapkan salam perpisahannya: 'Selamat tinggal, kalian. Jaga dirilah,'” kata Ye Eun.

Pak Detektif menegaskan jika benar Hye Na bunuh diri, maka ada 90% kemungkinan tubuhnya akan ditemukan. “Tapi aku tidak bisa menyerah akan kemungkinan 10 persen itu. Sebagai contohnya: Bisa saja tetangga sebelahnya atau guru sekolahnya menculiknya. Mungkin saja, si guru peneliti burung itu?”

Ye Eun menggeleng. Dia meyakinkan Pak Detektif jika Soo Jin bukan tipe orang yang akan melakukan hal itu. Pun Soo Jin tidak menyukai anak-anak.

Soo Jin kembali ke salon. Bibi salon memberikan kunci dan memberitahu jika Hye Na ada di lantai 3.


Di lantai 3, Soo Jin menemukan Hye Na tengah terlelap di lantai 3. Dia tidur menghadap Hye Na, dan merasa tenang.

Seol Ak membeli beberapa peralatan tukang, termasuk tali tambang dan sekop. “Haruskah kita pergi main petak umpet?” begitu gumamnya sewaktu memasukkan peralatan itu ke mobil. Wuaduh... apa yang akan menimpa Hye Na ya?

Bersambung ke Call Me Mother Episode 5.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Call Me Mother Episode 4

0 komentar:

Post a Comment