Saturday, February 3, 2018

Call Me Mother Episode 3

Raja Sinopsis – Well, well, well... nggak kerasa ya sudah masuk episode 3 aja ya drakor satu ini. Setelah nonton episode 1 dan 2 sebelumnya, aku jadi tambah semangat mau nonton episode berikutnya. Dan seperti sudah kuduga, episode ketiga ini bikin kita tambah tahu tentang latar belakang Soo Jin dan kira-kira apa yang akan dilakukan Seol Ak. Ah, kebanyakan cerita langsung aja...




Call Me Mother Episode 3


Soo Jin akan mengajak Hye Na ke panti asuhan tempat dirinya tinggal antara usia 6 sampai 8 tahun. Apakah panti itu masih ada? Meski tak yakin, Soo Jin menarik kesimpulan panti itu masih ada karena Bu Clara mengiriminya surat tahun kemarin.

Soo Jin menggambarkan Bu Clara sebagai pengelola panti, yang cukup subur badannya dan selalu berbusana gaun lebar dan mengembang. Dia dan anak-anak panti lainnya acap bersembunyi didalam rok Bu Clara tiap kali main petak umpet.

“Bu Clara menyukai anak-anak yang gemar makan...” kata Soo Jin, “Ibu selalu mengira kalau dia sengaja membuat kami gemuk untuk dijual...” Hye Na tersenyum mendengar cerita Soo Jin.


Soo Jin dan Hye Na tiba di depan panti. Tak seperti yang dibayangkan, kondisi panti yang ada di hadapan mereka sangat mengenaskan. Lebih mirip rumah hantu.

Di depan pagar tertulis jelas: Panti telah ditutup. Dilarang masuk!

Pun demikian, Soo Jin dan Hye Na tetap memasuki pagar panti tersebut. Hye Na memekik, “Aku lihat ada cahaya disana!”

Ja Young ada di kantor polisi untuk dimintai keterangan lanjutan oleh Pak Detektif. “Menurut rekam medis tanggal 21 Desember Hye Na terkena bola bisbol sehari sebelumnya dan telinganya berdarah serta mengalami memar di tulang pipinya. Benar demikian?” tanya Pak Detektif. Ja Young mengiyakan.


Pak Detektif pun menunjukkan rekaman CCTV tanggal 20 Desember di tempat Hye Na dinyatakan terkena lemparan bola bisbol. Setelah dilihat aktivitas seharian itu tak ada satu pun gambar yang menunjukkan Hye Na terkena bola bisbol di jalanan. Yang ada malah gambar Ja Young dan Seol Ak pergi malam-malam. Pak Detektif bertanya, “Dari rekaman yang kulihat ini, aku tidak ada lihat pria ini (Seol Ak) memasuki rumahmu. Jadi seharian itu, dia ada di rumah. Sepertinya kalian berdua tinggal bersama dan sepertinya juga suka bisbol. Kau juga terekam kamera disini, tepat pukul 1 dini hari. Kau pergi kemana saat itu, Bu?”

Pertanyaan itu membuat Ja Young gelagapan. Dia menjawab sekenanya, “Aku pergi ke karaoke waktu itu.”

Jawaban yang dinilai konyol oleh Pak Detektif, tapi dia melanjutkan dengan menunjukkan rekaman CCTV tanggal 21 Desember. Dimana, Hye Na tampak baik-baik saja ketika pulang ke rumah, tapi telinga sakit ketika keluar dari rumah.

Ja Young tak kehilangan akal dalam menjawab pertanyaan itu. Dia menyebutkan Hye Na memang terluka sejak sehari sebelumnya, tapi tak dirasakannya. Selang sehari baru Hye Na mengalami infeksi serta pendarahan. Untuk mengalihkan pertanyaan, dia bertanya bagaimana cara Pak Detektif bisa menyimpulkan suatu hal melalui rekaman CCTV yang gambarnya tidak jelas. Toh, dia sendiri tidak bisa melihat jelas kondisi Hye Na didalam rekaman.

“Ibu. Makanya, jika kau memberi tahu kami di mana dan kapan Hye Na terkena bola bisbol. maka kami bisa mencarikan saksi. Dan kau, Bu...” Ja Young memotong ucapan Pak Detektif, menyuruhnya berhenti memanggilnya dengan sebutan “Ibu”. Dia tak nyaman dengan sebutan itu. Pak Detektif membenarkan. Dia juga merasa tak nyaman bila dipanggil dengan sebutan “Ayah” oleh sembarang orang. Takut orang itu meminta uang jajan darinya, katanya bergurau.


Soo Jin dan Hye Na masuk ke dalam rumah. Diluar dugaan, mereka justru menemukan Bu Clara yang sedang mengorek-ngorek sisa nasi di dalam rice cooker. Bu Clara memekik, meminta keduanya untuk tidak melaporkan dirinya ke pihak berwajib. Soo Jin berniat menyalakan lampu untuk memberitahu Bu Clara bahwa orang yang datang adalah dirinya. Tapi Bu Clara melarangnya, sebab khawatir ada orang yang tahu mereka disini.

Pak Detektif bertanya, “Menurut sepenglihatanku, sepertinya pacarmu suka bisbol. Apa memang dia bermain bisbol?” Ja Young teringat pesan Seol Ak agar menangis jika kondisi tak terkendali. Tanpa tedeng aling-aling dia bertanya apa pertanyaan Pak Detektif menuding Seol Ak-lah yang telah melempar bola bisbol ke arah Hye Na. Air mata buaya melelehi pipi Ja Young. Dia menyebutkan Seol Ak itu pria yang jauh lebih baik dibandingkan bapak kandungnya Hye Na.


Pak Detektif menyodorkan tisu pada Ja Young, seraya memintanya tenang. Akan sangat sulit mendapatkan keterangan bila Ja Young kehilangan kontrol emosinya. Toh masih banyak hal yang akan ditanyakannya – seperti cedera Hye Na jatuh dari tangga, terpapar air kopi panas, jatuh dari pohon, dll.

Soo Jin membuatkan makanan untuk dirinya, Bu Clara, dan Hye Na. Setelah mereka berdoa dan semua tersaji di meja makan, Hye Na bertanya, “... Bu Clara, siapa yang ingin menangkap Ibu?” Bu Clara malah menanggapinya dengan melakukan permainan kata.


Sembari membaca berita di internet, Ja Young mengeluh dirinya terus-menerus diinterogasi oleh pihak polisi dan dipanggil “Ibu”. Seol Ak mencemooh, “Bilang saja kalau kau merasa terancam, dimana polisi akan membuatmu menjadi seorang ibu yang jahat!” Dia melempar-lempar bola bisbol.

Asisten Pak Detektif membacakan daftar kejahatan yang pernah Seol Ak lakukan – dari usia 16 tahun sampai 23 tahun. Namun sekurun waktu 8 tahun terakhir, Seol Ak tidak memiliki catatan kejahatan lagi. Pak Detektif tak yakin Seol Ak berhenti dari kelakuannya – berj*di dan menyiksa orang lemah.


“Oiya, siapa yang dipukuli Seol Ak waktu usia 16 tahun?” tanya Pak Detektif. Asisten

“Nenek-nenek yang tinggal di lantai atas,” timpal Sang Asisten, “Dia memukulinya pakai pemukul bola bisbol yang mengakibatkan tulang rusuk Nenek itu patah.” Dari situ Pak Detektif menarik kesimpulan Seol Ak sangat menyukai bisbol. Apakah itu pertanda dia akan menangkap Seol Ak? Belum bisa dipastikan.


Soo Jin tidur seranjang dengan Hye Na, supaya bocah perempuan itu tak ketakutan mendengar suara burung hantu. Saat itu, dia bercerita bahwa anak-anak yang baru datang ke panti rata-rata menangis di malam hari.

Esok hari, Hye Na bermain boneka Matryoshka bersama Bu Clara di luar rumah. Soo Jin senang menatap hal itu, lalu pergi ke ruang data dan menemukan catatan tentang dirinya. Dalam catatan itu diceritakan bila, Soo Jin datang ke panti tanggal 9 November 1986. Bu Clara menemukannya terikat di pagar depan panti (sempat disinggung di episode 1).


Young Shin mendapat informasi dari Jae Beom yang menyebutkan bahwa dirinya sudah menelpon balai penelitian di Islandia dan diberitahu oleh staf disana kalau Soo Jin belum tiba di Islandia. Jae Beom berniat pergi kesana. Young Shin setuju, lalu mematikan telpon karena harus latihan.

Yi Jin menemukan laporan hasil uji radiologi Young Shin. Dia tampak terkejut.

Pak Detektif dimarahi atasannya, lantaran mencurigai Ja Young melakukan pelec*han dan kelalaian terhadap Hye Na. Gara-gara kecurigaan Pak Detektif, pihak kepolisian mendapatkan banyak kritikan dari netizen. Atasan Pak Detektif mengancam akan me-reshuffle tim investigasi, terutama Pak Detektif-nya sendiri.


Ja Young membaca-bacai kritikan yang dialamatkan ke laman website pihak kepolisian. Dia tampak senang semua orang membelanya. Seol Ak tampak tak peduli. Dia minta dibuatkan makanan. Ja Young dengan senang hati membuatkannya.

Soo Jin membeli beberapa barang dari minimarket dekat panti. Kasir menginformasikan alasan panti ditutup. Itu karena keponakannya Bu Clara, yang memasukkan Bu Clara ke panti jombo tahun lalu. Alasannya Bu Clara mulai pikun. Tapi alasan sebenarnya karena keponakannya Bu Clara ingin menjual tanah panti.

Sekembalinya, Soo Jin menemukan Bu Clara sedang memasak – ditemani Hye Na. Bu Clara mengingatkan Soo Jin untuk mencuci tangan (seperti iklan sabun ya?). Saat makan Bu Clara menceritakan kalau awal tinggal di panti Soo Jin itu orangnya suka berbuat onar. Sampai-sampai Soo Jin menolak makan. Tiba-tiba saja, Soo Jin jadi orang yang pendiam. “Benarkah itu?” tanya Hye Na pada Soo Jin. Tentu saja Soo Jin membenarkan. Dia beralasan kalau keonaran yang dibuatnya tak membuat Mama kembali untuk menjemputnya.

Pemberitaan tentang hilangnya Hye Na tampaknya masih menjadi isu hangat di dunia pertelevisian Korea. Hye Na tampak khusyuk menontonnya, terlebih ketika melihat Mamanya membuat pernyataan.

“Putriku, yang meninggal dengan cara yang menyedihkan masih menggigil di lautan yang dingin. Aku ingin jasadnya ditemukan secepat mungkin dan aku ingin dia cepat dimakamkan,” kata Ja Young.

Soo Jin muncul. Hye Na berbohong, mengatakan kalau Bu Clara-lah yang ingin nonton berita itu. “Jika kau ingin kembali pada ibumu, katakan saja,” ucap Soo Jin.

“Tak apa,” sahut Hye Na. Soo Jin tahu itu pasti bohong. Sebab, sewaktu dirinya ditinggalkan di panti, dia tetap masih ingin bertemu Mamanya.


Tangis Hye Na pecah. Dia mengaku hanya ingin tahu apakah Mamanya akan sedih bila mengetahui dirinya meninggal dunia. Tapi tampaknya itu sia-sia, sebab setelah menonton berita TV, dia jadi mengetahui kalau Mamanya tidak sedih. Yang ada Mamanya malah menginginkannya mati.

Detik berikutnya, kita melihat Soo Jin memotong rambut Hye Na lebih pendek. Dalam sebuah narasi, Soo Jin merasa khawatir apakah dirinya bisa melindungi Hye Na, apakah dirinya bisa menjadi mama baginya?


Soo Jin berdoa, merasa bimbang atas keputusannya. Bu Clara datang dan duduk di sebelah Soo Jin. Dia memberitahu jika dirinya juga pernah berdoa di tempat yang sama ketika Soo Jin pergi. Doanya pun sama. Dulu dia bertanya apakah keputusannya sudah benar, membiarkan Soo Jin diadopsi Young Shin. Sekarang, dia yakin benar kalau keputusannya itu benar. Itu membuatnya bahagia. Lebih-lebih sekarang, Soo Jin telah menjadi “Ibu”.

Soo Jin berniat memberitahu Bu Clara yang sebenarnya. Hanya saja, Bu Clara langsung memotong ucapannya, memberitahunya bahwa tugas seorang ibu itu macam terjangkit penyakit berbahaya yang sulit disembuhkan dan tidak bisa diatasi semua orang. Dia yakin Soo Jin akan mampu mengatasinya.

Bu Clara mengajak Soo Jin ke ruang penyimpanan. Dia memberikan baju dan rantai yang dipakai Soo Jin sewaktu datang ke panti dulu. Setelah itu, dia meminta bantuan Soo Jin untuk membakar seluruh barang-barangnya sebelum orang-orang datang ke tempat itu dan menghancurkan semuanya. Dia ingin pergi dari tempat itu selagi ingatannya masih ada.

Bu Clara, Soo Jin, dan Hye Na menatap barang-barang kenangan yang terbakar itu.


Seol Ak sedang main game. Kilatan-kilatan ucapan Ja Young soal Hye Na melintas di benaknya. Itu membuatnya gusar.

Pak Detektif menonton lagi rekaman CCTV, yang memperlihatkan jalur-jalur yang digunakan Hye Na. Dia mengungkapkan keheranannya pada sang asisten, “Aku tidak mengerti. Anak kecil seperti ini berjalan lebih dari satu jam tanpa suatu alasan dan berjalan seolah-olah dia punya navigasi GPS di otaknya. Menurutmu itu masuk akal? Melihatnya berhenti dan menatap langit seperti itu. Sepertinya dia melihat UFO atau hantu. Dan lihat, dia bahkan melambaikan tangannya. Apa mungkin pesawat?”

“Itu burung,” sahut sang asisten, “Burung yang sedang bermigrasi.” Pak Detektif ingat ucapan Pak Nelayan yang melihat Hye Na di pinggir laut. Dia pun segera menemuinya.

Pak Nelayan mengulangi lagi kesaksiannya, dimana dia menyuruh Hye Na pulang cepat sebab cuaca tak bersahabat. Eh Hye Na malah mengepak-ngepakkan tangan macam burung sambil minta diajak. Teman Pak Nelayan mengaku mendengar apa yang Hye Na katakan.


Asisten Pak Detektif coba menyimpulkan hasil penyelidikan: Mama Hye Na tak peduli Hye Na dan Seol Ak adalah pria yang menakutkan. Hye Na berkeliaran, hingga akhirnya mengikuti burung-burung selama lebih dari satu jam. Dan akhirnya jatuh ke laut.

Pak Detektif terdiam, masih ada sesuatu yang dipikirkannya. Tampaknya. Sang asisten melihat hal tersebut, dan bertanya, “Apa masih ada sesuatu yang mengganjal?”

Mereka berdua mendatangi sekolahan Hye Na. Disana, mereka mendapatkan informasi tentang guru pengganti yang bekerja sebagai peneliti burung. Pak Detektif dan Asistennya tertegun oleh informasi tersebut.

Soo Jin dan Hye Na berdiskusi tentang transportasi apa yang akan mereka naiki nanti – pesawat, kereta, atau bis. Bu Clara malah mengajak Hye Na melakukan permainan kata lagi. Dia mengatakan, “Gi-rin (jerapah).” Dan meminta Hye Na untuk mengatakan hewan apa yang memakai kata “rin” lainnya. Hye Na belum sempat menjawabnya.

Hye Na menanyakan tujuan mereka selanjutnya? Soo Jin juga belum tahu. Dia masih memikirkannya. “Apa Bu Clara ikut dengan kita?” tanya Hye Na.


Soo Jin menegaskan bahwa dirinya takkan mengajak Bu Clara, sebab mereka sedang dalam pelarian bukan tamasya. Lagipula, dia hanya bisa fokus mengawasi Hye Na. Hal itu membuat Hye Na sedih. Dia menangis. Tapi memang apa yang Soo Jin katakan itu benar.

Usai menemui pihak sekolah, Pak Detektif dan Asistennya menemui Eun Cheol. Coba meminta keterangan darinya. Eun Cheol menggambarkan Soo Jin bukan tipe wanita yang akan menyukai anak-anak, dan anak-anak juga takkan menyukai Soo Jin. “Apa ada yang anda curigai?” tanya Eun Cheol.


“Tidak, aku hanya tanya sesuatu tentang Bu Soo Jin saja,” sahut Pak Detektif, “Misalnya, mungkinkah seorang murid SD benar-benar berjalan 2,8 km walau suhu di luar sana minus 5 derajat celcius, cuma karena dia suka burung?” Eun Cheol merasa hal itu mungkin terjadi. Toh waktu kecil dirinya pernah jalan 5 km hanya demi melihat robot di kota.

Pak Detektif membenarkan, lalu minta dihubungi begitu Eun Cheol sudah bisa menghubungi Soo Jin nanti. Eun Cheol mengiyakan.

Seperginya Pak Detektif, Eun Cheol bertanya-tanya apa yang membuat Soo Jin mendadak pergi. Padahal baru ada 14 cincin burung dari total 20 cincin yang hendak Soo Jin kumpulkan sebelum pergi ke Islandia. Dia tahu Soo Jin bukan tipe orang yang tidak menyelesaikan pekerjaannya. Dan yakin pasti ada sesuatu yang luar biasa terjadi hingga membuat Soo Jin pergi begitu saja. Dia pun mengirim email ke Soo Jin, memberitahu soal kedatangan Pak Detektif dan pelacak GPS yang diletakkan di mobil Seol Ak.

Keponakan Bu Clara, beserta orang-orang dari rumah jompo, datang menjemput Bu Clara di panti. Bu Clara sempat menolak, tapi petugas membawa paksa Bu Clara atas perintah keponakannya Bu Clara sendiri.

Kemunculan orang-orang ini membuat Soo Jin dan Hye Na kebingungan. Mereka membawa semua barang, dan bersembunyi di dalam toilet bekas.

Bu Clara minta petugas melepasnya. Dia akan jalan sendiri. Sebelum itu, dia punya satu permintaan: melihat rumah panti itu untuk terakhir kalinya. Setelah mengambil rice cooker-nya, dia bicara pada Hye Na, “Yoon Bok. Kau anak terakhirku. Jadi jagalah ibumu dengan baik.”


Juga kepada Soo Jin, “Soo Jin. Terima kasih sudah menjadi ibu. Aku sangat senang bisa memeluk anakmu ini. Alangkah senangnya, jika Tuhan mengizinkanku mengingat hal ini. Kalau Soo Jin-ku kini sudah menjadi seorang ibu.” Hye Na melemparkan salah satu boneka matryoshka. Bu Clara memungutnya, lalu pergi dari rumah dan masuk ke dalam mobil.

Ketika Bu Clara pergi bersama rombongan keponakannya, Soo Jin membonceng Hye Na naik sepeda.

Di tengah jalan, Hye Na mengaku penasaran kata apa yang dimulai dengan huruf “rin”. “Rin-su (kondisioner),” sahut Soo Jin. Hye Na ingin memberitahu hal itu, karena dia ingin memberitahu Bu Clara jawabannya.

Di terminal, sembari menunggu bis, Soo Jin memeriksa emailnya dan menemukan ada satu email masuk kiriman dari Eun Cheol. Tanpa menunggu waktu lama, Soo Jin pun mengajak Hye Na pergi ke mini market di terminal untuk mengirim paket (foto dan rekaman) kepada Ye Eun. Hye Na melihatnya dan bertanya, “Kenapa Ibu mengirim paket ke Bu Ye Eun?”


“Ada 1 dari 10.000 kemungkinan kalau semuanya berjalan tak sesuai rencana,” sahut Soo Jin, “Jadi Ibu meminta Bu Ye Eun untuk membantu kita.”

Yi Jin menemui dokter Mamanya, meminta penjelasan tentang hasil uji radiologi Mamanya. Dokter menjawab penyakit Young Shin sudah menyebar. Yi Jin agak kalut mendengar info itu.

Hye Na menanyakan bagaimana Soo Jin bertemu bisa dengan Young Shin? Soo Jin pun bercerita, “Suatu malam, Ibu berbaring ingin tidur saat anak baru datang. Anak itu menangis semalaman dan tidak bisa tidur...”



Dalam kilas balik, kita melihat Young Shin menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Soo Jin kecil menemaninya tidur, lalu menceritakan tentang latar belakang teman-temannya. Besoknya, dia baru tahu jika orang yang disangkanya kanak-kanak itu ternyata seorang wanita dewasa dan cantik. Setelah tinggal di panti selama seminggu, wanita itu pergi. Tapi wanita itu kembali dan menyatakan ingin mengadopsi dirinya. Soo Jin sempat menolak, tapi keputusan sudah bulat.

Yi Jin menemui Young Shin yang tengah santai di kamar. Dia marah karena tidak diberitahu tentang penyakit Young Shin. “Memangnya kesalahanku apa? Saat berjalan, tersenyum, berbicara dan bahkan memilih laki-laki, aku mematuhi semua perkataan Ibu! Dan juga kenapa Ibu hanya peduli sama Unni saja? Ibu berencana ingin kasih tahu ke Unni kalau Ibu sakit?” dia meluapkan unek-unek yang ada di dadanya, “Menurut Ibu, Unni akan pulang jika mengetahui Ibu kena kanker? Orang yang akan menjaga Ibu saat sudah tua dan sakit itu aku! Orang yang akan bersedih juga aku!”

Young Shin paham akan hal itu. Itu pula yang membuatnya tak bisa memberitahu Yi Jin. “Jadi Ibu akan mati?” tanya Yi Jin.

“Bahkan jika aku mati sekalipun, aku masih punya banyak pilihan – secara perlahan dan menyakitkan sambil buang-buang duit atau melakukan apapun yang dimauinya dalam kurun waktu 6 bulan lalu mati.”


Yi Jin tidak mau Young Shin mati. Dia minta Young Shin bertahan, sebab ada dirinya, suaminya, dan anak-anaknya. “Ibu akan memikirkannya dan kemudian melakukan sesuka Ibu,” timpal Young Shin.

“Ya, satu-satunya orang yang tidak mengalah pada kemauan Ibu itu Unni, bukan?” kata Yi Jin lagi.

Soo Jin mengajak Hye Na ke sebuah salon untuk merapikan rambut Hye Na.


Bu Guru Ye Eun sudah selesai bulan madu dan mulai bekerja lagi. Satpam sekolah memanggilnya, memberikan paket kiriman Soo Jin untuknya.

Soo Jin meminta Hye Na bermain di taman bila sudah selesai potong rambut. Dia akan menjemput Hye Na nanti. Ada urusan yang harus dikerjakannya. Kapster malah menyuruh Soo Jin membiarkan Hye Na di salonnya – menonton TV sambil makan camilan. “Apa ada camilan?” tanya Hye Na. Kapster membuka kotak, menunjukkan banyak snack disana. Hye Na setuju menunggu Soo Jin di salon. Soo Jin pun mengalah. Dia pun pergi keluar.

Kemana dia pergi?


Jae Beom sudah di Islandia, dan belum juga menemukan tanda-tanda kemunculan Soo Jin. Young Shin menyuruhnya menunggu di sana sampai Soo Jin datang. Mendadak, dia terkejut karena Soo Jin datang sendiri ke hadapannya tanpa diundang. “Jae Beom... pulanglah ke Korea saat penerbangan berikutnya. Soo Jin sudah ada di hadapanku.”

Bersambung ke Call Me Mother Episode 4.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Call Me Mother Episode 3

0 komentar:

Post a Comment