Thursday, February 1, 2018

Call Me Mother Episode 2

Raja Sinopsis – Soo Jin dengan cepat menemukan bahwa salah satu muridnya yang bernama Hye Na memiliki masalah dengan keluarganya. Dalam episode 1, kita ditunjukkan secara sekilas kalau Soo Jin juga memiliki masa lalu yang meyakitkan. Persamaan rasa itulah yang mungkin membuat Soo Jin berempati pada Hye Na, dan mengajaknya pergi jauh. Apa yang terjadi selanjutnya di episode kedua ini?



Call Me Mother Episode 2


Tangis Hye Na meledak. Dia merasa Mama telah membuangnya ke tempat sampah. Jadi dia juga tak mungkin bisa kembali ke rumah. “Sekarang, giliran kamu yang akan mengusir Mamamu. Maukah kamu melakukannya?”

Usai mengajak Hye Na, Soo Jin mempersiapkan segala keperluan untuk berangkat ke Islandia. Dia menguras uang di ATM, menjual mobil, juga mengambil uang deposit sewa rumah. Dia juga membeli pakaian dan sepatu untuk Hye Na.


Khawatir rencana keberangkatannya gagal, Soo Jin menulis surat kepada Ye Eun disertai foto-foto bukti kekerasan yang Hye Na alami dan rekaman pengakuan Hye Na – yang sering ditendang dan didorong dari tangga. Dalam suratnya, dia mengaku tak khawatir di penjara tapi lebih khawatir Hye Na kembali pada Mamanya dan Ahjussi.

Hye Na merobek dua lembar kertas dari buku catatan – senyuman Bu Guru dan Lee Won Hee. Dia membuang ke dalam kloset dan menyiramnya. Sepertinya dia akan meninggalkan buku itu di rumah, dan tak ingin Ja Young maupun Seol Ak mengetahuinya.


Mamanya Hye Na, yang belakang baru saya ketahui bernama Ja Young Shin, memanggil Hye Na. Dengan cepat Hye Na menghampiri Ja Young yang tengah dandan. Ja Young memberikan kopi latte kepada Hye Na, tapi entah kenapa hari itu Hye Na memilih tidak menerimanya.

Ja Young sedikit merias Hye Na, sembari mengatakan bahwa dirinya sangat menyukai Ahjussi dan tak bisa hidup tanpanya. “Kalau Ahjussi pergi gara-gara kamu, kamu kira seperti apa perasaan Mama? Kamu bahagia kan kalau Mama bahagia?” tanya Ja Young.

Hye Na mengangguk. Tapi karena Ja Young menyuruhnya mengatakan, dia pun mengatakan dengan perlahan, “Aku akan bahagia, jika Mama bahagia.” Ja Young senang, lalu memberikan uang kepada Hye Na agar dibelikan Jjing baru. Hye Na tak mengambilnya. Bahkan, dia ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan Ja Young, membuat Ja Young bertanya-tanya apa yang terjadi pada putrinya itu.


Hye Na berdiri di tepi laut. Tangan kanannya memegang bulu putih yang ditemukannya kemarin saat melihat burung-burung bermigrasi. Dia melambai-lambaikan tangan, sampai bulu itu terbang terbawa angin.

Seorang nelayan yang selesai melaut menyuruh Hye Na pulang. Angin bertiup agak kencang saat itu. Tanda salju akan segera turun. Hye Na hanya mengiyakan ucapan nelayan, kemudian dia mengepak-ngepakkan sayapnya. Mulutnya tersenyum.


Mamanya Soo Jin, yang bernama Young Shin, mendapat informasi dari Jae Beom yang menyebutkan bahwa Soo Jin selama ini tinggal di Korea. Jae Beom meminta Young Shin meminta nomor Soo Jin bila bertemu nanti.

Di lain tempat, Ja Young menghubungi Seol Ak (Ahjussi yang menjadi pacarnya) untuk menemuinya. Namun Seol Ak tak bisa menemuinya, karena harus mengantar barang dan baru pulang besok atau lusa.


Salju turun. Salah seorang nelayan menyadari Hye Na mendadak hilang dari pinggir pantai. Nelayan yang menegur Hye Na segera ke TKP, mencari-cari keberadaan Hye Na.

Jae Beom tiba di apartemen Soo Jin. Pemilik apartemen memberitahu Soo Jin sudah pindah.


Rupanya Hye Na sudah dibawa Soo Jin. Nenek-nenek yang memarahi Soo Jin beberapa malam lalu melihat keduanya, tapi diam saja.

Soo Jin dan Hye Na sampai di terminal. Mereka membeli tiket di mesin tiket otomatis dengan tujuan Incheon.

Dengan cepat, pinggir pantai tempat Hye Na diketahui menghilang sudah ramai orang. Nelayan yang tadi menegur Hye Na memberikan kepada Detektif sepatu milik Hye Na yang tertinggal di pantai.


Soo Jin dan Hye Na masih menunggu bis di terminal. Karena bosan, Hye Na menghampiri seorang balita dan menyuapinya dengan roti kacang merah. Melihat hal itu, Soo Jin segera menjauhkan Hye Na dari orang lain. “Kau tetap harus diam,” pintanya.

Sambil tersenyum, Hye Na menjawab, “Tapi balita tak bisa bicara.” Wanita tua yang bersama balita yang disuapi Hye Na tersenyum ke arah Soo Jin.

Detektif masuk ke sebuah ruangan, dimana Ja Young menunggu dengan wajah cemas. Dia memperlihatkan tas Hye Na. “Apa ini tas anak Anda?” tanyanya. Ja Young tampak galau.

TV yang berada di terminal menayangkan berita menghilangnya Hye Na. Reporter menyebutkan ciri-ciri fisik Hye Na.

Asisten sang Detektif memberitahu tim pencari tidak bisa melakukan pencarian lebih lama lagi. Cuaca memburuk. Detektif seolah tidak peduli cuaca dengan memerintahkan pencarian lagi. Dia kemudian berniat menemui Ja Young lagi, tapi langkah kakinya terhenti di pintu depan ketika melihat Ja Young sedang asyik SMS-an.


Hye Na menatap keluar jendela bis AKAB. Dia sama sekali tak menyadari bahwa ada sepasang mata menatapnya. Mata itu milik Seol Ak. Soo Jin menutup tirai jendela bis, dan mengingatkan Hye Na untuk tidak melihat keluar. Selain itu, dia juga mengingatkan Hye Na untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Bu Guru.

Seol Ak menerima SMS dari Ja Young yang memintanya untuk tidak datang ke rumah dulu sementara waktu ini. Seol Ak berpikir Ja Young main-main. Dia coba menghubungi Ja Young, tapi nomor telpon Ja Young tidak aktif.

Lalu sebuah SMS dari Ja Young masuk lagi ke HP Seol Ak, memintanya untuk mendengarkan radio. Seol Ak menyetel radio dan mendengar berita tentang Hye Na yang hilang.


Di lain tempat, Eun Cheol juga sedang menonton berita tentang Hye Na yang hilang. Mendadak, dia ingat tugas yang Soo Jin berikan padanya. Dia pun segera menghubungi nomor HP Soo Jin. Sayang, nomor telpon Soo Jin sudah tak aktif.

Detektif meminta izin Ja Young menampilkan wajah Hye Na di TV supaya mempermudah pencarian. Ja Young tidak mau, toh Hye Na sudah nyemplung ke laut. Detektif tidak yakin Hye Na nyemplung ke laut. Pun itu terjadi, dirinya pasti sudah menemukannya. Dia mengungkapkan tentang kemungkinan lain Hye Na tersesat atau diculik.


Dalam 48 jam pertama, Hye Na harus diketemukan hidup atau mati. Jika tidak maka kesempatannya akan semakin tipis. Itulah kenapa dirinya minta izin Ja Young menampilkan wajah Hye Na di TV. Tujuan meminta bantuan masyarakat untuk membantu mencari secara tidak langsung.

Ja Young tetap menolak. Alasannya, Hye Na akan malu bila wajahnya terpampang di TV. Dia sendiri takkan sanggup hidup bila wajah Hye Na dipampang dimana-mana, mengemis ke semua orang untuk mencarinya.


Bu Guru Ye Eun, bersama tunangannya, datang menemui Detektif. Dia bertanya, “Apa kau tahu apa yang dilakukan mamanya Hye Na saat Hye Na menghilang? Dan juga, ada seorang pria yang tinggal bersamanya. Tolong cari tahu apa yang sedang dilakukan pria saat itu...”

Soo Jin meminta Hye Na memikirkan sebuah nama untuk nama barunya. “Yoon Bok,” sahut Hye Na, seperti nama restoran Yoon Bok. Soo Jin setuju. Mulai sekarang, dia akan memanggil Hye Na dengan nama Kim Yoon Bok.


“Coba panggil aku 'Ibu',” pinta Soo Jin. Apa itu berarti Soo Jin akan menjadi Mamanya Hye Na? Soo Jin menjelaskan bahwa hal itu mungkin saja terjadi seiring waktu berjalan, tapi untuk sekarang mungkin belum bisa.

Hye Na setuju, “Tapi aku takkan memanggil Ibu dengan sebutan Ibu sekarang.” Soo Jin membolehkan. Hanya saja, dia mengingatkan agar Hye Na tak memanggil dirinya dengan sebutan Ibu Guru. Mereka sama sekali tidak sadar, ada sepasang telinga sedang mencuri dengar obrolan tersebut.

Turun dari bis, orang yang mendengar obrolan mereka tadi mengajaknya nebeng. Soo Jin menolak. Tapi berhubung Hye Na mengantuk dan tak ada tempat dituju, dia akhirnya setuju nebeng.

Wanita itu menanyakan tujuan Soo Jin. Pertanyaan itu tak dijawab. Sehingga wanita itu mengambil kesimpulan jika Soo Jin tak memiliki tujuan. Dia menawarkan Soo Jin mampir di rumahnya yang mirip guesthouse.

Ja Young mengatakan sedang bekerja saat Hye Na pergi ke pelabuhan sendirian. Dia memberikan nomor telpon manajer tempatnya bekerja kepada detektif untuk membenarkan keberadaannya. “Apa ada seseorang yang dia kenal di pelabuhan?” tanya detektif. Ja Young menggeleng. “Lantas, kenapa menurut Anda, dia pergi kesana?” detektif melontarkan pertanyaan menohok. Ja Young kembali menggeleng.

Detektif heran bagaimana bisa Hye Na sendirian ke pelabuhan. Karena orang dewasa sekalipun membutuhkan waktu 35 menit jalan kaki untuk sampai kesana. Sedangkan, anak-anak membutuhkan waktu 1 jam-an. Tapi anak-anak berjalan lebih 20 menit, harus dimotivasi paksa dengan cara dipukul atau diiming-imingi uang. Kembali pertanyaan awal: bagaimana bisa Hye Na berjalan sendirian selama 1 jam ke pelabuhan, apalagi Hye Na masih kelas 1 dan suhu udara kurang dari 5 derajat Celcius? Ja Young berdalih Hye Na memang punya kelakuan galib.

“Bu, bisa jadi anakmu sekarang sudah mati! Kalau bukan itu masalahnya, dan dia hanya keluar menghitung kotak surat kita harus menemukannya, tidak peduli apa pun itu!” tegas detektif. Dia kemudian menanyakan siapa orang yang SMS-an dengan Ja Young. Apakah pria yang tinggal dengannya? Ja Young coba menutup-nutupi. Tapi tak lama Seol Ak muncul dan segera memeluknya, berpura-pura khawatir Hye Na hilang.

Seol Ak mengaku bahwa dirinya tidak tinggal dengan Ja Young. Dia memang sering menginap. “Kapan terakhir kali Anda melihat Hye Na?” tanya detektif.

“Semalam,” kata Seol Ak, sambil makan kimbab menunggu kepulangan Ja Young. Huff...

Seol Ak mengingatkan Ja Young untuk tidak menghindari pembahasan tentangnya. Dia minta Ja Young mengatakan bahwa dirinya memperlakukan Hye Na dengan baik, selayaknya putrinya sendiri. Selain itu, dia minta Ja Young untuk tidak banyak bicara selain menangis. Sebab, menangis adalah reaksi yang alami atas kematian tersebut.

“Kenapa aku harus melakukannya?” tanya Ja Young tak paham, “Kita kan tidak membunuh Hye Na.” Seol Ak mengingat, walaupun mereka tidak membunuh Hye Na, tapi bekas luka di tubuh Hye Na akan membuat mereka terseret kasus hukum. Dia tidak ingin kembali ke bui.

Malamnya, di kamar rumah wanita tua, Soo Jin mendongengi Hye Na. Hye Na yang belum tertidur pulas bertanya kenapa Soo Jin menggendongnya terus-terusan? “Karena Ibu takut kehilanganmu. Ibu harus memelukmu erat dan mengantarmu sampai ke Islandia. Tapi Ibu takut kehilanganmu di jalan,” sahut Soo Jin.

Hye Na senang mendengarnya. Dia kemudian minta diizinkan membeli buku catatan baru lagi besok. Dia ingin mencatat hal-hal yang disenanginya lagi, seperti tiket bis, burung camar kecil, dan aroma tubuh Soo Jin.

Eun Cheol menggedor-gedor apartemen Soo Jin. Tak ada sahutan. Dia berpikir Soo Jin sudah pergi ke Islandia.

Dari apartemen Soo Jin, Eun Cheol pergi ke rumah Hye Na – sesuai alamat yang Soo Jin berikan di episode 1. Tapi dia menunggu di dalam mobil di depan rumah Hye Na. Tak lama kemudian, datang sebuah mobil. Ja Young dan Seol Ak turun dari mobil. Eun Cheol heran, bagaimana bisa Ja Young membeli kopi di pagi hari dalam keadaan anaknya hilang. “Kang Soo Jin, tugas apa yang sudah kau berikan padaku?” gumamnya.

Wanita tua itu menjamu Soo Jin dan Hye Na dengan makanan terenak. Hye Na menyukainya. Soo Jin meminta maaf telah merepotkan wanita tua. Dia janji membayar kamar dan makanannya. Wanita tua itu terkekeh, kemudian mengomentari seorang gadis muda yang mau keluar. Dia lantas mengisahkan orang-orang yang ada di rumahnya adalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Hye Na pamit. Mau main di luar rumah.

Wanita tua itu mulai menampakkan belangnya. Menanyakan tujuan Soo Jin. Apakah ada yang bisa dibantunya? Tiket kapal atau tiket pesawat. “Tiket samaran” juga bisa. Jadi Soo Jin akan “melompat-lompat” dari satu kapal ke kapal lainnya. Dengan demikian, tak ada seorang pun tahu kemana Soo Jin mau pergi. Soo Jin mulai tertarik, dan minta “jalan” dibuatkan paspor sulap-selip buat anak-anak.

Apa yang Soo Jin inginkan memang menjadi tujuan wanita tua itu. Dimana, dia menebak Soo Jin pasti wanita kaya-berpendidikan dan Hye Na bukanlah anak kandungnya. Soo Jin berkelit, menegaskan dirinya hanyalah wanita bermasalah dan Hye Na adalah anak kandungnya. Mereka berdua akan pergi jauh sekali. Wanita tua itu terkekeh, lalu menelpon seseorang. Rupanya wanita tua ini adalah calo (aku menyebutnya Nyonya penipu) dari pembuat paspor sulap-selip.

Sebelum meneruskan pembicaraan, Nyonya penipu itu mengingatkan Soo Jin bahwa pesanan yang sudah dipesan tidak bisa dibatalkan atau diminta kembali dananya. “Dan jika ada masalah saat kau meninggalkan negara ini, itu jadi masalahmu,” kata si Nyonya. Soo Jin mengangguk setuju.

Selain mengingat soal bahaya, si Nyonya penipu mengingatkan juga bila biaya pembuatan paspor anak-anak itu mahal. “Sejuta won?” tanya Soo Jin polos. Nyonya penipu terkekeh, menganggap uang sebesar itu hanya canda gurau.

Detektif yang menangani kasus Hye Na mendapatkan penjelasan dari dua petugas yang datang ke rumah Hye Na. Petugas senior mengaku hanya mendengar kesaksian Hye Na dan tak merasakan keanehan. Tapi... petugas junior mengaku bahwa dirinya menduga, baik Hye Na maupun Ja Young, sama-sama berbohong. Dia punya firasat ada sesuatu yang terjadi.

Detektif mengambil kesimpulan, meskipun tidak ada cara bagi mereka untuk membuktikannya, tetap saja harus berusaha mendapatkan bukti-bukti. Dia memerintahkan anak buahnya memeriksa semuanya – waktu, tanggal, lokasi tempat Hye Na terkena bola bisbol serta tersandung waktu turun tangga, CCTV dan dasbor dekat lokasi. “Ketemu atau tidak, jika ada indikasi ini kasus kekerasan anak, aku akan mengajukan surat perintah!” katanya.

Ja Young menghubungi manajer tempatnya bekerja, meminta izin tidak masuk seminggu lagi. Karena diizinkan, dia mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Setelah menutup telpon, dia mengeluh tidak memiliki pakaian serba hitam untuk upacara perkabungan Hye Na.

Seol Ak nyeletuk, “Bagaimana bila Hye Na tidak mati?” Celetukan itu membuat Ja Young kebingungan. Kenapa Oppa Seol Ak bisa berpikir begitu? Seol Ak mengaku melihat Hye Na, sewaktu Ja Young mengiriminya SMS kemarin. Tapi dia merasa tidak yakin jadi tidak mengatakan apa-apa.

Ja Young terkekeh, berpikir jika Seol Ak telah salah lihat. Sebab dia juga sering salah lihat, mengira nenek-nenek adalah ibunya. “Apa kau lebih suka Hye Na meninggal?” tanya Seol Ak. Membuat Ja Young mencak-mencak. Dia yakin dirinya sedih benar, sekaligus takut Hye Na mati gara-gara dirinya. “Kalau itu lain cerita lagi,” tutur Seol Ak, “Saat ini, Hye Na lebih baik mati dan diam demi semua orang sekarang.”

“Bagaimana jika dia tidak mati?” tanya Ja Young khawatir. Tentu saja itu akan merepotkan mereka berdua.

Jae Beom datang menemui Eun Cheol (rekan kerja Soo Jin) untuk mencari tahu keberadaan Soo Jin, dan memberitahukan masalah yang dihadapinya jika Soo Jin tidak ditemukan. Eun Cheol memberitahu jika Soo Jin pergi ke Pusat Penelitian Skoma Islandia. Karena tidak tahu cara menghubungi Soo Jin, dia memberi Jae Beom alamat dan nomor telpon pusat penelitian itu.

Dengan mata tertutup, Soo Jin dan Hye Na dibawa Nyonya penipu ke tempat pembuat paspor sulap-selip. Disana, seorang pembuat paspor sulap-selip menyambutnya, dan karena tidak ada foto dia mengajak Hye Na masuk ruangan untuk difoto. Seorang pembuat paspor sulap-selip lainnya menyuruh Hye Na melepas topi dan merapikan rambut agar bisa difoto. Soo Jin melihatnya.

Pembuat paspor sulap-selip yang membawa Hye Na ke dalam ruangan kembali ke luar, dan chit-chat dengan Nyonya penipu. Soo Jin mendengarkan lamat-lamat. Dalam perbincangan itu, Nyonya penipu bercerita tentang pengejarannya terhadap bayi seorang wanita Vietnam sampai ke Mooryung. Dimana, dia akan menjual bayi itu. Mungkin itu bayi yang digendongnya saat dirinya bertemu dengan Soo Jin dan Hye Na di terminal.

Petugas pembuat paspor sulap-selip minta uang segera diserahkan. Soo Jin tampak ragu menyerahkannya. Terjadilah tarik-menarik antara Soo Jin dan petugas. Nyonya penipu meminta Soo Jin tenang, karena para pembuat paspor sulap-selip itu bukan amatir. Jadi sudah selayaknya uang diserahkan di muka.

Petugas pembuat paspor sulap-selip menyerahkan HP low-end kepada Soo Jin. “... Tunggu kabar dari kami. Sejam hingga dua jam lagi, kau akan dikirimi SMS (tempat yang harus didatangi untuk mengambil paspor),” katanya.

Soo Jin mencoba mengikuti permainan para penipu itu. Dia mengikuti tiap SMS perintah yang menyuruhnya kesini dan kesitu, tapi itu hasilnya nihil. Merasa dirinya dipingpong, dia mencoba menghubungi para penipu itu. Nomor telpon tidak bisa dihubungi.

Mengajak Hye Na, Soo Jin pun kembali ke rumah Nyona penipu dan menemukan tempat itu sedang digerebek polisi. Mereka berjalan menuju jalan raya.

Ketika mereka menyeberang, mobil yang ditumpangi Nyonya penipu muncul. Sontak Soo Jin menghalangi laju mobil tersebut. Nyonya penipu itu menyuruh Soo Jin menyingkir. Tentu saja, Soo Jin menolak sampai duitnya dikembalikan. Nyonya penipu itu mencak-mencak, lalu menyuruh Soo Jin mengambil duit itu ke kantor polisi. Soo Jin tak bergeming.

Nyonya penipu itu akhirnya mengalah, lalu menyuruh Soo Jin masuk ke dalam mobil untuk bicara. Soo Jin dan Hye Na bergegas masuk. Mau kemanakah mereka? Menurut Nyonya penipu itu, mereka akan pergi ke sebuah pulau untuk bersembunyi dulu.

Mobil kembali berhenti. Nyonya penipu turun untuk menelpon dan membeli tiket. Saat itu, seorang gadis yang duduk di bangku belakang menyuruh Soo Jin kabur dari mobil cepat. Dia memberitahu jika Soo Jin dan Hye Na tiba di pulau itu, maka semua sudah terlambat. Karena disana, Nyona penipu dan kroninya akan mengambil sesuatu yang lebih daripada uang.

Soo Jin bergegas meninggalkan mobil dan berjalan dengan cepat hingga Hye Na merasa seperti diseret. Tiba-tiba dia berhenti dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Bu Guru menangis?” tanya Hye Na. Tanpa membuka telapak tangannya, Soo Jin meminta Hye Na tidak bicara dengannya sebentar. Hye Na pun pergi.

Saat membuka wajahnya, Soo Jin tidak menemukan Hye Na di depannya. Dia kelimpungan mencari Hye Na kesana kemari. “Yoon Bok. Yoon Bok!” begitu teriaknya. Hye Na pun kembali. Sontak Soo Jin memeluknya. Dia meminta maaf atas ucapannya pada Hye Na tadi. Dia menyatakan bahwa dirinya tidak marah pada Hye Na, melainkan pada dirinya sendiri.

Hye Na paham. “Bu Guru sungguh ingin pergi ke Islandia, bukan?” tanyanya polos, “Jika aku tidak ada, pasti Bu Guru sudah pergi sekarang, bukan?” Soo Jin meyakinkan Hye Na bahwa dirinya pasti bisa mencari jalan menuju Islandia.

“Aku tidak takut, Ibu,” ungkap Hye Na. Membuat Soo Jin tersenyum, lalu berkata, “Maka berarti tinggal aku yang harus berani sekarang.”

Bu Guru Ye Eun mendatangi kantor polisi sembari memperlihatkan bukti-bukti kekerasan yang terjadi pada Hye Na. “Ini bukan kecelakaan. Ini pembunuhan,” tukasnya, “Sekolah, Komisi Perlindungan Anak, dan polisi cuma bisa melihat saja tanpa berbuat apa-apa. Tak seorang pun mempedulikan Hye Na yang malang.” Dia menuntut polisi mengusut tuntas kasus ini sementara dirinya akan berbulan madu.

Polisi yang menangani kasus Hye Na memuji kehebatan Ye Eun dalam mengumpulkan bukti-bukti. Dan menegaskan akan menuntaskan kasus tersebut hingga melihat Hye Na hidup atau mati.

Yi Jin dan dua anaknya makan bersama Young Shin. Namun acara makan bersama itu terganggu oleh kemunculan Jae Beom. Young Shin memutuskan tidak jadi makan, dan mengajak Jae Beom bicara di tempat lain. Yi Jin mendengus, “Mereka pasti tak mau mengajakku mengobrol.”

Jae Beom minta izin istirahat seminggu sebelum mencari Soo Jin ke Islandia. “Aku juga maunya begitu,” sahut Young Shin, lalu minta dibelikan tiket kelas bisnis. Dia akan ikut ke Islandia, memberitahu sel kankerku sudah berlipat ganda hanya dalam seminggu.

Di dalam kereta, tampak Hye Na menyandarkan kepalanya ke bahu Soo Jin. Dia tampak nyaman betul. “Apa Mamanya Mama sering menceritakan dongeng sebelum tidur?”

Soo Jin mengiyakan. Membuat Hye Na bertanya kembali, “Kalau begitu, apa Ibu juga sering berpikir, 'Ah, nyamannya sewaktu Mama tertidur?'”

Soo Jin menggeleng. Alih-alih merasa nyaman, dia justru malah meminta maaf. “... Karena aku bukan anak kandung Mamaku. Aku anak adopsi.”

Flashback. Soo Jin berada di sebuah taman. Ketika anak-anak lain asik bermain kesana kemari, dia tampak terdiam. Setelah anak-anak panti yang lain pergi, Ibu Panti (sepertinya begitu) datang menghampiri Soo Jin yang masih duduk di pagar depan. Dia menggendongnya, tapi Soo Jin berteriak kesakitan sebab tubuhnya diikat dengan pagar.

Ibu Panti kembali menghampiri Soo Jin yang masih termangu di pagar depan – saat ini rantai yang mengikatnya sudah dilepas. Dia memberikan Soo Jin makanan. Soo Jin menerimanya dan memakannya, lalu berkata, “Namaku Nam Soo Jin.”

Bersambung ke Call Me Mother Episode 3.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Call Me Mother Episode 2

0 komentar:

Post a Comment