Saturday, January 27, 2018

Call Me Mother Episode 1

Raja Sinopsis – Call Me Mother menjadi project menulis saya yang baru. Serial ini dibintangi oleh Lee Bo Young yang dulu pernah saya tonton aksinya di drama God's Gift 14 Days (2014). Meskipun belum rampung nontonnya, tapi saya sudah kesengsem sama doi. Apakah Call Me Mother akan menjadi drama korea sebagus God's Gift 14 Days?

Call Me Mother Episode 1

Sinopsis Call Me Mother Episode 1, Sinopsis Drama Korea Mother Episode 1.

Seorang polisi masuk ke sebuah ruangan, membawa tas basah untuk ditunjukkan kepada seorang wanita yang wajahnya tampak sembab oleh air mata. “Hmm, apa ini tas putrimu?” tanya polisi tersebut. Si wanita membisu, menatap polisi dengan tatapan nanar.

Sebulan sebelum menghilangnya Hye Na.

Seorang rekan kerja menghampiri Soo Jin (LEE BO YOUNG) yang masih sibuk dengan penelitiannya, padahal lab tempat mereka bekerja akan ditutup akhir bulan Januari. Soo Jin memberitahukan bahwa dirinya akan mengemasi barang-barangnya saat liburan sekolah. Ya, dia bekerja sebagai guru pengganti di sebuah SD agar tetap bisa bertahan hingga akhir bulan. Setelah itu, dia akan melamar pekerjaan di Pacific Seasonal Migration Project.


Soo Jin berada di kelas, mengajar anak-anak SD mengenai sekelumit dunia burung. Selesai mengajar, Kepala Sekolah memberitahu dirinya didapuk sebagai wali kelas 1-3 selama tiga minggu. Sebab seorang guru resign mendadak dan belum ada guru baru mengingat libur segera tiba.

Untuk memudahkan Soo Jin mengajar, Kepala Sekolah telah memerintahkannya mengikuti rencana belajar yang telah dibuat. Salah satu rencana belajarnya adalah menulis surat untuk Oh Cheol. Siapa Oh Cheol? Yaitu bebek yang telah dibesarkan anak-anak kelas 1-3, dan sekarang telah mati.

Soo Jin mengikuti rencana belajar yang telah disediakan, lalu menyuruh anak-anak membuat surat untuk Oh Cheol di surga. Saat itu, seorang murid perempuan bernama Hye Na (HYE YOOL) terlihat sibuk menggambar di kertas, seolah tidak peduli dengan perintah menulis surat. Soo Jin selaku guru pun menegurnya.


“Benda mati tidak bisa membaca surat, Bu. Dan sejujurnya, tempat bernama surga itu tidak ada!” sahut Hye Na.

Mendengar pernyataan Hye Na, anak-anak yang lain berpura-pura sedih sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Soo Jin menyuruh mereka semua diam. Dia menjelaskan alasan anak-anak diminta menulis surat untuk Oh Cheol supaya mereka bisa belajar berempati. Dengan demikian, mereka bisa mengurangi sedikit rasa sedih dari rasa sakit akan kehilangan. Hye Na tampak antusias mendengarkan omongan Soo Jin.


Selesai pelajaran, anak-anak menghambur keluar kelas. Soo Jin bengong ketika dua siswa menggodanya, mengatakan dirinya cantik. Hye Na keluar belakangan, lalu memberikan surat sebelum pamit pergi. Surat itu berisi kematian Oh Cheol disebabkan dua temannya yang memberi Oh Cheol tepung terigu dan cokelat.

Soo Jin bicara dengan rekan kerja sesama peneliti, mengungkapkan kemungkinan bahwa dirinya takkan kembali ke Korea jika diterima di Islandia sebagai peneliti Murres. Rekan kerja Soo Jin bertanya, “Apa kamu nggak punya niatan seperti kebanyakan orang – menetap di suatu tempat, mencari pasangan, dan punya anak?”

“Sepuluh persen dari semua kelompok hewan adalah penyendiri. Kamu tahu itu,” balas Soo Jin enteng.


Jae Beom menghampiri Mamanya Soo Jin yang baru keluar dari ruang periksa. Dia ingin mengetahui vonis dokter. Mamanya Soo Jin tidak mengatakan apapun, kecuali memerintahkannya untuk mencari Soo Jin sampai ketemu.

Anak-anak membuang sampah ke meja Hye Na. Bahkan ada yang tega melabeli Hye Na dengan stiker tempat sampah. Soo Jin melihatnya dan meminta anak-anak mengakui perbuatannya. Teman sebangku Hye Na nyeletuk, “Aku ogah makan di sebelah Hye Na, karena kukunya kotor!”


Di luar kelas, Soo Jin mengancam dua orang siswa akan melaporkan perbuatannya pada Oh Cheol. Sebab, dia tahu penyebab kematian Oh Cheol – diberitahu Hye Na kemarin. Keduanya minta agar Soo Jin tidak melakukannya. Soo Jin setuju dengan syarat: keduanya tidak boleh “menyerang” orang atau hewan yang lebih lemah darinya.

Malam hari, Hye Na terlihat sendirian sembari membaca terbata-bata kalimat yang ada di selebaran restoran pizza berhuruf kanji Korea. Dia memberitahu marmut peliharaannya, tampak bangga dengan kebisaannya karena teman-teman sekelas belum ada yang bisa membaca selihai dirinya.


Hye Na berjalan menuju arah pulang, ketika dirinya melihat Soo Jin tengah makan malam sendirian di sebuah kafe. Dia mengejutkan Soo Jin dari luar. Dan itu sukses, sebab Soo Jin tampak terkejut.

Soo Jin pun mengajak Hye Na masuk, dan mendapat penjelasan bahwa Hye Na memang suka berkeliaran malam-malam seorang diri sejak berusia 5 tahun. Pasalnya Mamanya belum pulang kerja. Sungguh kebiasaan yang galib bagi seorang gadis kecil.

Hye Na mengeluarkan roti isi kacang merah dan menawarkannya pada Soo Jin. Soo Jin menolaknya, tapi menerimanya juga untuk menyenangkan hati Hye Na. Dan sebagai gantinya dia memberikan sepotong pizza. Itu sudah membuat Hye Na kegirangan. Melihat hal itu, Soo Jin tersenyum.


“Ibu tersenyum,” kata Hye Na, “Ini pertama kalinya aku melihat Ibu tersenyum.” Dia mengeluarkan buku catatannya yang berisikan apa-apa saja yang disukai agar tidak melupakannya, termasuk salah satunya adalah kopi latte.

Entah karena masih teringat apa yang dikatakan teman sebangku Hye Na atau tidak, tiba-tiba Soo Jin menasihati Hye Na untuk merawat diri – memotong kuku tiap minggu, membersihkan rambut sehari tiga kali, menyikat gigi, dll. Dia tak ingin Hye Na dirundung teman-temannya gara-gara terlihat tidak bersih.

“Apa Ibu tahu cara memotong kuku, saat Ibu berusia delapan tahun juga?” tanya Hye Na polos.


Detik berikutnya kita melihat Soo Jin memotongin kuku Hye Na di depan kafe. Tiba-tiba seorang wanita tua menghampiri mereka, dan menuding Soo Jin sebagai perempuan yang ingin menculik Hye Na. Soo Jin sontak kebingungan. Hye Na menenangkan wanita tua itu dengan memberitahukan bahwa Soo Jin adalah guru yang disukainya. Pun begitu, Soo Jin tak berhenti kaget.

Hye Na pulang ke rumah dengan langkah ceria. Tapi... begitu masuk ke dalam rumah, dia tampak tak ingin diketahui kepulangannya. Dengan langkah pelan, dia berjalan menuju ke kamar. Sayang, dia menjatuhkan sesuatu dari meja. Matanya segera menatap seorang ahjussi yang sedang bermain game  komputer di rumahnya.

Keesokan harinya, Soo Jin tidak menemukan Hye Na di kelas dan mendapat informasi jika Hye Na berada di UKS. Dia pun segera menuju ke sana dan bertemu Ye Eun yang memberitahukan kondisi Hye Na – kekurangan gizi, banyak lebam di tubuh. Ye Eun mengungkapkan kekhawatirannya terhadap Hye Na, dan menebak Hye Na tipe bocah yang cukup kuat untuk seusianya – tidak menangis. “Tidakkah kau memperhatikannya?”


Hye Na pura-pura tidur ketika mendengar langkah kaki masuk. Begitu tahu orang yang masuk itu Soo Jin, dia segera terbangun dan segera berkicau tentang Ibu Guru Ye Eun yang mengambil foto dirinya padahal sudah diberitahu bahwa luka di tubuhnya diakibatkan oleh jatuh.

Ketika Soo Jin ingin mengetahuinya juga, Hye Na nyeletuk, “Apa Ibu termasuk orang yang senang melihat bekas luka orang lain?” Soo Jin mengurungkan niatannya. Dia menunjukkan bekas luka di lutut kirinya, sembari memberitahu bekas luka itu didapat saat dirinya terjatuh di tangga. “Apa Ibu menangis?” tanya Hye Na polos, “Seharusnya Ibu memikirkan sesuatu yang disukai supaya berhenti menangis.”

Hye Na juga menilai Ibu Ye Eun aneh, karena terus-menerus menanyakan “apakah dirinya menyukai mama sendiri atau tidak?” Dia menegaskan bahwa dirinya sangat menyukai mama.


Apa yang terjadi sebenarusnya dengan Hye Na semalam? Sepertinya Hye Na dihajar oleh ahjussi game PC holic. Dimana Hye Na yang kelaparan mengambil sebungkus snack milik ahjussi, dan ketika mencoba membukanya ahjussi mendengar dan menghampirinya. Dia mengeluarkan kata-kata yang pelan, dalam, dan terdengar sadiss, “Apa yang pernah kubilang tentang apa yang kulakukan pada anak yang berisik?!”

“Tapi ahjussi, kita kan tinggal di lantai satu,” sahut Hye Na. Entah apa yang terjadi dengan Hye Na selanjutnya.

Soo Jin dan Ye Eun mendatangi rumah Hye Na. Sayangnya, saat itu tidak ada siapapun di rumah. Dan begitu mereka berniat pergi, Hye Na muncul bersama Mamanya. Telinga kiri Hye Na diperban. Itu membuat Soo Jin dan Ye Eun tampak khawatir. Mengetahui hal itu, Mama Hye Na meminta Hye Na menjelaskan apa yang telah terjadi. Hye Na menyebutkan bahwa telinganya terluka gara-gara terkena lemparan bola bisbol sewaktu dirinya di berada jalanan.


Soo Jin tampak terdiam. Ye Eun-lah yang lebih banyak bicara, memberitahukan Mama Hye Na kalau ada banyak lebam juga di tubuh Hye Na. Dengan sinis Mama Hye Na mengatakan, “Apakah kalian datang kesini hanya untuk menuduh saya?”

Supaya kedua gurunya tidak terlalu mengkhawatirkannya, Hye Na segera berlari ke arah rumah dan berpura-pura jatuh. Itu dilakukan untuk membuktikan dirinya adalah bocah yang sering terjatuh. Mama Hye Na memperingatkan Soo Jin dan Hye Na untuk tidak terlalu mencampuri urusan pribadinya. Lalu, dia mengajak Hye Na masuk ke rumah.


Ye Eun yakin benar apa yang Hye Na lakukan hanyalah akting – ibu dan anaknya sama-sama mencoba berbohong. Soo Jin, meskipun terkejut melihat Hye Na pura-pura jatuh tadi, tetap diam seribu bahasa. Tak berkomentar sedikitpun.

Pasca itu, mereka berdua melaporkan pandangan mata kepada Pak Kepsek. Ketiganya paham bahwa mereka tidak bisa melakukan apapun. Meski begitu mereka sepakat meminta bantuan polisi untuk mendapat gambaran tentang kondisi keluarga Hye Na.

Dua orang polisi mendatangi rumah Hye Na, meminta penjelasan tentang apa yang terjadi pada Mama Hye Na. Mama Hye Na memanggil Hye Na yang tidur di dalam koper (astajim!). Kepada bapak polisi, Hye Na mengatakan sama persis dengan yang dikatakannya pada Soo Jin dan Ye Eun. Tentunya kedua polisi itu tidak percaya begitu saja. Mereka akan memantau semuanya, membuat Mamanya Hye Na merasa terancam.


Hye Na tengah asik memberi umpan Jjing, ketika mendengar Mamanya memohon-mohon pada ahjussi untuk mengganggu Hye Na. Mamanya Hye Na khawatir orang-orang akan berdatangan jika ahjussi terus mengganggu Hye Na. Ahjussi bersikap acuh. Dia melempar-lemparkan bola bisbol (jangan-jangan dia yang telah melempar bola itu ke telinga Hye Na?) ke tembok.

“Bila kau tak tahan dengan Hye Na, aku akan mengirimnya ke panti asuhan. Sebagai gantinya, aku akan melahirkan anakmu, bagaimana?” tanya Mamanya Hye Na memberi solusi. Ahjussi malah mengumpat dan pergi dari rumah, meninggalkan Mama Hye Na menangis sendirian.

Hye Na sendiri mendengar dengan jelas pertengkaran tersebut. Dia keluar kamar, lalu mencoba menguatkan Mamanya. Bukan ucapan terima kasih yang Hye Na dapat, melainkan usiran. “Pergilah ke suatu tempat, agar aku tidak bisa melihatmu!” hardik Mama Hye Na.

Hye Na terhenyak, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dia pergi ke dalam kamar, memasukkan Jjing dan dirinya sendiri ke dalam koper besar. Disana, dia mengucapkan benda-benda yang disukainya – supaya tak menangis – sampai tertidur.


Pihak sekolah berdiskusi tentang masalah Hye Na. Meski begitu, tak ada yang bisa dilakukan pihak sekolah karena mulut Hye Na tertutup rapat untuk mengatakan kebenarannya.

Ye Eun sebal dengan pernyataan pihak sekolah. Menurutnya, seharusnya pihak sekolah – dan polisi – melakukan sesuatu supaya KDRT tak terjadi terus-menerus pada Hye Na. “Benar kan?” katanya minta dukungan Soo Jin.

Ternyata Soo Jin berbeda pendapat pada Ye Eun. Hye Na tidak mengatakan yang sebenarnya, karena tidak ingin dipisahkan dari Mama Hye Na dan ditempatkan di sebuah fasilitas bersama orang-orang tak dikenal. Pemikiran Soo Jin itu justru membuat Ye Eun menuding Soo Jin ingin lepas tangan dari masalah ini. Dia pun ngedumel tentang hal merepotkan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Soo Jin hanya menghela napas mendengar ocehan tersebut.

Soo Jin pulang ke rumah. Benaknya teringang-ngiang apa yang dibicarakan Hye Na padanya di ruang UKS. Dia sebenarnya menyadari Hye Na tidak baik-baik saja.


Mama Soo Jin menanyai Jae Beom terkait keberadaan Soo Jin. Ada hal yang perlu disampaikannya – seperti terkait kesehatannya. Jae Beom berdalih bahwa timnya menemukan jejak Soo Jin di Selandia Baru – ketika Soo Jin merampungkan gelar profesornya. Pun begitu, hasilnya masih nihil. Dia pun mengeluh. Bagaimana bisa menemukan Soo Jin yang telah hilang rimbanya sejak 10 tahun silam? Mamanya Soo Jin tidak peduli. Dia tetap ingin Jae Beom menemukan Soo Jin, titik.

Adiknya Soo Jin sekilas mendengar obrolan Mama dan anak buahnya, lalu meminta Mama untuk memberitahukan tentang masalah yang sedang dihadapi Mamanya. Tentu saja Mama menolak. Adik protes lantaran Mama terlalu condong pada Soo Jin, padahal Soo Jin sudah tak menganggap mereka ada. Mama tidak peduli. Biar bagaimanapun Soo Jin adalah anggota keluarga.


Ahjussi pacar Mamanya Hye Na datang ke kamar Hye Na. Dia memberikan makanan pada Hye Na, yang segera disantap oleh Hye Na dengan lahap. Ahjussi itu menyeringai, merasa apa yang Hye Na lakukan itu menjijikkan.

Soo Jin mengungkapkan pada rekan sekerjanya bahwa dirinya sudah ada panggilan kerja di tempat penelitian lain. Rekan sekerjanya memberinya ucapan selamat, lalu bernostalgia tentang pertemuan pertamanya dengan Soo Jin yang disangkanya berasal dari keluarga miskin. “Banyak kasus dimana ibu kaya tapi anak gadisnya miskin,” celetuk Soo Jin menimpali ucapan rekan kerjanya.

“Ayolah... jangan begitu, dan jangan kesepian,” pinta rekan kerjanya. Soo Jin menegaskan bahwa dirinya tidak kesepian sama sekali. Rekan kerjanya menaikkan alisnya, tanda tak percaya ucapan Soo Jin itu. Dia bertanya, “Sedikit pun kau tak pernah merasa kesepian? Apa kau pernah menyukai seseorang dan ingin bersamanya? Atau kau marah pada seseorang yang kau cintai? Atau kau tak pernah sekalipun merasa seperti itu?”


Mama Hye Na pulang dan menemukan pacarnya tengah asik main game. Dia terkejut melihat bungkusan besar di tengah jalan, dan ketika membukanya dia lebih terkejut lagi karena bungkusan itu berisi Hye Na. “Kami sedang main petak umpet, tapi aku tak bisa keluar dari sini,” tutur Hye Na sambil nyengir.

“Oppa, leluconmu cukup menakutkan. Bagaimana jika ada seseorang kesini dan melihatnya?” kata Mama Hye Na. Ahjussi, sambil terus bermain game, malah cengengesan sendiri. Mama Hye Na menyerahkan beberapa lembar duit dan menyuruh Hye Na main di luar rumah.


Seperti malam-malam sebelumnya, Hye Na duduk sendirian di pinggir jalan, belajar mengeja nama makanan dari selebaran. Tak lama kemudian, Soo Jin lewat dengan mobilnya. Melihat Hye Na, dia berhenti dan memanggil anak muridnya tersebut. “Anak kecil seharusnya tidak keluar selarut ini!” katanya.

Soo Jin memutuskan membawa Hye Na ke rumahnya, sembari mencoba menghubungi Mamanya Hye Na, yang sialnya tidak diangkat. Padahal sudah ditelpon berkali-kali.

Hye Na melihat biskuit cokelat, dan meminta izin Soo Jin untuk mengambil satu – alasannya untuk diberikan pada Jjing (marmutnya) – tapi sisanya dimakan sendiri. Soo Jin tanggap, lebih-lebih ketika dirinya melihat selebaran restoran yang Hye Na pegang. Dia pun membuatkan makanan buat Hye Na.


Makan malam selesai dimasak. Soo Jin dan Hye Na menyantap sambil chit-chat tentang latar belakang. Hye Na mengagung-agungkan Mamanya yang sangat baik padanya, pintar memasak, cantik, dan beraroma wangi karena kerja di toko kosmetik. Tiba-tiba dia bertanya, “Kenapa Bu Guru tak mengenakan make-up?”

Mata Soo Jin mengawang, lalu dari mulutnya mengalir cerita tentang Mamanya, yang secara garis besar sama seperti Mamanya Hye Na – cantik, baik, dan pintar dandan. Meski begitu, dia mengaku tak ingin menjadi seperti Mamanya. Hye Na mengerti, dan bertanya, “Apa yang disukai Bu Guru?”


“Burung,” jawab Soo Jin. Alasannya sederhana: burung tak pernah kehilangan arah, meskipun bermigrasi menyeberangi samudera sekalipun. Hye Na tampak antusias mendengar cerita Soo Jin tentang burung. Soo Jin mengajak Hye Na melihat burung-burung bermigrasi keesokan hari. Wajah Hye Na terlihat cerah, tapi beberapa detik kemudian kecerahannya menghilang. Dia yakin Mamanya pasti tengah mengkhawatirkan dirinya. Soo Jin terdiam.

HP Soo Jin berdering. Telpon dari Mama Hye Na. Dia menjauh dari Hye Na. Tak lama kemudian, dia kembali dan menyebutkan bahwa Mamanya Hye Na telah menghubunginya, meminta anaknya kembali.


Ketika hampir sampai di rumah Hye Na, ahjussi pacarnya Mama Hye Na berjalan keluar. Kebetulan Soo Jin yang mengendarai mobil juga sudah datang. Mereka berpapasan. Ahjussi melihat sekilas ke arah Soo Jin. Dang... itu membuat Soo Jin tersentak. Dia melihat ke spion dalam dan menemukan Hye Na menunduk. Pertanda bahwa Hye Na ketakutan. Soo Jin mencoba bersikap sewajar mungkin.

Sebelum turun, Hye Na meminta kepastian Soo Jin akan mengajaknya melihat burung-burung bermigrasi. Soo Jin mengiyakan. Pulanglah Hye Na ke rumah.

Saat itu, mendadak, benak Soo Jin dipenuhi kekerasan yang sepertinya pernah terjadi dalam hidupnya di masa lalu.


Soo Jin menemui rekan kerjanya untuk minta bantuan mengawasi Hye Na tetap aman. Dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi. “Aku khawatir, serasa mau marah!” katanya menjelaskan, “Tadi aku melihat pria yang tinggal bersama Hye Na dan Mamanya Hye Na. Itu pertama kali aku melihatnya. Dia melihatku dengan tatapan yang kukenal – mata “binatang” yang menghancurkan wanita dan anak-anak!”

Soo Jin pamit kepada atasannya, resign sebagai guru pengganti, sebab telah diterima kerja di tempat lain. Ye Eun terdengar sinis saat Soo Jin kembali ke mejanya. “Jadi, kau meneliti burung? Cocok, dengan karaktermu yang dingin dan menyeramkan.”


Selepas sekolah, Soo Jin memanggil-manggil Hye Na yang ngeloyor begitu saja tanpa mempedulikannya. “KIM HYE NA!” panggilnya lagi. Hye Na berhenti, menjelaskan bahwa dirinya kecewa terhadap Soo Jin yang sepertinya mengingkari janji mengajak dirinya pergi melihat burung-burung bermigrasi lantaran Soo Jin akan segera pindah.

Hye Na menemukan kandang Jjing di depan rumah. Dia menanyakan keberadaan Jjing kepada Mamanya. “Jjing sudah ke Surga!” sahut Mama enteng.


“Tapi Ma, surga kan tak ada,” timpal Hye Na. Itulah yang membuat Mama “mengakui” bahwa dirinyalah yang telah menghabisi Jjing, supaya Hye Na tidak bertanya-tanya lagi.

Soo Jin membereskan barang-barangnya, dan menemukan buku benda-benda favorit milik Hye Na. Dia pun membaca-bacainya.

Di saat bersamaan, ahjussi pacar Mamanya Hye Na datang dan membuka koper tempat tidur Hye Na. Hye Na bangun. Melihat ahjussi, dia ingin menangis tapi ditahannya karena Ahjussi mengancam akan menghabisinya bila keluar air mata. “Apa yang kukatakan terakhir kali pada anak yang berisik?”

“Tapi ahjussi, kita kan tinggal di lantai satu,” sahut Hye Na, “Jatuh dari lantai pertama takkan membunuhku.”


Ahjussi menceritakan tentang apa yang dilakukannya pada Jjing hingga Jjing pergi ke surga. Dia pun mengatai Hye Na terlihat menjijikkan, lalu sedikit mendandani Hye Na. Tak lama kemudian, dia menciumi Hye Na (argggh... menyebalkan!).

Mama Hye Na pulang dan melihat hal itu. Bukannya memarahi ahjussi, Mama menggampar Hye Na. “Dasar menjijikkan!”

Detik berikutnya, kita melihat ahjussi dan Mamanya pergi dengan mobil. Kemanakah Hye Na?


Soo Jin berniat mengembalikan buku catatan Hye Na, tapi dia malah menemukan Hye Na berada di kantong sampah depan rumah. Dia membukanya, dan tampak sangat shock.

Soo Jin terlihat ketakutan melihat luka-luka di sekujur tubuh Hye Na. Meski begitu, dia berusaha tetap mengambil foto Hye Na sebagai barbuk (barang bukti). Selesai mengambil foto, Hye Na bangun dan Soo Jin menawari makanan / minuman yang Hye Na inginkan. Hye Na ingin melihat burung-burung bermigrasi.


Mereka berdua melihat burung-burung bermigrasi. Hye Na pun menceritakan tentang Lee Hwan, seorang bocah yang dilempar ahjussi dari lantai 4 sebuah apartemen karena terlalu berisik. Soo Jin mendengarkan dengan seksama dan memasang perekam HP.

Hye Na menulis nama Lee Hwan di buku catatan supaya tidak melupakannya. Hanya dirinyalah yang tahu bagaimana Lee Hwan meninggal dunia. Selama ini, dia bungkam lantaran diancam ahjussi.

Tiba-tiba Hye Na berdiri dan berlari ke arah danau, meminta burung-burung yang sedang terbang membawanya ke surga. Soo Jin segera menahan Hye Na berlari lebih jauh ke arah danau.


Soo Jin pun berjanji akan membawa Hye Na pergi. “Hye Na, dengarkan aku baik-baik, aku akan membawamu pergi sejauh ribuan kilometer, dimana tak seorang pun akan menemukanmu.”

“Nanti Ibu dipenjara jika melakukan itu,” kata Hye Na sembari menangis.

“Ibu yakin bisa,” timpal Soo Jin, “Kamu boleh tidak pergi. Tapi sekali memutuskan pergi, kamu tidak bisa kembali lagi dan takkan pernah bertemu Mamamu lagi.”

Tangis Hye Na meledak. Dia merasa Mama telah membuangnya ke tempat sampah. Jadi dia juga tak mungkin bisa kembali ke rumah. “Sekarang, giliran kamu yang akan mengusir Mamamu. Maukah kamu melakukannya?”

Bersambung ke Call Me Mother Episode 2.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Call Me Mother Episode 1

0 komentar:

Post a Comment