Monday, July 31, 2017

Sinopsis School 2017 Episode 5 – Sesuatu yang Tidak Tercatat Di Evaluasi Siswa

Raja Sinopsis – Di School 2017 episode 4 sebelumnya, X menguakkan di depan Eun Ho. Ternyata dia adalah Tae Woon. Apakah itu benar? Baca selengkapnya dalam sinopsis School 2017 ep 5.

Sinopsis School 2017 Episode 5 – Sesuatu yang Tidak Tercatat Di Evaluasi Siswa


Eun Ho membuntuti Dae Hwi dengan keyakinan 99,99 persen bahwa Dae Hwi = X, bahkan tanpa jumper-nya sekalipun. Tiba-tiba tangan seseorang membekap mulutnya dan menariknya ke balik tembok, sehingga tidak terlihat ketika Dae Hwi berbalik karena merasa ada yang membuntutinya.

Pria dengan jumper hitam itu akhirnya mengungkapkan dirinya di depan Eun Ho. Dan dia adalah Tae Woon. Eun Ho kaget, tapi sejurus kemudian menuding Tae Woon hanya peniru perilaku urakan X seperti para siswa lainnya.

*



Eun Ho serta Tae Woon menuju gudang tua yang terletak di samping sekolah. Tae Woon menegaskan bahwa dirinya adalah si X yang asli. Kemudian menatap gudang tua yang terbuat dari peti kemas tua.

Di dalam gudang tua itu Eun Ho mengungkapkan ketidakpercayaannya jika Tae Woon adalah X yang asli. Bayangannya X itu tipe orang yang berjuang demi keadilan, ganteng, juga bagus nilainya. “Gue memenuhi semua kriteria itu kan?” timpal Tae Woon jumawa.

Eun Ho ingat pinggang X terluka waktu mau kabur lewat jendela. “Oiya, lo kan nggak punya luka di pinggang kan?” tanyanya kemudian. Tae Woon mengaku ada luka di pinggang, tapi agak ke bawah sedikit. Dia hendak membuka celananya, ingin menunjukkannya pada Eun Ho. Tindakan Tae Woon itu, malah membuat Eun Ho menutup mata. Ogah banget!


Rasa ketidakpercayaan Eun Ho mulai berubah jadi sedikit rasa percaya. Dia pun meminta penjelasan kenapa Tae Woon bermain-main menjadi X? Dia muntab ketika Tae Woon menjawab bahwa X hanyalah pelampiasan dari rasa kesal dan bosan. Dia juga menuding Tae Woon adalah bocah tidak berperasaan yang senang melihatnya kebingungan. Senyum di wajah Tae Woon berubah jadi keprihatinan. Maksudnya dia bukan begitu.

“Lo mungkin ngelakuin itu untuk menghilangkan rasa kesal dan bosan, tapi itu bikin gue menderita!” ungkap Eun Ho kesal, “Oh, gue paham, buat lo nggak masalah mau ketangkep ato nggak, toh bokap lo yang punya sekolah. Kalo pun ketauan nggak bakal ada masalah. Lo bisa melenggang kangkung begitu aja kan?”


Terdengar suara gedoran di pintu gudang. Pak Guru Myung dan Ibu Polwan Ji yang disana. Eun Ho berniat keluar dan melapor, tapi Tae Woon melarangnya. Dia khawatir jika Eun Ho melakukannya sekarang, maka orang-orang akan berpikir Eun Ho = kaki tangan X.

Setelah Pak Guru Myung dan Ibu Polwan Ji pergi, Tae Woon - Eun Ho keluar dari gudang. Eun Ho masih berniat melaporkan Tae Woo. Kesal dengan sikap Eun Ho, Tae Woon lantang menyuruhnya melapor.

*


Tae Woon pulang ke rumah, dan menemukan Pak Kepsek Jin tengah berdiskusi dengan Papanya tentang penilaian Dinas Pendidikan atas sistem yang diterapkan SMA Geumdo. Tidak seperti sebelumnya, kali ini dia membungkuk memberi hormat dan berlalu menuju kamar. Saat itu dia mendengar Papanya mengultimatum Pak Kepsek Jin untuk menangkap X, bahkan mengkategorikan perbuatannya sebagai kriminal yang perlu diperlakukan sesuai hukum berlaku.

*


Di dalam kamarnya, Tae Woon tercenung sendiri. Dia menatap kupon makan nasi-ayam gratis pemberian Eun Ho. Kata-kata Eun Ho yang menudingnya mempermainkan teman-teman masih teringang-ngiang di benaknya.

Sementara itu, Eun Ho menatap kesal sketsa X yang digambarnya bergigi tajam.

*


Keesokan paginya, Dae Hwi masih khyusuk membaca padahal itu di dalam bis. Nam Joo naik. Dia melihatnya dan segera memberikan tempat duduknya untuk Nam Joo sementara dia sendiri berdiri. Nam Joo memperhatikan Dae Hwi dengan sebal karena bersikap cuek padanya. Dae Hwi menyadari itu.

Pria yang duduk di sebelah Nam Joo turun, sehingga Dae Hwi bisa duduk di sebelahnya. Dae Hwi memberitahu buku yang dibacanya adalah buku catatan evaluasi siswa. Dia harus membaca semuanya sebelum mengisinya dan yakin Nam Joo takkan mengkhawatirkan hal itu, sebab sudah ada konsultan yang mengurusnya. “Apa kamu ngelakuin pekerjaan relawan di perusahaan bokap? Perusahaan yang dibuat kakek kamu. Ah, aku lihat perusahaan itu memiliki sejarah panjang ya. Simgang Logistics,” sebutnya, membuat Nam Joo tercengang.

*

Pak Guru Myung memberikan buku evaluasi kepada seluruh siswa di kelas Eun Ho. Dia meminta para siswa memasukkan semua hal yang bisa membantu menaikkan peringkat masing-masing, lalu membandingkannya dengan evaluasi tahun sebelumnya.

Teman yang duduk di depan Tae Woon melihat buku evaluasi Tae Woon, dan membacakan deskripsi yang ada di sana: sangat jelas dalam mengungkapkan pendapat. Tae Woon merasa ngeri dengan deskripsi tersebut. Dia memilih pergi dari kelas.

*

Pak Guru Myung menjelaskan kepada Ibu Polwan Ji tentang kegunaan buku evaluasi sekolah, yaitu catatan anak-anak yang bisa merekomendasikan masuk universitas idaman. Eun Ho muncul dari dalam kelas minta Pak Guru Myung memberikan komentar tentang buku evaluasinya. Dalam sebuah adegan yang tidak nyambung dengan adegan sebelumnya dikisahkan jika evaluasi Eun Ho berada di ambang kehancuran. Parah bangetlah pokoknya.

*


Pak Guru Myung menilai Eun Ho masih memiliki kesempatan masuk kuliah. Biar bagaimanapun, pihak universitas tidak menerima mahasiswa/i berdasarkan nilai semata, tapi juga aktivitas semasa SMA. Dia merasa Eun Ho harus memperdalam kemampuannya, terutama di bidang keuangan untuk bisa kuliah. Karena evaluasinya sangat buruk. Ha. Eun Ho kesal semua hal selalu dihubung-hubungkan dengan uang.

Meski begitu, Pak Guru Myung meminta Eun Ho tidak menyerah. Eun Ho menanyakan soal lomba menggambar sekolah. Pak Guru Myung berjanji menanyakannya ke dewan sekolah. Dia menyuruh Eun Ho untuk meminta saran dari sunbae-nya.

*


Di parkiran, Eun Ho menghubungi Jong Gun untuk menanyakan soal evaluasi siswa. Dia berniat menemui Jong Gun besok. Jong Gun tak mengizinkannya karena sibuk pacaran. Dia mengurungkan niatnya.

Tae Woon yang duduk di motornya berkomentar melecehkan, “Udah keliatan dari mukanya. Dia pria pengkhianat!” Eun Ho balas melecehkan dengan mengatakan jalannya ke Univ. Hanguk pasti mulus jika tidak diganjal begundal sekolah. Tae Woon mendengus. Dia menyuruh Eun Ho berhenti mengoceh. Biar bagaimanapun, dia tak ingin melihat Eun Ho putus sekolah.


Eun Ho berjanji mengawasi Tae Woon. Mungkin Tae Woon menanggapi lain kata "mengawasi". Dia tersenyum nakal, lalu menyuruh Eun Ho naik motornya supaya Eun Ho bisa mengawasinya. Ah...

*


Eun Ho mengajak Tae Woon ke toko buku, untuk membaca komik. Tae Woon heran bagaimana bisa menyukai komik yang kekanak-kanakan? Dia tak suka baca komik. Tapi... setelah beberapa waktu dia akhirnya ikut membaca dan terlihat menikmatinya sambil cekikikan. Eun Ho menatapnya. Tae Woon berdalih bahwa dirinya tertawa cekikikan bukan karena komiknya bagus tapi karena kekanakan.

Selepas dari toko buku, Eun Ho mengajak Tae Woon membagi-bagikan selebaran tempat les. Tae Woon terlihat malas-malas. Dia tidak terbiasa melakukan kegiatan di bawah terik matahari. Eun Ho menyuruhnya bersikap benar dalam membagikan selebaran. Jika tidak, dia mengancam akan Papanya Tae Woon. Dia kembali sigap membagi-bagikan selebaran. Saat itu Tae Woon tersenyum memandanginya.


Dae Hwi datang bersama Hee Chan. Dia menyapa Eun Ho. Ketika melihat Tae Woon, dia tak mengatakan apapun kecuali saling tatap-tatapan. Dia dan Hee Chan pamit pada Eun Ho masuk ke dalam tempat les.

*

Dae Hwi memberikan semua tugas Hee Chan. Saat itu Hee Chan berterima kasih Dae Hwi sudah mau repot-repot membuatkan tugas-tugasnya.

Dae Hwi menunggu di luar ruangan, sambil mencatat, ketika Hee Chan (didampingi Mama) sedang dinilai. Si penilai mengungkapkan bahwa Hee Chan masih kurang di bagian pengalaman multi kultural yang bisa jadi ganjalannya masuk kampus idaman. Waktu habis. Mama Hee Chan mengeluarkan uang, minta waktu tambahan. Penilai setuju, tapi waktu tambahan diberikan setelah penilai memberikan penilaiannya pada Dae Hwi.


Dae Hwi dinilai. Penilai mengungkapkan bahwa Dae Hwi akan sulit untuk masuk Univ. Seoul walaupun peringkat pertama di kelas. Tak ada yang istimewa dari penghargaan Dae Hwi yang sedikit. “Apa maksudnya dibutuhkan semacam kompetisi di sekolah?” tanya Dae Hwi. Penilai mengiyakan sembari mengembalikan berkas-berkas Dae Hwi.


Mama Hee Chan dengan angkuh menyuruh Dae Hwi mengambil tas jinjing merah yang ada di lantai, lalu memerintahkannya keluar ruangan. Dari luar, Dae Hwi bisa mendengar semua ucapan Mama Hee Chan yang memberikan tas cantik warna terang sembari bertanya, “Dae Hwi akan diterima di Univ. Seoul tanpa masalah kan?” Penilai mengiyakan. Dae Hwi mencelos mendengarnya.

*


Mama-mama dari para murid kaya menggelar pertemuan dengan Pak Kepsek Jin sambil makan siang. Mereka berharap pihak sekolah akan membantu anak-anak mereka menyempurnakan nilai evaluasi. Pak Kepsek Jin jelas mengiyakan. Dia akan menggelar kompetisi sebelum akhir semester.

*

Hee Chan menatap laporan siswa miliknya. Dia masih ada di peringkat 2 kelas dan sekolah. Dia mendecak kesal belum bisa mengalahkan Dae Hwi. Lebih-lebih setelah Mama yang telah berbuat banyak untuknya berpesan padanya untuk mengalahkan Dae Hwi.

*


Para guru rapat di ruang guru. Pak Guru Myung bicara di depan dewan guru. Dia ingin pihak sekolah memberikan kesempatan pada semua siswa, meski itu ditentang Pak Kepsek dan Pak Wakil Kepsek.

*


Young Gun menemui Pak Guru Myung untuk diberitahukan bahwa insiden pelanggaran yang dilakukannya takkan berdampak banyak evaluasi. Young Gun nyolot, menegaskan diri tidak ingin kuliah. Nilainya takkan cukup membawanya ke jenjang perguruan tinggi. Dia pergi. Pak Guru Myung tak bisa menahan Young Gun.

Ibu Guru Ran yang melihat hal itu berkomentar, “Jangan buang waktumu untuk anak-anak semacam itu. Tulis saja evaluasi singkat untuk mereka.”

*


Dae Hwi dan Eun Ho ada di perpus. Dae Hwi membuka situs tentang pelajaran, Eun Ho malah membuka situs webtoon. Eun Ho melenguh. Dia tak bingung harus mengisi evaluasinya dengan apa. Dae Hwi memberi ide supaya Eun Ho membuat evaluasinya ke dalam serial webtoon. Dia yakin responsnya pasti bagus karena Eun Ho jago menggambar. Eun Ho menaikkan sebelah alisnya, bertanya bagaimana Dae Hwi bahwa dirinya bisa menggambar toh tidak pernah melihat hasil gambarnya?

Eun Ho mengingatkan Dae Hwi bahwa mereka masih tetap harus melakoni hukuman bersih-bersih dari Pak Guru Koo.

*

Eun Ho, Tae Woon, dan Dae Hwi menemui Pak Guru Koo untuk laporan tugas selesai dijalankan. Pak Guru Koo menolak laporan tugas selesai. Dia masih menilai tugas bersih-bersih mereka bertiga belum benar-benar bersih, lalu menyuruh mereka bertiga pergi.


Saat ketiganya hendak berlalu, Pak Guru Seni memberitahu seorang murid ada di peringkat pertama kompetisi seni. Eun Ho kaget, bagaimana mungkin ada kompetisi yang tidak diumumkan? Murid kaya itu langsung kabur. Pak Guru Seni berdalih kompetisi sudah diumumkan, mungkin Eun Ho yang ketinggalan infonya. Eun Ho menuding kompetisi itu sengaja tidak diberitahukan padanya.

Pak Guru Seni bilang, “Nggak ada gunanya bagimu mengikutinya. Peringkatmu nggak cukup tinggi. Itu nggak akan membantumu masuk kuliah.” Eun Ho tidak peduli. Yang diinginkannya pihak sekolah berlaku adil, meskipun itu tidak membantunya sama sekali masuk kuliah. Dia menuding sekolah bersikap diskriminatif dan menyatakan bahwa tiap siswa SMA Geumdo punya hidup yang sama berharganya tidak hanya para murid top. Tae Woon takjub mendengar omelan Eun Ho.

*


Tae Woon dan Dae Hwi berpapasan dengan Ibu Guru Ran yang menanyakan soal kompetisi matematika. Tae Woon dan Dae Hwi kebingungan. Ibu Guru Ran memastikan Tae Woon akan mendapat info langsung dari Papa Hyun. Dia lalu pergi.

Dae Hwi nyinyir menyindir Tae Woon, kemudian berlalu pergi. Dia heran kenapa Tae Woon mau mengikuti kompetisi matematika?

*


Papa Hyun memberikan soal dan jawaban kompetisi matematika pada Tae Woon. Tae Woon menolak. Papa Hyun tidak peduli dan melemparkan berkas-berkas itu tepat mengenai foto Joong Ki.

Tae Woon melempar berkas-berkas itu ke lantai dan mengambil foto Joong Ki yang tertutup.

Kita kembali ke masa lalu, dimana kecelakaan maut yang menewaskan Joong Ki terjadi. Papa Hyun menghubungi seorang reporter untuk membuat, seolah-olah, kecelakaan disebabkan oleh Joong Ki sendiri. Karena dia melihat di rekaman CCTV jalanan, Joong Ki memotong jalur bis kota. Dae Hwi menghubungi smartphonenya tapi tidak diabaikan.


Di rumah duka, tak seorang pelayat pun terlihat kecuali Dae Hwi. Beberapa waktu kemudian, wakil Papa Hyun muncul memberikan uang duka cita pada Mama Joong Ki. Setelah wakil Papa Hyun itu pergi Mama Joong Ki menghampiri Dae Hwi. Saat itu Tae Woon datang dan melihat wakil Papanya pergi dari rumah duka.

Mama Joong Ki mengatakan pada Dae Hwi jika Joong Ki siap dikremasi besok, toh takkan ada pelayat yang datang. Dia mengenang Joong Ki sebagai putranya yang ingin keluar dari sekolah tapi punya semangat sekolah gara-gara Tae Woon dan Dae Hwi. Mama Joong Ki dan Dae Hwi menangis sesenggukan. Tae Woon melihat hal itu dari luar ruangan, tapi tak masuk dan memutuskan pergi begitu saja.


Mama Joong Ki datang mengemis ke sekolah, minta diizinkan masuk sekolah bersama abu Joong Ki. Tae Woon yang melihatnya pergi menemui Papa Hyun di ruangannya (sedang chit-chat dengan Pak Kepsek Jin). Dia mengemis supaya Mama Joong Ki diizinkan membawa abu Joong Ki ke dalam sekolah. Dia berjanji akan menuruti semua omongan Papanya jika dikabulkan. Papa Hyun pergi begitu saja diiringi Pak Kepsek Jin. Itulah kenapa dia selalu berusaha memberontak Papanya.

Kembali ke masa sekarang. Tae Woon masih menatap foto Joong Ki. Dia masih merasa menjadi pecundang. Dia melihat kupon makan gratis nasi-ayam, dan memutuskan untuk memesannya.

*


Eun Ho menemui Tae Woon di suatu tempat untuk mengantar pesanan nasi-ayam gratis. Tae Woon menggoda Eun Ho dengan pertanyaan apa ada gadis cantik yang dijanjikan Eun Ho ikut mengantarkan? Eun Ho mengiyakan. Tae Woon makin menggoda. Dia akan mencari cara lain mengganggu Eun Ho lain kali.

Tae Woon memuji Eun Ho yang sudah bekerja keras. Eun Ho mengiyakan supaya tidak merasa bersalah. Dia berjanji melakukan yang terbaik dalam hal apapun demi seseorang (Joong Ki-kah maksudnya?)

*


Kompetisi matematika diumumkan. Hee Chan memberitahu Dae Hwi bahwa jurinya adalah Profesor dari Univ. Seoul, jadi soal yang diberikan ada di tingkat rata-rata. Dae Hwi siap ikut serta.

*


Dae Hwi pergi ke toko buku. Di sana, dia mencari buku-buku soal dan berlatih sendirian. Dia menggila. Hidung mimisan tak dihiraukannya sama sekali.

*


Dae Hwi dan Hee Chan kembali belajar bersama. Saat itu seorang murid kaya lainnya muncul untuk minta jawaban pada Hee Chan untuk soal ujian kompetisi. Hee Chan kebingungan menjawabnya. Tapi murid kaya itu menyuruh Hee Chan bicara terus terang saja pada Dae Hwi, sehingga tidak ada yang ditutup-tutupi. Dae Hwi meremas kertas. Dia emosi, dan merasa dibohongi.

*


Hee Chan memberitahu Dae Hwi jika kompetisi matematika yang diadakan di sekolah dibuat khusus untuk anak-anak kaya seperti dirinya. Dia yakin tak ada tempat buat Dae Hwi sekarang.

Dae Hwi meninggalkan Hee Chan sambil menahan kesal yang bergemuruh di dada. Ketika berpapasan dengan Tae Woon, dia baru meluapkannya, “Uang memang sesuatu. Jika orang tuamu kaya, maka kau bisa pintar dengan sendirinya.”

Tae Woon bingung maksud Dae Hwi. Ujug-ujug mengatainya. Hee Chan memberitahu jika Dae Hwi marah gara-gara juara satu kompetisi matematika sudah ditentukan. Tae Woon melecehkan Hee Chan, “Kau benar-benar konsisten dengan kebusukanmu itu.”

*


Dae Hwi pulang, dan menemukan Mamanya membutuhkan tandatangannya supaya bisa mengeluarkan kartu kredit. Tentu saja Dae Hwi berang. Dia menyobek surat pernyataan kartu kredit, dan berteriak minta semua orang berhenti menekannya.

*


Pak Guru Myung memberitahu jika Dae Hwi memenangkan kontes di Univ. Hanguk. Dia yakin Dae Hwi bisa masuk di sana. Dae Hwi menegaskan bahwa dirinya takkan kuliah bila tidak di Univ. Seoul (soalnya itu kampus negeri yang bayarannya murah). Pak Guru Myung menyuruhnya memenangkan kompetisi matematika. Dae Hwi galau.

*


Tae Woon mengkritik cerita Eun Ho yang pahlawannya memberikan lemonade. Dia minta itu dijelaskan. Tiba-tiba dia baru menyadari dirinya dan Eun Ho duduk terlalu dekat, lalu memutuskan pindah tempat duduk. Ha. Eun Ho gerah dengan kritik itu. Dia keluar cari angin.

*


Saat itulah Eun Ho melihat X lainnya masuk ke ruang guru. Dia mengikuti X yang mengambil soal ujian kompetisi matematika. X melihat Eun Ho dan Eun Ho mengejarnya.

Tae Woon melihat Eun Ho mengejar seseorang. Dia pun ikut mengejarnya.


Eun Ho mengejarnya, dan dengan satu langkah cerdik berhasil memotong pergerakan X. Dia tahu identitas X yang asli, yaitu Song Dae Hwi. OMG! Apa yang terjadi berikutnya?

Ikuti tautlink berikut untuk membaca kelanjutan School 2017 sinopsis episode 6.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sinopsis School 2017 Episode 5 – Sesuatu yang Tidak Tercatat Di Evaluasi Siswa

0 komentar:

Post a Comment