Saturday, April 16, 2016

[Cerpen Horor] You're My Mine Part 1

Yeah, dua kali ini Rajasinopsis.com mengeluarkan fiksi. Kali ini yang Rajasinopsis hadirkan adalah cerpen horor anak SMA. Mau tahu aja atau mau tahu banget ceritanya? Karena agak panjang, Rajasinopsis bagi dalam dua part ya.

Cerpen Horor Anak SMA "You're My Mine" Part 1, cerpen horor anak sekolah, cerpen horor fantasi.

You're My Mine Part 1

Begitu tersadar, aku berada di sebuah ruang kerja—yang lebih mirip disebut bengkel dengan peralatan yang tersebar di sana sini. Tubuhku terpancang kencang pada sebuah tiang. Di sana, ada Joon dan Mang Odjo. Pakaian mereka sudah berganti. Joon memakai baju berwarna hijau mirip dokter, sedangkan Mang Odjo memakai baju berwarna biru mirip perawat.

Aku bingung, apa yang sebenarnya tengah terjadi?

Suasana berubah horor. Bulu kuduk di tengkukku berdiri semua. Aku ingin berteriak – setidaknya ingin bertanya apa yang terjadi – namun tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutku. Padahal, tidak ada apapun yang menyumbatnya.

Kedua mataku melihat aktivitas mereka yang sepertinya sedang mempersiapkan sesuatu. Hidungku pun mencium sesuatu, yang sepertinya sudah tidak asing lagi bagiku.

WAX!

Bau itu menguar-nguar di udara. Apa yang terjadi? Lebih tepatnya apa yang akan terjadi padaku?

You're My Mine Part 1

Teeettt… suara bel masuk terdengar bertalu-talu ke seluruh penjuru sekolah. Menandakan jam-jam pelajaran membosankan akan segera dimulai.

Aku mendecak. Pasalnya, lamunanku pada seorang cowok ganteng yang berdiri mematung di depan kantor guru terganggu. Sambil berjalan masuk ke kelas, aku berpikir, siapa cowok ganteng itu? Sepertinya baru pertama kali ini kulihat dia. Siapa dia?

Pertanyaan itu terjawab bersamaan dengan datangnya Pak Salimi, yang mengampu mata pelajaran Matematika ke kelas. Ternyata cowok ganteng yang kulihat berdiri di depan kantor itu adalah siswa baru, yang akan menjadi penghuni kelasku.

“Selamat pagi anak-anak,” sapa Pak Salimi dengan senyuman, “Hmm… kali ini, sebelum memulai pelajaran, Bapak mau kasih tahu dulu kalau kita punya temen baru loh. Nah, Joon, silakan perkenalkan dirimu pada temen-temen di sini.”

Cowok ganteng yang rambutnya setipe dengan Aldi Taher tersebut, melangkahkan kakinya satu langkah ke depan. Lalu, dia memendarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas dengan wibawa dan kharisma yang tidak pernah kulihat pada teman-teman cowok satu sekolah lainnya.

“Halo, perkenalkan namaku: Joon. Aku murid pindahan SMA Pelita Hati 13 di Bandung,” kata Joon sambil tersenyum ramah. Senyum paling menawan yang pernah kulihat. Sepertinya aku jatuh hati padanya. “Hmm, apa ada yang ditanyakan?” Tidak ada sahutan. “Sepertinya cukup ya perkenalannya.”

Joon mundur lagi ke tempatnya semula dan melihat kepada Pak Salimi—tanda dia sudah selesai memperkenalkan diri.

“Nah, Joon, karena bangku yang tersisa cuma ada di sebelah Hana, mau nggak mau, kamu harus duduk di sana. Hana, tolong Joon, jangan dinakali ya,” tukas Pak Salimi, tersenyum-senyum nakal, diiringi derai tawa seisi kelas. Membuat diriku tersipu malu.

Joon berjalan ke arahku. Aku melihatnya. Dia melihatku. Dan segera duduk persis di sebelahku. Cewek-cewek lain pasti iri denganku. Hatiku dag-dig-dug-der-daiya melihat Joon duduk di sebelahku. Tapi, aku sudah bisa bersikap bagaimana caranya menghadapi cowok. Walaupun, aku tidak secantik Yoona SNSD, beberapa cowok di sekolah ini “memburuku” untuk dijadikan kekasih. Yeah, meskipun pada akhirnya aku menolak, baik secara halus maupun secara tegas. Bukan aku pilih-pilih. Tidak seorang cowok pun di sekolahku, berhasil mencuri hatiku.

Namun, untuk cowok satu ini, aku memberikan pengecualian. Bahkan, saat kali pertama melihatnya berdiri di depan kantor guru, hatiku telah tercuri olehnya. Aku jadi teringat lagu Pencuri Hati yang dinyanyikan Gisel.
Kepadamu pencuri hatiku, yang tak kusangka kan datang secepat ini.

Ya, aku juga tidak menyangka jika secepat ini Joon mencuri hatiku.

Sesaat setelah duduk di sebelahku, wajah Joon mendekati wajahku. Membuatku grogi setengah hidup. Dia bertanya, “Kamu, Hana kan?”

Aku tergeragap, namun berusaha tetap tenang. “Ya,” sahutku.

Mataku memperhatikan penjelasan Pak Salimi dalam membicarakan angka-angka. Padahal, pikiranku sama sekali tidak konsentrasi.

“Namanya, cantik. Secantik orangnya!”

“Hahaha…” aku terkekeh pelan.

“Kapan-kapan mau jadi modelku ya?”

“Model?” Aku mengernyitkan dahi, “Kamu pelukis?”

Joon menggeleng. “Aku perupa.”

Aku hanya bisa ber-oh dengan pelan. Takut Pak Salimi mendengar.

Baca sambungan cerpen horor anak sekolah “You're My Mine” part 2. (Raja Sinopsis)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : [Cerpen Horor] You're My Mine Part 1

0 komentar:

Post a Comment