Friday, January 9, 2015

'Timun Mas' - Part 1

Cerita 'Timun Mas' merupakan salah satu cerita rakyat Indonesia yang cukup terkenal. Berkisah tentang seorang perempuan tua bernama Mbok Sirni yang mendapatkan seorang gadis cantik dari bibit timun yang diberikan seorang raksasa, dengan janji akan mengembalikannya setelah 17 tahun. Setelah bertahun-tahun kemudian, raksasa datang kembali menemui Mbok Sirni menagih janji. Sayang, Mbok Sirni ingkar dan menyuruh Timun Mas kabur dengan membawa tiga perbekalan: paku, garam, dan kacang. Itu versi konvensionalnya, tapi versi yang kalian baca di blog Goryeon ini berbeda. Mau tahu bedanya? Baca dong ya... :D

'Timun Mas' - Part 1

Tidak seperti biasanya, raut wajah Mbok Sirni terlihat tegang dan kaku. Dia tahu harinya sudah tiba. Hari dimana dia harus berpisah dengan Timun Mas, seorang gadis manis yang telah dirawat dan dibesarkannya selama delapan belas tahun ini. Perlahan, Mbok Sirni bangkit dari duduknya. Dia membuka tirai kain penutup kamar Timun Mas. Dilihatnya Timun Mas tengah berdandan.

Mengetahui Ibunya menengoknya, Timun Mas berhenti berhias diri. Dia menengok ke belakang dan bertanya, "Apa yang Ibu lakukan di depan pintu?"

Mbok Sirni tersenyum mendengar pertanyaan Timun Mas. Dia kemudian masuk dan berdiri di belakang Timun Mas, menyisir rambut panjang anak gadisnya. Ketika tengah menyisir tak terasa air mata Mbok Sirni terjatuh. Timun Mas menyadari itu. Dia sedikit terhenyak, tidak biasanya Ibunya bertingkah aneh seperti itu. Dia pun menanyakan, "Ibu, kenapa? Kenapa menangis?"

Bukannya menjawab, air mata Mbok Sirni justru makin deras tertumpah. Dia keluar kamar Timun Mas. Makin tidak mengertilah Timun Mas dengan apa yang terjadi. Dia keluar kamar untuk mengetahui apa yang telah terjadi?

Dilihatnya Ibunya yang semakin renta duduk di kursi reyot. Timun Mas mendekat dan bertanya, "Ceritakanlah Ibu. Apa yang sudah terjadi?" Mbok Sirni terdiam. Dia menatap mata Timun Mas. Pada akhirnya, dia menarik napas dan menghembuskannya. Air matanya telah berhenti sekarang.

"Maafkan Ibu, Nduk," tutur Mbok Sirni memulai obrolan, "Sebenarnya sudah lama ingin kuceritakan ini padamu. Tapi, ketika bertatapan denganmu lidahku terasa kelu." Timun Mas mengernyitkan dahi.

Dari bibir Mbok Sirni terungkaplah cerita bahwa delapan belas tahun silam, seorang raksasa datang ke gubuk reyot ini. Aku merasa itu jawaban doa yang kupanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Betapa senang aku dengan jal ini. Pada akhirnya, setelah beberapa tahun mengarungi bahtera rumah tangga, akhirnya aku memiliki seorang anak yang akan meneruskan kehidupanku ini. Yang jadi masalah adalah raksasa itu memberikanku anak tidak dengan cuma-cuma. Ada satu syarat yang diberikannya. Bahwa setelah delapan belas tahun, dia akan kembali lagi, mengambil anak itu, mengambilmu Timun."

Timun tak dapat menyembunyikan perasaan terkejutnya. Meski begitu dia tetap berusaha tenang mendengarkan cerita Ibunya - Ibu yang telah membesarkannya. Mbok Sirni bangkit dari kursinya dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak berapa lama kemudian, dia kembali dengan membawa sebungkus kain. Dia membuka bungkusan itu di depan Timun. Isi bungkusan itu terdiri dari paku, beras, kacang, dll.

Timun bertanya, "Untuk apa semua itu?" Mbok Sirni menjawab kalau itu untuk melindungi diri Timun Mas dari sang raksasa. Dia mengatakan bahwa jika harinya sudah tiba, maka dia memerintahkan Timun Mas untuk lari sambil menebarkan semuanya. Tujuannya tentu saja supaya raksasa tidak bisa menangkap Timun Mas.

Timun Mas mengembalikan bungkusan itu pada Ibunya. "Aku tahu semua ini bertujuan baik, tapi bukankah tidak adil jika Ibu telah mendapatkan sesuatu dari si raksasa dan telah menyepakati syaratnya kemudian Ibu mengingkarinya begitu waktunya tiba?" tanya Timun Mas. Mbok Sirni sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Timun Mas. "Jadi, menurutku begini Bu. Aku akan menghadapi raksasa itu sesuai dengan perjanjiannya..." Mbok Sirni memotong ucapan Timun Mas. Dia tidak mau. Tidak rela kehilangan putri yang sudah dibesarkan selama delapan belas tahun terakhir.

Timun Mas menenangkan Ibunya dan mengatakan dia juga tidak ingin Ibunya mengajarinya ingkar janji. "Bukankah selama ini Ibu selalu menanamkan untuk selalu jujur, berbaik sangka kepada orang lain? Apakah raksasa itu bilang akan mencelakaiku waktu berpesan akan kembali?"

Mbok Sirni manggut-manggut. "Dia bahkan berjanji akan memakanmu!" jelas Mbok Sirni. Hal itu tentu saja membuat Timun Mas bergidik. Diam-diam hatinya menciut. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana tubuhnya dikoyak dan dimakan nanti. Meski begitu, dia menguatkan hati. Apa yang telah diajarkan Ibunya selama ini saatnya untuk diaplikasikan. Timun Mas tetap berkata bahwa dia akan menanggung segala risikonya. Meledaklah tangis Mbok Sirni hari itu. Dia meraung-raung, minta supaya Timun Mas mengasihaninya. Pun demikian, hati Timun Mas sudah bulat. Dia akan menghadapi apapun yang akan terjadi nanti.

Selanjutnya silakan baca cerpen 'Timun Mas' - part 2.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : 'Timun Mas' - Part 1

0 komentar:

Post a Comment