Sunday, January 11, 2015

Sinopsis 'Kill Me, Heal Me' Episode 1 (Bagian 2)

Sebelumnya baca: sinopsis 'Kill Me, Heal Me' episode 1 - bagian 1.

Sinopsis 'Kill Me, Heal Me' episode 1 - bagian 2

Pasca ribut di bandara, seolah tak terjadi apa-apa, Ri On menyetir dan bernyanyi-nyanyi riang. Dia memberikan botol soju untuk Ri Jin supaya ikut bernyanyi bersama. Ri Jin merebutnya dan memukuli Ri On sambil menukas, “Kau ini skizofrenia (kepribadian ganda)?” Ri On justru enteng menjawab bahwa seharusnya Ri On bangga punya oppa keren penulis cerita misteri, sekaligus mengingatkan bahwa dirinya tidak memiliki penyakit yang disebutkan Ri Jin tadi.

Ri Jin mendengus dan meledek nama pena Ri On, yaitu Omega. Ri On menjelaskan bahwa napen Omega itu diambil dari nama Omega-3. Kemudian, dia berceloteh tentang keluarga kerajaan Inggris, yang tidak ada hubungannya dengan obrolannya. Kepala Ri Jin pening mendengar celoteh Ri On yang meloncat jauh dari topik sebelumnya. Jeez. Dia makin tambah kesal waktu Ri On mengatakan bahwa wajah plus karakternya merupakan ciri yang akan membawanya menjadi seorang kaya-raya. Pada akhirnya, dia kembali memukuli Ri On lagi dengan botol soju, tak peduli oppa-nya itu tengah mengemudi.

Ri On mengarahkan mobil yang ditumpanginya dan Ri Jin ke RS. Saat itu bibir Ri Jin terlihat manyun. Sebelum Ri Jin keluar mobil, Ri On mengingatkan bahwa biarpun berjauhan mereka tetap bersama di dalam hati dan jika ada masalah maka Ri Jin harus bisa belajar secepatnya. Ri Jin keluar setelah mengingatkan Ri On supaya wartawan tidak menghubunginya lagi. “Oppa minta maaf deh,” sahut Ri On sambil memperbaiki rambut Ri Jin, “Tapi bisakah psikolog menghilangkan dendam lama?”

Seorang pria dengan wajah terluka berteriak-teriak antah setelah turun dari mobil ambulans. Ri Jin yang melihatnya langsung senang. Dia segera menghampiri pria itu, yang ternyata adalah pasiennya, dan bertanya jika siapa yang telah menganggu kenyamanannya? Si pasien mengatakan, “Apa salahnya aku ini ganteng hah?” Ri Jin mengangguk, kemudian memanggil perawat untuk menangani pasien itu. Selanjutnya, Ri Jin melepaskan coat-nya. Sekarang, dia siap menjadi dokter bagian gangguan mental dan kejiwaan.

Pasien yang tadi baru datang membuat keributan. Dia menggenggam tempat gantungan infus. Orang-orang ketakutan, tapi Ri Jin maju dengan gagah berani dan mengatakan akan memberikan soju pada sang pasien bila menuruti apa kata-katanya. Sang pasien terlihat lulut, tapi sikap itu berubah begitu Ri Jin mendekat. Dia memukulkan tempat gantungan infus pada Ri Jin – beruntung Ri Jin berhasil menghindar.

Belum menyerah, sang pasien meloncat naik ranjang dorong untuk mendekati Ri Jin, kemudian Ri Jin memutar ranjang tersebut, hingga sang pasien terjengkang. Sebelum terjatuh ke lantai, Ri Jin menangkapnya lantas membantingnya (sama ajah hasilnya :p). Dia pun segera meringkus sang pasien dan memberikan obat penenang. Setelah tenang, dia berjanji memberikan soju untuknya.

Saat Ri Jin melakukan tindakan heroik melawan sang pasien, Ri On rupanya menontonnya. Dia memuji adiknya, setelahnya kembali ke mobilnya. Saat mengambil charger HP, tampak buku gede di dalam tasnya. Dia mengambilnya dan sempat melihatnya, tapi langsung meletakkannya lagi. Buku gede itu isinya kliping berita dan foto wajah Cha Do Hyun.

Kedatangan Do Hyun ke rumah disambut oleh pelayan dan Ketua Ahn.

Terdengar suara seorang wanita memanggil Nenek Seo Tae Im, “Ibu, apa dia terluka? Di mana kau menyembunyikannya? Ini yang kedua puluh kalinya kau tendang dia! Kau pikir dia kuda catur? Kau pikir tubuhnya bakal membaik begitu saja, setelah kau tendang dan pindah-pindahkan seperti ini? Apa yang ada di pikiranmu, Bu?” – masih misteri siapa yang mereka bicarakan.

Nenek Tae bertanya kepada wanita yang menyemprotnya (Nyonya Shin Hwa Ran), “Dari mana kau bicara sekasar itu? Apa tidak bisa bicara baik-baik?” Nyonya Shin mengakui bahwa dirinya memang sengaja bicara kasar, toh dia merasa memiliki hak untuk mengetahuinya. Nenek Tae mendengus dan mempertanyakan siapa Nyonya Shin – apa punya putra (pewaris)?

Nyonya Shin terbata-bata berkata, “Aku... aku... aku punya putra kok! Do Hyun, Putranya Joon Pyo. Cucumu! Satu-satunya pewaris sah Seung Jin Grup. Dia lahir dari rahimku!”

“Sudah berapa kali kukatakan Do Hyun bukanlah anakmu!” sahut Nenek Tae, nada suaranya tinggi, “Kau masih ingat dengan konsekuensi atas pilihanmu kan, setelah putus hubungan dengannya?” Dia berdiri, dan membeku sejurus kemudian ketika melihat Do Hyun berdiri di hadapannya.

Do Hyun membungkuk, memberikan penghormatan. Nyonya Shin mendekati Do Hyun untuk memberikan sambutan hangat sekaligus memberikan tatapan sinis pada Nenek Tae.

Saat makan, Nenek Tae memberitahu Do Hyun tujuannya kembali ke Korea, yaitu menjadi pemimpin Seung Jin Grup. Namun, sebelum itu, Nenek Tae menegaskan bahwa Do Hyun akan berlatih menjadi wakil Presdir perusahaan hiburan yang masih menjadi bagian dari Seung Jin Grup. Berita ini cukup mengejutkan Do Hyun – kemudian ingat perkataan Se Gi, di video HP, yang enggan menjadi pemimpin Seung Jin Grup.

Do Hyun berniat menyampaikan pikirannya, tapi keburu Nyonya Shin bicara. Kemudian, Nenek Tae mengatakan bahwa Do Hyun harus hidup mandiri dan tinggal di rumah terpisah. Nyonya Shin mencoba membela Do Hyun. Tapi keputusan Nenek Tae seperti keputusan dewan juri – mutlak dan tak bisa diganggu gugat. Do Hyun pasrah saja menerima nasib. Nenek Tae mengingatkan Do Hyun untuk belajar pada Ki Joon – sepupunya Do Hyun.

Ketua Ahn mengantar Do Hyun ke rumah untuk ditinggalinya. Do Hyun terlihat gusar, dan bertanya apa yang akan terjadi padanya mulai sekarang? Ketua Ahn berjanji akan membantu apapun yang menjadi pilihan Do Hyun, lagipula saat ini keluarga besar belum mengetahui kejiwaan Do Hyun. Dia hanya meminta Do Hyun untuk menyembunyikannya sementara dirinya mencari solusi terbaiknya. Pun demikian hal itu tidak membuat Do Hyun yakin – dua puluh tahun terakhir dirinya tak berhasil menemukan obat bagi penyakitnya. Namun Ketua Ahn meyakinkan Do Hyun akan terus mencari solusinya sampai dapat.

HP Do Hyun berbunyi. Dia menemukan nama Cha Ki Joon di layar, kemudian memperlihatkannya kepada Ketua Cha – seolah tak ingin menjawab panggilan itu. Ketua Ahn mengangguk, memberi izin Do Hyun untuk mengangkatnya. Apa yang dilakukan Ki Joon hanyalah sekadar “say-hello” (basa-basi), tapi Do Hyun yang malas menimpali langsung menutup percakapan – menyatakan dirinya ingin istirahat dulu.

Selepas bicara dengan Do Hyun, Ki Joon melapor pada Ayahnya (Cha Young Pyo) bahwa Do Hyun sepertinya masih ogah balik Korea. Young Pyo mengingatkan Ki Joon untuk tak anggap enteng Do Hyun dan memerintahkannya untuk cari tahu titik lemahnya. “Ada masa saat kelemahan itu menjadi aibnya.

Di sisi lain, Ketua Ahn tahu jika kepentingan Ki Joon menghubungi Do Hyun didasarkan atas perintah Young Pyo yang coba cari kelemahan Do Hyun. “Kau tidak membicarakan pengobatanmu di Amerika kan?” tanyanya. Do Hyun mengaku telah membicarakannya dengan Ki Joon.

Sementara itu seorang dokter berwajah gahar berjalan, diiringi anteknya. Nama dokter ini adalah Seok Ho Pil. Dia meminta Ri Jin memberinya keterangan terkait pasien yang akan ditanganinya. Secara runut, Ri Jin menjelaskan mengenai pasiennya yang bernama Nona Husky.

Dokter Ho menyapa Nona Husky, yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tak ada sahutan dari balik selimut. Ri Jin berinisiatif membangunkannya. Namun, begitu menepuk selimut, sadarlah dia bahwa itu bukanlah tubuh Nona Husky, melainkan bantal. Terbukti ketika selimut disingkap hanya ada bantal dan sebuah catatan yang ditulis Nona Husky yang menyatakan bahwa dirinya akan ke Paradise saja. Karena, RS tidak cocok menurutnya. Di Paradise, dalam catatan itu, Nona Husky merasa bebas – bisa menari dan menyanyi sesuka hati.

Dokter Ho tampak kecele. Karenanya, dia meninggalkan Ri Jin begitu saja. Bosnya Ri Jin mendekat dan memarahi Ri Jin yang telah kehilangan pasien. Tidak peduli apapun, dia perintahkan Ri Jin menemukan Nona Husky. Secepatnya!

Seperti disebutkan oleh Nenek Tae bahwa Do Hyun akan dijadikan wakil Presdir perusahaan hiburan. Nah, perusahaan hiburan yang dimaksud adalah “The Paradise”. Dia pun pergi menuju perusahaannya, diantar oleh Ketua Ahn yang berpesan untuk menghubunginya bila terjadi sesuatu.

Di The Paradise, Do Hyun disambut oleh para karyawan. Dengan senyuman canggung, Do Hyun mendekati Ki Joon yang kemudian memperkenalkannya di depan para karyawan sebagai Direktur Do Hyun. Begitu pula sebaliknya, Ki Joon memperkenalkan para karyawan sebagai tim kesenian di proyek IDN Tour.

Ki Joon memberikan Do Hyun wine. Namun, dia teringat pesan Ketua Ahn yang memintanya tidak minum alkohol. Karena itu, Do Hyun lebih memilih segelas air mineral. Seorang wanita cantik bergaun panjang dengan punggung terbuka masuk ke ruangan. Do Hyun menelan jakunnya untuk mengekspresikan keterkejutan dirinya atas kecantikan wanita yang bernama Han Chae Yun. Melihat Do Hyun, sang wanita cantik melemparkan senyum termanisnya.

Ketika kita memperhatikan, Ki Joon menyeringai. Sepertinya, akan ada orang yang termakan jebakannya.

Di RS, Ri Jin mencoba menelpon HP Nyonya Husky untuk melacak sinyal GPS-nya. Sayang, HP itu direkatkan di bawah tempat tidurnya. Ri Jin mengambilnya dan menemukan catatan di sana bertuliskan: “Mau deteksi HP-ku? Percuma! Silakan kirim ke “The Paradise”. Ada acara gratis ultah ke-30 Moderato (guru besar Whikey) loh.”

“Jeez!” Hanya itu suara yang muncul dari mulut Ri Jin.

Chae Yun dan Ki Joon membicarakan Ji Sun, putri kedua Grup Myung Song. Mereka coba menjodoh-jodohkan Do Hyun dengannya. Pembicaraan ini membuat Do Hyun tak nyaman, sehingga tanpa sadar dia meneguk wine. Dia menjawab bila tak menyukai Ji Sun seperti yang mereka sangka, dan merasa Ji Sun tak cocok dengannya. Ki Joon menyindir bila Do Hyun bak seorang pengecut – mencintai diam-diam!

Chae Yun coba pecahkan suasana. Dia bertanya apa ada wanita lain yang Do Hyun suka? Ki Joon memintanya bertanya langsung. Chae Yun memang bertanya, tapi pertanyaannya lebih ditujukan untuk dirinya sendiri – memancing pemikiran bahwa yang disukai Do Hyun adalah dirinya. Cih!

Do Hyun terdiam. Beberapa karyawan IDN masuk, mengajak mereka melantai – dansa.

Tapi, Do Hyun sepertinya tidak tertarik. Dia hanya berdiri di lantai atas, di mana di lantai bawah musik terdengar hingar bingar membius setiap orang untuk dancing. Dia menatap orang-orang berjoget. Matanya lebih tertuju pada Ki Joon dan Chae Yun, yang terlihat berangkulan dan saling membisiki.

Dalam satu kilas balik, tampak Do Hyun tengah menantikan kedatangan Chae Yun di sebuah kafe (ingat kejadian penyiraman yang dilakukan wanita gengster?). Ya, itulah hari di mana dirinya janji bertemu Chae Yun. Ketika pada akhirnya Chae Yun tiba, Do Hyun justru menyembunyikan wajahnya supaya tidak dikenalinya. Maklum, wajahnya kuyup, jadi tak mungkin menemui Chae Yun hari itu.

Do Hyun menatap kedekatan Ki Joon dan Chae Yun getir. Well, sepertinya hubungan Do Hyun dan Chae Yun merenggang akibat kejadian hari itu.

Seorang wanita mendekati Do Hyun, dan mengatakan bahwa dia memahami apa yang Do Hyun rasakan. Perasaan sendirian dan kotor, di mana ada sesuatu yang keluar dari dirinya. Wanita yang mengaku seorang psikolog itu memberikan kartu namanya pada Do Hyun. Sayang, Do Hyun tidak tertarik. Dia menolaknya dan berniat pergi. Tapi, sang psikolog menahan kepergiaan Do Hyun. Mendadak tangan sang psikolog menunjuk seseorang. “Itu dia, pasienku!” tunjuknya – menunjuk Ri Jin.

Ri Jin mendongak melihat ke arah Do Hyun dan sang psikolog yang kita ketahui bernama Nona Husky. Nona Husky berniat kabur, tapi giliran Do Hyun yang menahan tangannya. Ri Jin bergegas menuju tempat Do Hyun dan Nona Husky.

Ketika mereka saling berhadapan, Do Hyun menghalangi Ri Jin menangkap Nona Husky. Dia salah paham, karena mengira Ri Jin adalah pasien Nona Husky. Ri Jin berusaha jelaskan, tapi karena Do Hyun ngeyel terpaksa Ri Jin mengeluarkan jurus andalannya bantingan maut! Do Hyun mengerang kesakitan. Ri Jin meminta maaf. Saat itu, Do Hyun merasa Se Gi akan mengambil alih tubuhnya dan pergi meninggalkan Ri Jin begitu saja.

Hal ini sempat membuat Ri Jin bimbang, kejar Do Hyun atau Nona Husky? Tapi, akhirnya Ri Jin memutuskan untuk mengejar Nona Husky saja.

Do Hyun kabur ke kamar mandi sambil memegangi kepalanya. Dia memohon Se Gi tidak muncul dulu, kemudian mengambil obatnya di saku jas. Sayang jari-jarinya terlalu kaku untuk digerakkan, alhasil obatnya pun berceceran ke mana-mana. Pada akhirnya, kemunculan Se Gi tidak bisa dibendung.

Keluarlah dia dari dalam toilet sambil menggebrak pintunya. Seorang preman yang tengah memakai eyeliner sampai salah gara-gara terkejut. Se Gi mendengus fashion style sang preman, “Cih, gaya apa ini?” Jelas sang preman emosi tingkat tinggi, sudah mengagetnya meledek gayanya pula. Belum sempat bertindak, Se Gi lebih dulu bergerak.

Ketika keluar dari dalam kamar mandi, dandanan Se Gi berubah dengan jaket kulit dan eyeliner pinjaman sang preman. Melihat Do Hyun dengan gaya berbeda, Ki Joon melihatnya sekilas.

Sang preman menelpon temannya untuk menceritakan bahwa dirinya baru saja dilucuti seseorang. (It's time to a revenge!)

Sementara itu, Ri Jin sudah berhasil menangkap Nona Husky dan menyerahkannya pada Dokter Park. Teringat Do Hyun, Ri Jin kembali ke dalam. Dia merasa harus melakukan sesuatu di sana. Baru mau masuk, tangan Ri Jin ditahan seorang pria... ternyata dia adalah Se Gi. Ri Jin bertanya apa Se Gi baik-baik saja setelah dibanting?

Se Gi tidak menjawabnya dan hanya melihat pukul berapa sekarang melalui jam tangan Ri Jin. Saat itu, pukul sepuluh kurang sedikit. Se Gi mengatakan bahwa dirinya menantikan pukul dua belas. “Pada 7 Februari 2015, pukul sepuluh kurang, aku jatuh cinta padamu!”

Meledaklah tawa Ri Jin mendengarnya. Tak mungkin Se Gi menyukainya begitu saja – kenal nama saja tidak. 'Kau tak sakit mental kan untuk bilang aku wanita pertama yang memperlakukanmu secara kasar?' gumam Ri Jin. Tapi, tawa Ri Jin makin meledak, ketika Se Gi seolah menjawab apa yang digumamkan Ri Jin adalah kebenaran. Ri Jin mengatakan bahwa dia akan pura-pura tak pernah mendengarnya.

Dia pun berlalu, tapi langkahnya terhalangi oleh serombongan anak motor. Mereka punya urusan dengan Se Gi. Preman yang bajunya dipinjam Se Gi minta Se Gi mengembalikan pinjamannya. Ri Jin punya pikiran jika Se Gi dan sang preman memiliki kecenderungan menyukai sesama. Dia pun meminta Se Gi melepaskan jaket sang preman, tapi Se Gi menolaknya, meskipun Ri Jin mengatakan itu bukan dari kulit asli.

“Haruskah kita mencobanya?” Se Gi menyunggingkan senyuman. Dia kemudian mendorong Ri Jin keluar arena perkelahian. Tanpa komando, serombongan anak motor ini berkelahi dengan Se Gi. Tapi, Se Gi ini jago banget, karena berhasil menjatuhkan anak-anak motor ini dengan mudah. Kemudian dia mendekati Ri Jin.

Ri Jin memekik, “Di belakangmu!” Se Gi berbalik dan sebuah balok kayu menghantam tepat di kepalanya. Jika saja itu Do Hyun pasti sudah terjengkang begitu saja, tapi dalam kondisi sebagai Se Gi balok kayu itu tak mudah menumbangkannya. Mata Ri Jin membelalak melihat Se Gi berhasil bangkit, seolah-olah tak ada cedera serius pada tubuhnya.

Selanjutnya baca: sinopsis 'Kill Me, Heal Me' episode 2 - bagian 1.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sinopsis 'Kill Me, Heal Me' Episode 1 (Bagian 2)

0 komentar:

Post a Comment