Wednesday, January 21, 2015

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 228

Sebelumnya baca: sinopsis 'Jodha Akbar' episode 227.

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 228

Merasa gelisah, Raja Jalal mondar-mandir. Kekesalannya muncul ketika dirinya teringat pada ucapan PM Maham yang meyakinkannya bahwa Ratu Jodha telah berselingkuh. Dia menggumam telah melakukan kesalahan besar dengan termakan ucapan PM Maham dan bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa aku tak mempercayaimu yang jelas-jelas takkan melakukan hal jahat? Kenapa aku tak menunggumu memperjelas semuanya?”

Di tengah kegelisahan sang raja, Ratu Jodha tengah khusyuk sembahyang di kuil. PM Maham berjalan cepat-cepat untuk menemui Raja Jalal. Namun, langkahnya tertahan oleh prajurit penjaga yang memintanya tidak masuk, karena sang raja tak ingin diganggu. PM Maham memerintahkan prajurit penjaga untuk melaporkan kedatangannya. Tetap saja, Raja Jalal tidak ingin menemuinya. PM Maham tak kurang akal – dia berteriak memanggil-manggil sang raja untuk menemuinya. Tetap Raja Jalal tak bergerak menemuinya. Merasa diacuhkan, PM Maham pergi dengan wajah tertekuk. Sepanjang jalan, dia bicara pada dirinya sendiri.

Sementara itu, di kamarnya, Mariam Makani bertanya pada Ratu Salima mengenai kondisi Raja Jalal. Ratu Salima menyahut bahwa Raja Jalal merasa terkhianati dengan ulah PM Maham, dan kini merasa trauma. Mariam Makani teringat kala PM Maham sembunyi-sembunyi pergi ke hutan – bertanya-tanya apa yang dilakukan sang perdana menteri.

Di sisi lain, Ratu Ruqaiya sedang merapikan kamarnya. Ini sebagai persiapan menyambut kedatangan Raja Jalal yang tengah gelisah ke tempatnya. Dia meminta para pelayan mendekorasi kamarnya, membawa catur, minuman, dan para musisi.

*
Raja Jalal menemui Mariam Makani dan menyalahkan dirinya sendiri telah gagal menjadi suami, putra, raja, dan manusia yang baik. Mendengar itu, Mariam Makani memarahinya. Dia menyatakan bahwa sebagai suami, Raja Jalal mungkin gagal, tapi sebagai seorang raja, tidak! Dia meminta Raja Jalal percaya diri – karena dia adalah Raja Humayun dan Raja Babur!

Mariam Makani mengatakan, “Apapun keputusan Anda, saya yakin itulah keputusan yang tepat. Anda harus menegakkan keadilan tanpa mempersoalkan hubungan yang telah terjalin. Hanya saja, ingat-ingatlah selalu bahwa PM Maham telah banyak berkorban untuk Anda. Andalah yang memutuskannya, dan takkan ada yang berani menentangnya. Apapun keputusannya, tak boleh Anda sesali!”

Di kamar PM Maham, Resham menangis sedih. Itu lantaran Raja Jalal akan menghukum PM Maham yang telah banyak membantu sang raja.

Mariam Makani masih melanjutkan ucapannya. Dia menyatakan bahwa PM Maham telah berbuat banyak pada sang raja. Bahkan, telah mengikuti kata-katanya tanpa bertanya. Dia meminta Raja Jalal berbuat adil dengan melihat kedua sisi – biar bagaimanapun PM Maham telah berbuat jahat sekaligus berbuat baik. Untuk itu, tetap harus membalas kebaikannya.

Raja Jalal manggut-manggut mendengar nasihat Mariam Makani. Meski begitu, dia masih merasa kesalahan PM Maham jauh lebih besar, karena telah mencoba memfitnah (memutarbalikkan fakta). Tak ada kebaikan yang bisa menolong orang seperti itu. Bahkan, mencoba memisahkannya dari orang yang dicintainya dan memperalatnya dari tuduhan palsu terhadap seseorang yang dicintainya.

PM Maham sendiri bertanya-tanya, apakah Raja Jalal akan menganggap pengorbanannya atau akan langsung menghukumnya atas pengkhianatannya yang dilakukannya sekali (yang ketahuan :p).

*

Ratu Ruqaiya bertanya-tanya di mana Raja Jalal belum datang ke kamarnya. Wajahnya terlihat cemas.

Sepertinya Ratu Ruqaiya akan kecele, soalnya Raja Jalal pergi ke kamar Ratu Jodha. Dia membayangkan Ratu Jodha sedang memainkan alat musik sambil bernyanyi di depan mandir. Tak lama setelah itu, Moti datang. Raja Jalal menyatakan ingin tidur di kamar Ratu Jodha. Karena itu, dia pergi untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Raja Jalal terduduk murung. Seorang pelayan membawa lukisan Ratu Jodha lewat. Raja Jalal menahannya dan meminta si pelayan memperlihatkan lukisan itu. Seperti kokain, lukisan itu membuatnya merasa lebih tenang. Dia meminta si pelayan meletakkan lukisan tepat di mana matanya bisa memandanginya. Tanpa berkedip, Raja Jalal menatap lukisan Ratu Jodha dalam. Perasaannya campur aduk, antara menyesal dan mencinta.

Pelayan Ratu Ruqaiya melapor bahwa Raja Jalal berada di kamar Ratu Jodha. Mendengar hal itu, Ratu Ruqaiya meminta mereka semua bubar! Dia bertanya kenapa Raja Jalal memilih kamar Ratu Jodha, padahal biasanya datang menemuinya? Dia menjungkir-balikkan isi kamar.

Bersama pelayan lainnya, Moti mempersiapkan kamar Ratu Jodha untuk dipakai tidur Raja Jalal. Saat itu, Raja Jalal bertanya apa Moti mengetahui bahwa Dilawar KW adalah Sujamal? Moti mengiyakan, tapi dirinya tidak diminta memberitahu oleh Ratu Jodha. Karena dalam adat Rajvanshi, tidak diperkenankan membocorkan rahasia bila tidak dikehendaki, bahkan bila harus kehilangan nyawa. Raja Jalal menyatakan, “Tapi dalam adat Rajvanshi juga tidak diperkenankan kan meninggalkan suami?” Moti terdiam dan menjawab semoga Ratu Jodha segera kembali.

Raja Jalal menggeletak di tempat tidur Ratu Jodha dan berharap sang ratu kembali. “Demi Allah kembalilah padaku, Ratu Jodha. Hidupku tak lengkap tanpamu,” ucap Raja Jalal. Di saat bersamaan, Ratu Jodha terbangun. Hatinya tak tenang teringat sang raja.

Selanjutnya baca: sinopsis 'Jodha Akbar' episode 229.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 228

0 komentar:

Post a Comment