Wednesday, January 14, 2015

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 179

Sebelumnya baca: sinopsis 'Jodha Akbar' episode 178.

Pada episode sebelumnya, Ratu Jodha meminta Raja Jalal untuk membebaskan Sharifudin dari penjara sebagai hadiah untuk Bakshi. Ratu Ruqaiya cemburu melihat keduanya makin dekat dan sepak terjang Ratu Jodha dalam memengaruhi keputusan Raja Jalal.

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 179

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 179

Alis Ratu Ruqaiya meninggi mendengar pengakuan suaminya. Dia mempertanyakan apa sang suami lebih menikmati bermain catur manusia melawan madunya? Entah ingin menggoda atau bagaimana, Raja Jalal mengiyakan pertanyaan. Dia bahkan menambahkan akan bermain dengannya setiap hari bila ada memang waktu dan kesempatan tersedia.

"Lagipula, baru kali ini aku bisa menang bermain catur manusia. Aku tak pernah memang sekalipun darimu untuk urusan main catur Ratu Ruqaiya." Mendengar Ratu Jodha kalah, ekspresi wajah Ratu Ruqaiya berubah. Dia terkekeh, menertawakan kekalahan wanita dari Amer itu.

"Kamu senang Ratu Jodha kukalahkan?" Ratu Ruqaiya mengangguk. Raja Jalal mendesah dan bertanya kenapa sesama istri raja saling bermusuhan?

"Saya tak ingin orang lain mengambil apa yang kumiliki!” sahut Ratu Ruqaiya, “Oiya, Baginda, maukah sekarang Anda bermain catur bersama saya?" 

Raja Jalal menyahut bila saat ini bukan waktu yang tepat untuk bermain catur. Karena, mereka harus mengikuti upacara siraman calon jabang bayi Bakshi. Segera Ratu Ruqaiya menyahut bila dirinya telah menyiapkan hadiah untuk Bakshi. Raja Jalal diam saja melihat antusiasme Ratu Ruqaiya.

Ratu Ruqaiya - "Apa yang Anda pikirkan Baginda?"

Raja Jalal - "Aku sedang memikirkan apa hadiah yang tepat untuk Bakshi."

Ratu Ruqaiya - "Tenanglah, Baginda, saya telah menyiapkan hadiah khusus untuk Bakshi, sebuah hadiah spesial dari kakak dan kakak iparnya."

Meski begitu, wajah Raja Jalal tidak memperlihatkan ekspresi senang. Seperti dia tengah memikirkan mengenai apa yang Ratu Jodha utarakan soal pembebasan Sharifudin sebagai hadiah atas kehamilan Bakshi.

Upacara siraman calon jabang bayi Bakshi pun dimulai. Hal pertama yang dilakukan adalah upacara tuladaan, semacam acara menimbang bobot tubuh Bakshi dengan emas yang akan disedekahkan kepada rakyat. Ibu Suri Hamida dan Ratu Jodha membantu Bakshi berdiri di satu titik timbangan sementara satu titik lainnya mulai diisi beragam emas dan perhiasan yang diletakkan ke dalam sebuah guci.

Ketika mengambil giliran meletakkan emas ke dalam guci setelah Ibu Suri, Ratu Jodha tidak sadar mata Ratu Ruqaiya menatap tak suka. Setelah meletakkan emas dan perhiasannya, Ratu Jodha kembali berdiri di dekat Bakshi. Raja Jalal kemudian datang

Setelah acara timbangan itu, dilanjutkan acara pemberian hadiah dari para ratu untuk Bakshi Bano. Ibu Suri Hamida meminta Gulbadan selaku Bibinya untuk memberikan hadiah di urutan pertama. Namun, Gulbadan menolak dan justru meminta Ibu Suri memberikannya terlebih dulu. Tak mau berdebat panjang lebar, akhirnya Ibu Suri memberikan hadiah di urutan pertama, yaitu sepatu bersulam emas.

Pasca Ibu Suri memberikan hadiahnya, giliran Gulbadan yang memberikan hadiah. Selanjutnya, para ratu lainnya bergantian memberikan hadiah untuk Bakshi. Kemudian, Ratu Ruqaiya menyunggingkan senyumannya ketika gilirannya tiba. Dia memberikan Bakshi hadiah yang disebutnya sangat spesial, yaitu ayunan bayi – idenya didapat dari hadiah ayunan yang diberikan Ratu Jodha kepada Raja Jalal di meena bazar. “Semoga aku bisa menjadi Bibi yang disenangi calon anakmu nanti ya Bakshi,” tukas Ratu Ruqaiya. Para ratu lainnya saling berbisik, menggunjing bahwa Ratu Ruqaiya telah mencontek ide Ratu Jodha tersebut.

Waktu gilirannya tiba, Ratu Jodha hanya memberikan susu kepada Bakshi. Namun, dia tersenyum setelahnya dan mengatakan bahwa dirinya dan Raja Jalal telah mempersiapkan hadiah yang sangat spesial untuk Bakshi. “Saya akan membiarkan Baginda yang memberikan hadiah itu untukmu, Bakshi,” tukasnya. Kemudian, Raja Jalal bertepuk tangan sebanyak dua kali. Sharifudin pun muncul. Sontak, wajah Bakshi membeku, begitu pula orang-orang yang ada di sana. Mereka semua kaget!

Di saat seperti itu, waktu seolah berhenti bagi Raja Jalal. Ingatannya melayang saat dirinya kesal dan marah ketika Ratu Jodha memintanya untuk membebaskan Sharifudin. Ratu Jodha menjelaskan bahwa Sharifudin-lah orang yang telah memberinya informasi soal Benazir.

“Kenapa dia tidak memberitahunya padaku?” tanya Raja Jalal sedikit memekik.

“Hmm... mungkin dia tidak yakin Anda akan mempercayainya?”

“Kamu mau aku membebaskan orang yang telah melawanmu?” tanya Raja Jalal dengan tatapan penuh selidik.

Ratu Jodha membenarkannya. “Yah, biar bagaimana pun dia melawan saya, bukan melawan Anda. Tolonglah Baginda, bebaskan Sharifudin, biarkan dia menemani Bakshi dan membentuk keluarga bahagia. Ini bakal jadi hadiah sangat istimewa baginya.”

Selesai mengingat itu, perasaan Raja Jalal baik-baik saja. Dia justru merasa senang sekarang. “Aku membebaskan Sharifudin karena memiliki alasannya. Karena dia telah menginformasikan soal Benazir. Bila ada yang tidak menyukainya, silakan bilang sekarang juga.” Raja Jalal menunggu reaksi dari semua orang yang hadir di sana. Tak ada reaksi. Dengan demikian, Raja Jalal mempersilakan Bakshi menemui Sharifudin.

Tanpa dikomandoi lebih lanjut, Bakshi menghampiri Sharifudin. Keduanya saling bertatapan, mesra. Bakshi memeluk Sharifudin untuk melepaskan kerinduan yang telah terpendam selama ini. Sementara itu, Sharifudin mengecum rambut Bakshi – tapi matanya jelalatan menatap Ratu Jodha penuh nafsu, aish.

Ibu Suri Hamida melontarkan pujian kepada Raja Jalal dan Ratu Jodha, karena telah memikirkan satu-satunya hadiah yang tentunya sangat diidam-idamkan Bakshi. Pujian ini sedikit melegakan Raja Jalal dan Ratu Jodha. Mereka merasa telah melakukan hal yang benar. Karena itu, mereka saling bertatapan dan melontarkan senyuman. Ratu Ruqaiya melihat itu semua dengan tatapan penuh rasa cemburu.

Di tempat terpisah, Adham Khan mencak-mencak setelah mendengar Raja Jalal membebaskan Sharifudin. Kini, dia merasa memiliki pesaing dan wilayah operasi militernya kini dipersempit – dibagi kepada Sharifudin. “Gagal sudah rencanaku!” pekiknya.

“Memangnya apa rencanamu?” tanya PM Maham, yang juga kesal dan gemes sama seperti Adham Khan.

Adham Khan menyahut, “Aku ingin menjadi Perdana Menteri, Ibu.”

Di tengah-tengah kepusingan mereka, Javeda muncul – membuat mereka berdua jadi tambah pusing. Karena itu, PM Maham buru-buru mengusirnya, tapi Javeda ngeyel tidak mau pergi. Adham Khan dengan geram kemudian ikut mengusir istrinya yang cantik jelita itu. Pada akhirnya, Javeda pergi karena merasa suasana hati Adham Khan terhadap PM Maham tidak dalam kondisi bagus.

“Sabarlah, Anakku,” tukas PM Maham kemudian, “Dalam politik kamu harus bisa menyimpan amarah tanpa harus memperlihatkannya kepada orang lain. Tunggu dan lihat kapan waktu yang tepat untuk mengeluarkan amarah itu!”

Pasca-menemui putranya, PM Maham menemui Ratu Ruqaiya. Seperti biasa dia berusaha terus mengipasi api cemburu Ratu Ruqaiya terhadap Ratu Jodha. “PM Maham, aku heran dengan Baginda, kenapa dia seperti kerbau dicolok hidung bila berhadapan dengan Ratu Jodha? Kenapa dia setuju melepaskan Bakshi dan Sharifudin dari hukum?” tanya Ratu Ruqaiya.

PM Maham manggut-manggut. Dia setuju dengan pemikiran Ratu Ruqaiya. Mulai dia mengamplas luka hati ratu kepala itu, dengan menyebutkan bahwa sepertinya Ratu Jodha mulai mengambil alih segalanya, termasuk posisinya sebagai Perdana Menteri. Ratu Ruqaiya menenangkan PM Maham bahwa hal itu tak mungkin terjadi, sebab biar bagaimana pun Ibu Maham adalah salah seorang kesayangan Raja Jalal.

Bisa ditebak, PM Maham tidak setuju dengan ide Ratu Ruqaiya. Pasalnya, dia menilai Ratu Jodha dan Raja Jalal makin lengket menempel bak perangko. Dia menyebutkan contohnya saat Ratu Ruqaiya mencoba memindahkan kamar Ratu Jodha, maka Raja Jalal tidak setuju. Opini itu berhasil membuat Ratu Ruqaiya geram.

“Hoshiyar!” panggil Ratu Ruqaiya. Hoshiyar datang tergopoh-gopoh. “Panggilkan Ratu Jodha kemari!”

Ratu Jodha baru saja keluar kamar ketika Bakshi dan Sharifudin menyapanya. Dia membalas sapaan itu, dan bertanya, “Apa yang kalian lakukan di sini?”

Bakshi tersenyum dan mengatakan bahwa kedatangannya hanya untuk mengucapkan terima kasih. Atas kebaikan Ratu Jodha, kini dia bisa berkumpul bersama Sharifudin lagi. “Anda adalah cahaya Tuhan, Ratu Jodha,” tukas Bakshi, kemudian memeluk kakak iparnya itu.

“Kita semua ada di sini berkat Anda, Ratu Jodha,” sambung Sharifudin, “Dan semuanya terjadi gara-gara Ratu Jodha, baik itu di penjara dan dibebaskan.” Entah kenapa mendadak Sharifudin memperlihatkan perasaannya terhadap Ratu Jodha. Dia menatap sang ratu dengan tatapan penuh awang-awang. “Kini, aku tak perlu lagi melihat orang yang kucintai melalui gambar, melainkan langsung dengan di depan mataku sendiri,” celetuknya.

“Eh, kamu tidak bilang kalau punya gambarku?” tanya Bakshi, yang tidak tahu sebenarnya makna kalimat terakhir Sharifudin. Hal ini membuat Sharifudin tersadar. Dia kemudian cengengesan dan mengalihkan bicaranya bahwa hanya gambar itulah satu-satunya hiburannya untuk melepaskan kerinduannya terhadap Bakshi – padahal dalam hati Sharifudin mengatakan terhadap Ratu Jodha.

Ratu Jodha merasa senang telah bisa membantu Bakshi dan Sharifudin untuk mendapatkan kesempatan kedua. Namun, dia mengingatkan supaya keduanya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia meminta Sharifudin menunjukkan kesetiaannya terhadap Raja Jalal dengan memberikan pelayanannya yang terbaik bagi kerajaan dan rakyat Mughal. Selain itu, Sharifudin harus memenangkan beragam peperangan. Setelah mengucapkan itu, Ratu Jodha pamit dari hadapan keduanya.

“Pokoknya aku takkan membiarkanmu pergi dari sisiku,” kata Bakshi kepada Sharifudin yang tampaknya memiliki pemikiran lain di benaknya. Sharifudin menggumam bila dirinya senang bisa melihat Ratu Jodha dengan mata kepala sendiri.

Selanjutnya baca: sinopsis 'Jodha Akbar' episode 180.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 179

0 komentar:

Post a Comment