Tuesday, January 6, 2015

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 171

Sebelumnya baca: sinopsis 'Jodha Akbar' episode 170.

Dalam episode sebelumnya, Raja Jalal dan Ratu Jodha melakukan perjalanan bersama ke Sikri tanpa diganggu oleh Ratu Salima dan Ratu Ruqaiya sebagai istri spesial lainnya. Namun saat itu, Ratu Ruqaiya mendendam kembali pada Ratu Jodha untuk mempertahankan posisinya sebagai ratu kepala.

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 171

sinopsis jodha akbar episode 171

Rombongan Raja Jalal telah berangkat ke Sikri. Semua orang mengenakan pakaian rakyat. Ratu Jodha bahkan hanya mengenakan pakaian tradisional Rajput dan Raja Jalal menyamar dengan menambahkan jenggot palsu. Beberapa kali, Raja Jalal menatap Ratu Jodha dengan tatapan khawatir – sementara yang ditatapnya terlihat sangat senang. Sempat beberapa kali Ratu Jodha berjalan terhuyung-huyung, sehingga Raja Jalal menangkapnya dan membuatnya tegak kembali. Terlihat sikap protektif Raja Jalal kepada Ratu Jodha.

Rombongan telah tiba di sisi sungai, di manta telah menunggu perahu untuk mereka tumpangi. Raja Jalal dan Ratu Jodha jelas naik satu perahu. “Ayo,” ajak Raja Jalal mengulurkan tangannya. Ratu Jodha memegang uluran tangan Raja Jalal, kemudian melangkahkan kakinya ke atas perahu. Keseimbangan Ratu Jodha mendadak hilang dan hampir saja terjatuh dalam pelukan Raja Jalal. Kedua sempat canggung, tapi Raja Jalal terus bergerak membantu Ratu Jodha duduk. Mereka duduk saling berhadapan.

Pendayung pun mulai mendayung perahu. Belum sampai di tengah, Raja Jalal meminta pendayung berhenti dan bertanya, “Hari ini, seseorang menyerangku dengan panah, tapi bukan untuk membunuhku, melainkan untuk menyelamatkanku. Aku belum berkesempatan untuk berterima kasih. Pertanyaanku, kenapa kamu tidak mengenainya? Kamu kan sangat pandai memanah – kenapa tidak mengenainya?”

“Tujuanku adalah menyelamatkan Anda, bukan membunuh Benazir. Jika kulakukan itu, bagaimana bisa kubuktikan dia bersalah, toh Anda sama sekali tidak pernah mempercayai kata-kata saya tanpa bukti,” sahut Ratu Jodha.

“Ya, dan setelah aku percaya padamu, kamu datang ke kemarku dan menyuruhku pergi...” Ratu Jodha tertegun mendengarnya. “Kemudian, aku tidak mengerti kenapa kamu rela minum racun?” Ratu Jodha tidak sempat menjawabnya, karena Raja Jalal langsung memerintahkan pendayung untuk mendayung lagi perahunya. Ratu Jodha sempat kesal, tapi hanya dibalas dengan tatapan menggoda Raja Jalal.

Sesampainya di seberang sungai, para pengawal Raja Jalal dan Ratu Jodha sudah menunggu. Raja Jalal kemudian mengingatkan mereka semua untuk tidak memanggilnya dengan sebutan raja, melainkan saithji (juragan atau bos). Mereka mengiyakan, “Ya, Yang Mulia!” Raja Jalal memandang mereka dengan galak dan berkata tidak ada raja di sini. Semua orang tersenyum, termasuk Ratu Jodha juga. Mereka kemudian bergerak kembali.

“Terus, saya harus memanggil Anda siapa?” tanya Ratu Jodha dalam logat Rajisthani.

“Aku suami, kamu istri,” sahut Raja Jalal dengan logat yang sama, membuat Ratu Jodha terkejut. Raja Jalal meledek, “Terkejut? Kenapa? Apa kamu berpikir aku tak bisa bicara dengan loga ini?” Ratu Jodha hanya tersenyum saja.

*

Adham Khan datang menjenguk Sharifuddin di dalam bui. Dia mengejek bahwa Sharifuddin akan mati membusuk di dalam sel penjara, di mana sang istri (Bakshi Bano) akan mengenangnya dalam kesedihan. Setelah itu, dia akan mengambil alih untuk menenangkannya.

Sharifuddin terkekeh dan yakin jika itu takkan terjadi, sebab dirinya akan bebas sesegera mungkin. Akan ada seseorang yang membantu membebaskannya. “Siapa?” tanya Adham Khan kepo. Sharifuddin menolak memberitahunya. Baru setelah Adham Khan pergi, dia berpikir bahwa Ratu Jodha-lah orang yang akan membebaskannya dari sel penjara terkutuk itu.

*

PM Maham datang ketika Javida sedang bersama para pelayan. Keduanya saling memberi salam. “Apa yang kamu lakukan Javida?” kata PM Maham, melihat para pelayan di sana.

Javida menggeleng dan menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Karena itu, PM Maham kemudian meminta semua pelayan untuk pergi. Setelah itu, Javida segera menyodorkan gelas, meminta Ibu Mertuanya itu untuk meminumnya. PM Maham melakukannya tanpa protes sedikit pun, tapi kemudian dia bertanya apa yang diminumnya?

Javida menjelaskan jika dia tengah melakukan pengujian bandhi, membiarkan para pelayan meminumnya dalam satu gelas yang sama untuk mengetahui apakah ada racun atau tidak. Pengujian ini berakhir saat PM Maham meminumnya. Dia menarik kesimpulan tidak ada satu racun pun yang akan membunuh Ibu Mertuanya.

Penjelasan itu membuat PM Maham marah. Sebagai seorang petinggi negara, tentu minum dalam satu gelas dengan para pelayan membuatnya jijik. “Kamu telah membuatku minum dari gelas bekas para pelayan? Kamu ini masalah terbesarku!” pekik PM Maham, lalu pergi meninggalkan Javida justru terlihat senang.

Javida kemudian mencicipi bandhi dari gelas yang sama. Dia berkata bahwa PM Maham sama sekali tidak beracun. Hahaha...

*

Rombongan Raja Jalal masih terus bergerak ke Sikri. Ratu Jodha duduk di atas tandu sementara Raja Jalal berjalan mengiringinya di sampingnya. Sesekali, keduanya bertatapan, membuat bibir mereka tersungging senyuman manis. Benak Ratu Jodha pergi saat Pesta Perayaan Ganghaur, di mana dirinya melihat bayangan wajah Raja Jalal di dalam air danau. Saat itu, Ratu Jodha menatap bayangan wajah suaminya itu sambil tersenyum.

Di saat bersamaan, Raja Jalal juga mengingat pertemuan pertama kalinya dengan Ratu Jodha, ketika mengikuti Perayaan Ganghaur di Amer – dia tengah menyamar. Saat itu, dia mengikuti berjalan di sisi tandu Ratu Jodha dan menatapnya terus – keadaannya persis sekarang ini. Yang menjadi perbedaannya adalah mereka belum saling mengenal saat itu. Bibir Raja Jalal tersenyum mengingat semuanya.

Kemudian kain Ratu Jodha tersingkap, sehingga gelang kakinya terlihat. Hal itu membuat Raja Jalal kembali teringat waktu menemukan gelang kaki Ratu Jodha yang lepas dulu di Amer. Sementara itu, Ratu Jodha menyadari jika Raja Jalal menatap kakinya buru-buru menutup kembali kakinya dengan kain. Sesampainya di Dabba, Ratu Jodha meminta supaya mereka semua beristirahat. Raja Jalal setuju.

Rombongan Raja Jalal ini mampir di sebuah warung makan dan berbaur dengan rakyat biasa – sambil mendengarkan obrolan akar rumput khas warung kopi. Rakyat sedang membicarakan Benazir si iblis beracun yang datang membunuh Raja Jalal, tapi beruntung karena Ratu Jodha menyelamatkannya. Hal ini membuat Ratu Jodha tersenyum.

Yang lain menimpali, jika Raja Jalal juga tak kurang berjasanya dibandingkan Ratu Jodha. Di tengah-tengah kondisi parahnya terkena racun Benazir si iblis beracun, Raja Jalal meminta seluruh rakyat mendoakan sang istri.

Di tengah-tengah perdebatan, antara siapa yang melakukan lebih besar: Raja Jalal atau Ratu Jodha, ada seorang yang mengatakan jika apa yang dilakukan Ratu Jodha untuk Raja Jalal seperti Savitri yang menyelamatkan Styavaan. Itu adalah bentuk kecintaan Ratu Jodha kepada Raja Jalal!

Pernyataan itu membuat Raja Jalal menatap Ratu Jodha yang tak bisa berkata apa-apa. Raja Jalal berkata pelan kepada Ratu Jodha, “Andai bisa kuungkapkan saat kamu mendorongku.” Mendengar kata-kata Raja Jalal, mata Ratu Jodha menatap Raja Jalal galak dan membalas jika suaminya telah melakukan hal yang kejam padanya. Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk terlibat dalam cekcok kecil. Pada akhirnya, Raja Jalal memilih diam, seolah mengalah pada Ratu Jodha. Pasalnya, dia ingin bicara banyak dengan Ratu Jodha nanti dan tak ingin dibetein. Setelah didiamkan, muncul kesaling-pengertian di antara mereka berdua, terlebih ketika saling bertatapan, mereka tersenyum. Cieh.

*

Setelah beristirahat cukup, rombongan Raja Jalal mulai bergerak kembali. Ratu Jodha kembali naik ke atas tandunya, dan tertidur. Sambil senyum, Raja Jalal menatapnya. Dalam hati, dia berkata, 'Kamu ini seperti malaikat jika tidur, tapi jika bangun seperti bumbu yang pahit!' Hahaha...

*

Ketika rombongan Raja Jalal akan melewati sebuah gerbang, langkah kaki mereka tertahan oleh prajurit Mughal yang meminta uang lewat sebesar 200 koin emas sebagai izin meneruskan perjalanan. Tentu saja Raja Jalal menolaknya, karena tidak ada aturan izin membayar sejumlah uang tertentu untuk lewat. “Ini sudah peraturannya!” jelas prajurit penjaga gerbang, “Jika tidak mau bayar, maka kami akan menempatkan kalian ke dalam sel.”

Pengawal Raja Jalal hendak mengeluarkan pedang untuk membungkam para prajurit penjaga itu. Namun, Raja Jalal menahannya. Dia mengatakan, “Baiklah, aku tidak apa-apa masuk sel, tapi lepaskan istri saya.” Ratu Jodha langsung menolak usulan Raja Jalal dan ingin bersamanya di manapun. Raja Jalal menatap Ratu Jodha.

“Kalian berdua ini seperti sepasang merpati yang sedang kasmaran, tak mau dipisahkan,” ledek prajurit penjaga, “Masukkan mereka berdua di dalam sel yang sama.”

*

Di dalam penjara, Raja Jalal menyuruh Ratu Jodha duduk di dekat napi perempuan, sementara dia sendiri duduk di dekat napi laki-laki. Seorang napi mendekati Raja Jalal dan bertanya apa yang telah diperbuatnya? Raja Jalal secara bercanda mengatakan jika dirinya telah melakukan pencurian. Napi tadi tertawa-tawa kencang dan mengatakan, “Kalau begitu kita adalah jenis yang sama?” Raja Jalal memandangi napi itu.

Ini membuat Ratu Jodha kebingungan, lantaran napi laki-laki itu tampak akrab betul dengan suaminya. Namun, dia menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Saat itu Raja Jalal memandanginya. Dari balik dupatta-nya, Ratu Jodha juga mencuri pandang wajah Raja Jalal.

Selanjutnya baca: sinopsis 'Jodha Akbar' episode 172.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 171

0 komentar:

Post a Comment