Monday, January 5, 2015

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 170

Sebelumnya baca: sinopsis 'Jodha Akbar' episode 169.

Pada episode sebelumnya, Maan Singh dan Mirza Hakim telah kembali dari medan perang.  Namun, mereka berdua tidak langsung menemui Raja Jalal, melainkan menemui Ratu Jodha terlebih dulu untuk mengetahui kondisinya. Raja Jalal kemudian menyusul dan mengajak mereka semua ke aula istana.

Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 170

sinopsis Jodha Akbar episode 170

Di depan semua orang di aula, Raja Jalal menyatakan bahwa Maan Singh dan Mirza Hakim telah kembali dari medan perang dengan kemenangan mutlak. Merendah, Maan Singh menyebutkan jika orang yang telah bertempur dengan gagah berani dan sangat pintar adalah Mirza Hakim. Sebaliknya, Mirza Hakim mengatakan bahwa Maan Singh-lah yang telah berjuang dengan keberanian luar biasa, bahkan menyelamatkan dirinya sekali. Ibu Suri Hamida dan Ratu Jodha senang mendengar Mirza Hakim dan Maan Singh saling memuji. Meski begitu, diam-diam, Adham Khan menatap semua itu dengan tatapan tidak senang, terlebih setelah Raja Jalal memberikan pujian.

“Bhagwandas telah menyelamatkan saya sekali. Sekarang kamu telah menyelamatkan adikku. Terima kasih,” puji Raja Jalal.

Maan Singh menjawab jika itu sudah menjadi kewajibannya. Sebagai seorang Rajvanshi pantang baginya melanggar janji yang telah dibuat sebelumnya. Raja Jalal mengangguk, mengerti dengan apa yang dikatakan Maan Singh padanya. Kemudian, Raja Jalal mencuri pandang pada Ratu Jodha.

Raja Jalal mengumumkan, “Ratu Ruqaiya telah memiliki sikap yang baik, karena itu kuhadiahi dia Chanderi.”

Semua orang memberi selamat kepada Ratu Ruqaiya. Sayangnya, Ratu Ruqaiya meminta maaf karena tidak bisa menerimanya. “Chanderi merupakan milik Bairan Khan, jadi sepatutnya diberikan kepada pemilik sahnya, yaitu Rahim - yang diwakili Ratu Salima,” ungkap Ratu Ruqaiya. Atas sikapnya ini, Raja Jalal lagi-lagi memujinya yang dinilainya telah berbuat baik.

Pada akhirnya, Raja Jalal memberikan Chanderi tersebut pada Ratu Salima atas nama Rahim putranya. “Aku juga ingin minta sesuatu kepada Ratu Jodha,” tukas Raja Jalal, “Yaitu minta maaf. Ratu Jodha, aku minta maaf kepadamu tidak menggubris apa yang kamu katakan sebelumnya. Kamu membuktikan diri sebagai Rajvanshi sejati. Tapi, aku sama sekali tidak bisa memberikanmu hadiah apapun. Hal itu bisa menjadi penghinaan bagimu, karena yang kamu lakukan tulus mempertaruhkan hidup demi aku.” Meski begitu, Raja Jalal menambahkan tengah membuat suatu kota untuk mengenang jasa-jasa yang diperbuat Ratu Jodha. Kota itu dinamai dengan Fatehpur, yang berarti “menang terhadap setiap kejahatan”.

“Terima kasih atas hadiah spesial yang Anda berikan Paduka,” Ratu Jodha berdiri dan mengucapkan terima kasih.

PM Maham memberikan provokasi kepada Ratu Ruqaiya mengenai ini semua, tapi Ratu Ruqaiya mengatakan jika Raja Jalal hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ratu Jodha. Satu hal lagi yang disampaikan Raja Jalal adalah keinginannya untuk pergi mengunjungi Imam Salim Chisti di Sikri selepas Ratu Jodha sembuh total. Keinginan Raja Jalal dulu sempat tertahan karena diserang oleh anak panah yang dilesatkan seseorang. Raja Jalal menatap Ratu Jodha yang tengah mesam-mesem.

Ibu Suri Hamida memberi usul supaya Raja Jalal tidak hanya mengajak Ratu Jodha saja, melainkan mengajak dua istri lainnya yang spesial, yaitu Ratu Ruqaiya dan Ratu Salima. Namun, Raja Jalal tidak menyahut dengan ide tersebut. Ratu Salima tersenyum melihatnya, sementara Ratu Ruqaiya menatap Ratu Jodha dengan perasaan dongkol.

*

Di kamarnya, Ratu Ruqaiya mengisap hokkah bertemankan Hoshiyar pelayan setianya. Dia lagi sensi dan teringat kata-kata PM Maham soal bagaimana Ratu Jodha telah mengambil alih posisinya dalam kehidupan Raja Jalal.

Dengan koplak Hoshiyar menawari Ratu Ruqaiya yang lagi sensi untuk mengisap hokkah. Sontak Ratu Ruqaiya meneriaki Hoshiyar! “Orang lain bisa memiliki ide bagus, seperti Ibu Suri yang meminta Raja Jalal mengajak turut serta tiga istri spesial Raja Jalal, kenapa kamu malah menawariku hokkah? Dasar pintar kamu ya!” pekik Ratu Ruqaiya.

*

Kepada para prajuritnya, Adham Khan meluapkan emosi jiwanya atas sikap Raja Jalal terhadapnya.

*

Ibu Suri Hamida dan Ratu Salima membicarakan tentang rencana Raja Jalal pergi ke Sikri bersama Ratu Jodha. Ibu Suri mengatakan bahwa dirinya ingin Raja Jalal tidak hanya mengajak Ratu Jodha seorang, melainkan mengajak tiga istri spesialnya. Ini bertujuan supaya Raja Jalal tidak kesepian. Dia yakin bila semua istrinya diboyong sekalipun ke sana, tetap saja Raja Jalal akan merasakan kesepian.

Ratu Salima setuju dengan usulan ide tersebut. Kemudian, Javeda datang dan menginformasikan jika Ratu Ruqaiya tidak ingin pergi ke Sikri bersama Raja Jalal dan dua istri spesial lainnya. Ibu Suri meyayangkan keputusan Ratu Ruqaiya itu. Namun mendadak Ratu Salima memiliki ide lain, dengan membiarkan Ratu Jodha dan Raja Jalal saja yang pergi. Waktu yang tepat untuk membuat keduanya saling berdekatan.

Kemudian, Ratu Salima berdiri untuk mengambil sesuatu di meja, ketika mendadak pura-pura kesakitan. Ibu Suri khawatir dan bertanya apa yang terjadi? Ratu Salima menjawab, “Entahlah, Ibu, mendadak badan saya merasa tidak enak. Sepertinya, saya tidak bisa berangkat ke Sikri bersama Raja Jalal dan Ratu Jodha.”

Ibu Suri menyadari jika Ratu Salima hanya berpura-pura sakit supaya tidak berangkat ke Sikri. Dia minta mengaku sajalah. Akhirnya, Ratu Salima mengaku. Dia merasa Ratu Jodha harus pergi dengan Raja Jalal saja. Namun, Ibu Suri berpendapat lain, walaupun ingin melihat Ratu Jodha dan Raja Jalal rukun, tetap dirinya khawatir keduanya akan cekcok di jalan. “Tidak, Ibu, Anda belum melihat perubahan apa yang terjadi dalam hubungan Raja Jalal dan Ratu Jodha,” sahut Ratu Salima.

*

Di kamarnya, Raja Jalal mengadakan pertemuan bersama Maan Singh, Mirza Hakim, Tuan Atgah Khan, serta PM Maham. Mereka mendiskusikan rencana perjalanannya ke Salim Christi di Sikri. Tuan Atgah Khan menilai tidak aman bagi Raja Jalal untuk plesir seperti itu. Pendapat senada diucapkan oleh Maan Singh, Mirza Hakim, dan PM Maham.

“Bila aku memang memiliki banyak musuh, haruskah aku duduk-duduk di istana mendekam ketakutan karena mereka?” tanya Raja Jalal kemudian. PM Maham mencoba menjelaskan jika keamanan raja-lah yang sangat diutamakan. Raja Jalal terdiam, merenungkan beberapa strategi yang akan ditempuhnya. Setelah dapat, dia berkata, “Baiklah, raja kalian takkan pergi ke manapun. Hanya rakyat biasa yang pergi plesiran tanpa bahaya.” Raja Jalal mengungkapkan bahwa strategi menyamar adalah jalan satu-satunya dia bisa ke Sikri tanpa masalah. Dia mengambahkan pernah ke Kerajaan Amer dengan cara menyamar seperti sekarang.

Tuan Atgah Khan setuju dengan ide tersebut. “Baiklah, Paduka,” sahut Tuan Atgah Khan, “Tapi biarkan beberapa orang prajurit menyertai perjalanan Anda dengan pakaian serupa.” Raja Jalal menyetujui usulan Tuan Atgah Khan.

*

Ratu Jodha dan Moti berdiri di dekat jendela. Dia menilai bulan yang bersinar terang malam ini memberinya ketenangan. Moti menggoda, “Ah, bukan bulannya yang memberikan Anda ketenangan, tapi ada sesuatu yang terjadi antara hubungan Anda dengan Paduka Jalal, jadi Anda menilainya berbeda.”

Merasa digoda oleh Moti, Ratu Jodha menyuruh Moti menutup mulutnya. Kemudian Raja Jalal datang menemui Ratu Jodha bersama dua pelayan yang membawa nampan berisi pakaian. Dia menjelaskan akan pergi ke Sikri dengan menyamar sebagai rakyat jelata demi keamanan dirinya.

Ratu Jodha merasa senang, karena istri spesial Raja Jalal bisa ikut serta semuanya. Namun, Raja Jalal mengatakan bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang turut serta bersamanya. Namun Ratu Jodha menegaskan dirinya akan pergi tak peduli apapun. “Kesehatanmu tidak mengizinkannya untuk ikut,” sahut Raja Jalal. Tetap saja Ratu Jodha ngeyel untuk ikut.

“Terlebih tak seorang pun dari istri spesial Anda ikut, maka saya harus ikut untuk mengurus Anda, Paduka.”

Raja Jalal menatap Ratu Jodha dalam-dalam. Dia kehilangan akal mencari alasan supaya Ratu Jodha tidak ikut serta. Lagipula, dia menyadari bahwa takkan pernah menang debat dengan Ratu Jodha.

Kemudian, Ibu Suri Hamida datang, tapi ketika melihat ada Raja Jalal di sana, dia mengatakan telah datang pada waktu yang salah. “Tidak amijaan, Anda justru datang di waktu yang tepat,” sahut Ratu Jodha, “Raja Jalal mengaku akan pergi seorang diri ke Sikri tanpa mengajak siapapun, termasuk saya.”

Raja Jalal menjawab jika dirinya akan pergi dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Maka, Ratu Jodha harus bisa melakukannya. Ibu Suri tersenyum, dan mengatakan kepada Ratu Jodha untuk menjadi perjalanan ini sebagai tantangan. Raja Jalal mengatakan kalau Ibunya dan Ratu Jodha berada di pihak yang sama, tak ada gunanya berdebat dengan mereka. Dia memutuskan pergi dari sana.

*

Keesokan hari, PM Maham buru-buru menemui Ratu Ruqaiya di kamarnya, dan malah menemukannya masih terlelap. Berulangkali PM Maham membangunkannya tetap Ratu Ruqaiya belum bangun – baru ketika PM Maham memercikkan air ke wajah Ratu Ruqaiya terbangun. “Ada apa? Kenapa berteriak pagi-pagi buta begini?” tanya Ratu Ruqaiya.

PM Maham menggeleng, tidak percaya dengan apa yang dilakukan Ratu Ruqaiya. Dia menjelaskan jika Raja Jalal dan Ratu Jodha semakin mendekat hubungannya, sementara Ratu Ruqaiya tersingkirkan. Sebab, Ratu Jodha memutuskan pergi bersama Raja Jalal ke Sikri. Mereka hanya berdua saja, karena Ratu Salima memutuskan tak turut serta.

Panaslah hati Ratu Ruqaiya. Dia bangkit dan mengatakan, “Takkan kubiarkan mereka hanya pergi berdua saja!” Lalu, dia memerintahkan Hoshiyar untuk memberitahu Raja Jalal bahwa dirinya jadi ikut. Hoshiyar hanya menatap Ratu Ruqaiya dengan tatapan tidak bersemangat. Ratu Ruqaiya menatap PM Maham, yang selanjutnya menjelaskan bahwa Raja Jalal dan Ratu Jodha sudah berangkat.

Ratu Ruqaiya tidak percaya. Dia menggeram dan berjanji takkan membiarkan Ratu Jodha merebut posisinya.

Selanjutnya baca: sinopsis 'Jodha Akbar' episode 171.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sinopsis 'Jodha Akbar' Episode 170

0 komentar:

Post a Comment