Tuesday, February 4, 2014

Sinopsis: Suckseed [Part 2]

Dalam Sinopsis SuckSeed Part 1, Ped menyesal tidak memberikan kaset rekaman pada Ern. Karena itu, dia hanya bisa memandangi pesawat yang ditumpangi Ern mengangkasa. Sampai beberapa tahun kemudian…

Baca juga: sinopsis 'SucKseed 2'.

Sinopsis SuckSeed [Part 2]

Di sebuah panggung sederhana tampak seorang pemuda tengah asik menyanyi diiringi bandnya. Para penonton cewek berteriak-teriak. Bintang yang digilai para cewek bukanlah penyanyinya, melainkan Key yang memegang gitar.

Cowok berpakaian hijau yang berada di deretan penonton juga ikutan larut. Kemudian, seorang cowok lain berpakaian putih bergaris-garis mendekatinya.

“Ini malam ramai banget,” ucap Kong.

“Mereka emang bagus kok,” sahut Ped. Tatapan matanya masih tertuju pada panggung.

Kong melihat-lihat sekeliling dan menemukan Key tak jauh dari tempatnya berdiri. Air raut wajah Kong berubah masam. Dia langsung menarik Ped menjauhi keramaian.

“Kemana?” tanya Ped.

“Pulang” jawab Kong, hatinya masih saja kesal.

Kemudian, seorang cewek berjalan tidak jauh dari tempat berdiri Kong dan Ped.

“Ped lihat cewek itu.”

“Siapa?” tanya Ped.

***

Keesokan hari di sebuah sekolah…

Di sebuah kelas, tiga orang siswa asyik memainkan kartu. Seorang siswa berkacamata masuk untuk mengajak anak-anak sekelas keluar kelas, termasuk Kong dan Key.

“Kalian cuma tahu bermain kartu saja” ucap Hun To Pai.

“Emang mau main apa lagi?” tanya Kong, dan masih tetap suntuk dengan kartu-kartu yang berada di tangannya.

“Keluar kelas lebih baik kan?”

“Aku lagi malas keluar. Aku nggak suka tersengat panas matahari…”

“Oiya, aku mendengar kabar jika Ern sudah pulang loh…” Hun To Pai berucap tiba-tiba.

“Aku nggak ada urusan sama Ern,” jawab Kong. Dia lalu meletakkan sebuah kartu di meja. Ped menatap keduanya.

Hun To Pai lalu mengajak Ped bersama Kong ke lapangan. Dan menunjuk seorang cewek berambut dikucir satu, kemudian mendekatinya. Kong dan Ped kaget sebab cewek yang ditunjuk Hun To Pai adalah cewek yang mereka lihat semalam.

“Benarkah itu dia?” tanya Kong pada Ped.

Ped tidak menjawab dan hanya bisa menganga. Teman cewek semasa SD-nya dulu telah menjelma menjadi sosok gadis cantik.

“Kau teman kecilku kan? Kau pasti Ped,” Ern berkata sambil mengingat-ingat.

“Kau masih mengingat dia ya? Terus dia siapa?” Hun To Pai bertanya kepada Ern dengan menunjuk Kong yang tersipu-sipu.

“Kau yang waktu kecil bandel itu kan? Aku mengingatmu,” tukas Ern. Kong malu, sebab Ern mengingatnya sebagai anak yang bandel.

“Kita udah terpisah lama banget nih,” Hun To Pai lalu menyanyikan sebuah lagu yang sempat membuat Ern menangis. Kong cepat-cepat membungkam mulut Hun To Pai. Ern justru tertawa melihat tingkah teman-teman kecilnya itu. “Aku ingat kok…” sahut Ern.

“Kalau dia… I Need U…”

“Hentikan!!!” teriak Ped.

Bel sekolah berbunyi, tanda waktu istirahat berakhir. Ern pamit pada ketiganya untuk masuk kelas.

“Cantik kan dia?” tanya Hun To Pai. Tapi, tidak menjawabnya dan justru tersenyum-senyum. Cinta monyet yang hilang kini ditemukannya kembali.

Ped berjalan di pasar sambil senyam-senyum. Sepasang earphone tertempel di telinganya. Dan… seperti biasanya, tiap kali soundtrack film ini diputar, penyanyi aslinya muncul. Bahkan, semua bunyi di pasar seolah-olah ikut bernyanyi bersama si penyanyi asli. *Hahaha*

Waktu Ped menghapus papan tulis, Kong menyatakan bila dirinya akan menggebet Ern. Karena itu, dia meminta bantuan Ped. Pernyataan Kong sontak membuat Ped terlonjak. Sebab, Ped juga menyukai Ern.

Disaat Ped sedang menghapus tulisan di papan tulis, Kong tiba-tiba datang dan mengatakan kalau dia akan mengejar Ern dan menyatakan cinta padanya. Untuk membantu usahanya, Kong meminta Ped untuk membantunya. Ped tentu saja terkejut karena dirinya juga menyukai Ern.

Semua usaha telah dicoba Kong, mulai dari berlatih bermain Yo Yo (Saat Kong bermain yoyo, bukannya yoyo berputar dengan baik malah berulang kali mengenai wajahnya), sepatu roda hingga dance, namun tak satupun yang berhasil.

Kong menggunting kartu sampai berbentuk seperti pick gitar. Kemudian menunjukkannya kepada Ped.

“Apa kau menyukai dia juga?” Kong tiba-tiba bertanya pada Ped yang lagi khusyuk membaca.

“Ah, tidak,” sahut Ped. Dan masih tertap berfokus pada buku.

“Yakin?” Kong bertanya sekali lagi. Ped lalu mengangkat wajahnya, kemudian menatap Kong.

Kong memperhatikan seorang anak di sekolahnya yang sedang bermain basket.

“Lihatlah… anak itu terlalu lambat. Payah!” tukas Kong. Kemudian, anak yang dibicarakan Kong berhasil menggiring bola dan menembak tepat ke dalam ring. “Keberuntungan seorang pemula. Aku juga bisa,” Kong terus mengoceh. Padahal, Ped sama sekali tak menggubrisnya.

“Tapi sepatunya…” Kong menepuk buku Ped, “Dia akan menembak…” Ped mulai memperhatikan anak yang dibicarakan Kong. “Lihat telapak tangannya. Dia akan tos dengan kawannya…” anak yang dibicarakan memang melakukan tos dengan kawannya karena berhasil menggiring bola sekali lagi. “Dia melakukan slam dunk!” Kong berteriak, membuat Ped tegang apakah bocah itu sukses memasukkan bola untuk ketiga kalinya. Sayangnya, loncatan bocah itu kurang tinggi. Kong dan Ped yang melihatnya teriak bersamaan, “Yah…”

“Sepertinya parah. Terus bagaimana?” Ped bertanya ketika bocah yang terjatuh itu berteriak kesakitan memegangi tangan kirinya yang patah tulang. Bocah itu bernama Ex.

“Entahlah…” Kong menyahut masgul.

Tidak lama kemudian, Hun To Pai woro-woro jika akan dihelat sebuah acara dimana Kong cs akan jadi bintang tamunya. Ped menatap Kong yang senyam-senyum sendiri. Yap, Kong memutuskan membuat sebuah band.

Di sebuah studio latihan…

Tiga anak muda tengah siap-siap latihan. Kong pada vokalis merangkap gitaris, Ped pada bass, dan Ex pada drum. Hari ini latihan yang mereka lakukan tidak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Ada banyak gangguan.

Ketiga anak ini kemudian berjalan di sebuah keramaian dan menemukan sebuah panggung. Kong punya ide untuk tampil di sana. Kedua kawannya kelihatan kawatir dan agak takut. Kong, Ped, dan Ex bersiap-siap memulai aksinya. Ern yang berada di tempat tersebut ngasih semangat kepada ketiga kawan itu.

Raungan gitar pun mulai terdengar. Semua penonton gempar. Sebab, lagu yang mereka mainkan tidak cocok untuk penonton yang terdiri dari anak-anak dan ibu-ibu. Mereka justru menangis ketakutan.

Hun To Pai memperlihatkan rekaman aksi panggung Kong cs kepada teman-teman sekelas. Membuat mereka terpingkal-pingkal.

“Bagaimana perasaan kalian sesudah beraksi di acara kemarin? Senang atau kesal?” Hun To Pai bertanya pada Kong, sambil menyalakan handycamnya untuk merekam wawancara tersebut.

“Jangan menggangguku!” Kong berkata dengan kesal.

“Kalian sungguh lucu. Hebat!”

Tunggu part 3-nya ya ^^

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Sinopsis: Suckseed [Part 2]

0 komentar:

Post a Comment